INDUSTRY.co.id - Jakarta - Kinerja industri manufaktur nasional kembali menunjukkan taringnya di awal tahun 2026. Sektor ini tak hanya tumbuh positif, tetapi juga menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Berdasarkan data triwulan I 2026, ekonomi Indonesia tercatat tumbuh sebesar 5,61 persen secara tahunan (year-on-year). Dari angka tersebut, sektor industri pengolahan masih mendominasi dengan kontribusi mencapai 19,07 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Tak berhenti di situ, industri manufaktur juga mencatat pertumbuhan sebesar 5,04 persen (y-o-y), sekaligus menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan kontribusi 1,03 persen, mengungguli sektor perdagangan, pertanian, hingga konstruksi.

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, capaian ini menunjukkan ketahanan kuat sektor manufaktur di tengah tekanan global.

“Kinerja industri manufaktur tetap solid karena adanya permintaan yang meningkat, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Ini menegaskan bahwa manufaktur masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional,” ujar Agus dalam keterangannya, Rabu (6/5/2026).

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto atas kebijakan pro-industri yang dinilai konsisten mendukung penguatan sektor manufaktur sekaligus melindungi tenaga kerja dalam negeri.

Sejumlah indikator turut menguatkan tren positif tersebut. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) sepanjang triwulan I 2026 tetap berada di zona ekspansi, yakni 54,12 pada Januari, 54,02 pada Februari, dan 51,86 pada Maret.

Selain itu, Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur (IKBM) versi BPS juga berada di level 51,37, menandakan mayoritas pelaku industri masih optimistis terhadap kondisi usaha saat ini maupun ke depan.

“Nilai di atas 50 menunjukkan fase ekspansi, baik dari sisi produksi maupun permintaan,” jelas Agus.

Pertumbuhan manufaktur turut didorong sejumlah subsektor andalan. Industri makanan dan minuman tumbuh 7,04 persen, dipicu lonjakan permintaan selama Ramadan dan Idulfitri serta peningkatan ekspor CPO dan CPKO.

Sementara itu, industri logam, komputer, elektronik, optik, dan peralatan listrik melesat hingga 10,35 persen, seiring meningkatnya permintaan global terhadap komponen elektronik dan baterai.

Di sisi lain, industri kimia, farmasi, dan obat tradisional juga tumbuh 7,41 persen berkat tingginya kebutuhan domestik dan ekspor.

Meski kinerja positif, pemerintah tak ingin berpuas diri. Agus menyoroti pentingnya meningkatkan rasio ekspor manufaktur tanpa mengorbankan pasar dalam negeri.

Saat ini, sekitar 80 persen output manufaktur masih diserap pasar domestik, sementara ekspor baru menyumbang 20 persen.

“Kita ingin meningkatkan kontribusi ekspor tanpa mengurangi porsi domestik. Perlindungan pasar dalam negeri tetap dijaga, tapi ekspansi ke pasar global harus ditingkatkan,” tegasnya.

Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan utilisasi produksi sekaligus memperluas penyerapan tenaga kerja.

Ke depan, pemerintah akan terus menggulirkan berbagai kebijakan strategis, termasuk stimulus dan insentif yang lebih tepat sasaran guna menjaga momentum pertumbuhan industri.

“Kami terus mengidentifikasi kendala di lapangan dan merumuskan solusi. Insentif menjadi kunci agar pertumbuhan manufaktur lebih cepat, berkualitas, dan berkelanjutan,” tambah Agus.