INDUSTRY.co.id - JAKARTA — Transformasi digital mulai menjadi kebutuhan mendesak di sektor properti komersial seiring meningkatnya kompleksitas pengembangan proyek di Indonesia. Tantangan yang dihadapi pengembang kini tidak lagi sebatas pada desain bangunan atau lokasi strategis, tetapi bergeser pada efektivitas eksekusi proyek di lapangan.

Di tengah pertumbuhan sektor properti komersial dan meningkatnya tuntutan investor terhadap transparansi serta tata kelola, sistem pengelolaan proyek yang masih mengandalkan metode konvensional dinilai semakin tidak relevan. Proses kerja yang terfragmentasi, persetujuan berbasis dokumen fisik, hingga keterlambatan pelaporan menjadi hambatan yang kerap memicu pembengkakan biaya dan molornya jadwal penyelesaian proyek.

Head of Project Management Colliers Indonesia, Rahmat Daresa Alam, menilai bahwa indikator keberhasilan proyek kini telah mengalami pergeseran signifikan. Menurut dia, kualitas desain dan lokasi memang tetap penting, tetapi aspek eksekusi menjadi penentu utama dalam menjaga daya saing proyek.

“Saat ini, proyek tidak lagi dinilai hanya dari segi kualitas desain atau lokasi. Proyek semakin dinilai dari seberapa baik pelaksanaannya, tepat waktu, sesuai anggaran, dan dengan akuntabilitas yang jelas. Oleh sebab itu, pengembang dan pemilik aset didorong untuk mengadopsi sistem manajemen konstruksi dan manajemen proyek digital guna meningkatkan efektivitas pelaksanaan dan pengawasan proyek,” ujar Rahmat, Senin (27/4).

Colliers Indonesia dalam kajian terbarunya bertajuk Traditional to Digital Project Management: Streamlined Workflows, Real-time Monitoring, Better Outcomes mencatat adanya jurang yang semakin lebar antara kebutuhan pengembangan properti modern dengan sistem manajemen proyek yang masih didominasi proses manual.

Kajian tersebut menyoroti sejumlah persoalan klasik yang masih menjadi hambatan utama di industri, mulai dari lambatnya proses persetujuan, keterbatasan visibilitas progres proyek di lapangan, hingga keterlambatan mendeteksi potensi pembengkakan biaya.

Kondisi ini dinilai menjadi risiko serius bagi pengembang, terutama ketika pasar properti komersial semakin kompetitif dan regulasi semakin ketat. Keterlambatan proyek bukan hanya berdampak pada sisi operasional, tetapi juga berpotensi menekan nilai aset dalam jangka panjang.

Implementasi perangkat lunak manajemen proyek disebut menjadi salah satu solusi untuk menjawab tantangan tersebut. Sistem digital memungkinkan seluruh dokumentasi, proses persetujuan, serta pelaporan terintegrasi dalam satu platform, sehingga memberikan visibilitas secara real-time terhadap perkembangan anggaran, jadwal, dan pengambilan keputusan.

Namun, Rahmat menekankan bahwa teknologi bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan transformasi.

Menurutnya, adopsi digital harus dibarengi dengan kepemimpinan yang kuat, tata kelola yang jelas, serta dukungan tenaga manajemen proyek yang berpengalaman agar sistem yang diterapkan benar-benar selaras dengan tujuan bisnis.

Dalam konteks bisnis properti, efisiensi proyek menjadi faktor yang sangat krusial karena berhubungan langsung dengan strategi komersialisasi aset, termasuk penyewaan dan pengelolaan investasi.

Ketika proyek gagal selesai sesuai target waktu dan anggaran, dampaknya bisa meluas pada penurunan kepercayaan investor serta terganggunya proyeksi pendapatan aset.

Dengan dinamika industri yang semakin kompleks, digitalisasi manajemen proyek kini bukan lagi sekadar opsi untuk meningkatkan efisiensi, melainkan strategi bisnis yang menentukan keberlanjutan dan nilai kompetitif aset properti di masa depan.