INDUSTRY.co.id - JAKARTA — PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan kesiapan pasokan dan produksi guna menangkap peluang ekspor pupuk urea di tengah dinamika pasar global. Meski demikian, perusahaan menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan dalam negeri tetap menjadi prioritas utama, terutama pada periode krusial musim tanam.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menegaskan, kebijakan ekspor akan dijalankan secara selektif sesuai arahan pemerintah. “Arahan dari Kementerian Pertanian melalui Pak Wakil Menteri Pertanian sangat jelas. Kita ekspor ketika kebutuhan dalam negeri cukup,” kata Rahmad seusai mendampingi Wakil Menteri Pertanian Sudaryono dalam pertemuan dengan Duta Besar India di Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Di tengah gejolak geopolitik global yang memicu gangguan rantai pasok pupuk, Pupuk Indonesia justru melihat peluang strategis. Sebagai salah satu produsen urea terbesar dunia, perusahaan dinilai memiliki kapasitas untuk mengambil peran sebagai penyeimbang pasokan global sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem pangan regional.
“Di tengah gejolak global, banyak orang selalu berpikir kita pasti rentan. Tapi ternyata di sektor industri pupuk kita itu kita tidak rentan, justru malah bisa mengambil posisi sebagai salah satu penyelamat ekosistem pangan regional. Karena kita bisa membantu negara-negara yang membutuhkan pupuk,” ujar Rahmad.
Peluang ekspor ini semakin terbuka seiring meningkatnya permintaan dari sejumlah negara akibat terganggunya distribusi global, termasuk imbas situasi di Selat Hormuz. Wakil Menteri Pertanian Sudaryono mengungkapkan, setidaknya empat negara telah menjalin komunikasi untuk mengimpor urea dari Indonesia, yakni Australia, India, Filipina, dan Brasil.
“Dengan adanya disrupsi ini, banyak negara membutuhkan urea. Indonesia memiliki keunggulan karena mampu memproduksi urea dari gas alam domestik, sehingga kita tidak bergantung pada impor untuk komoditas tersebut,” kata Sudaryono.
Meski demikian, Rahmad menegaskan ekspor tidak akan dilakukan pada saat kebutuhan domestik meningkat, khususnya di musim tanam. Pupuk Indonesia hanya akan mengeksekusi ekspor berdasarkan penugasan resmi pemerintah serta setelah memastikan ketersediaan pupuk bagi petani dalam negeri aman.
“Nah, kita tidak mungkin akan mengekspor ketika musim tanam. Itu tadi jelas dan Dubes India sudah menyepakati bahwa kita mengekspor di luar musim tanam,” ujarnya.
Dari sisi kapasitas, Pupuk Indonesia memiliki kemampuan produksi urea mencapai 9,4 juta ton per tahun, jauh di atas kebutuhan domestik yang berkisar 6–7 juta ton. Keunggulan ini ditopang oleh ketersediaan gas alam domestik yang dijamin pemerintah, baik dari sisi volume maupun harga.
Hingga 14 April 2026, total stok pupuk tercatat sekitar 1,2 juta ton, mencakup subsidi dan non-subsidi. Angka ini terus diperkuat oleh produksi harian yang mencapai sekitar 25 ribu ton untuk urea dan 15 ribu ton untuk pupuk NPK.
“Saat ini (stok kami) 1,2 juta ton. Jadi 1,2 juta ton ditambah dengan produksi kita yang setiap hari itu untuk urea saja sekitar 25 ribu ton per hari. Ditambah untuk NPK kita itu kira-kira sekitar 15 ribu ton per hari. Jadi sangat cukup,” kata Rahmad.
Di sisi lain, pemerintah tetap menjaga keterjangkauan pupuk bagi petani melalui kebijakan harga. Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi yang telah diturunkan 20% sejak Oktober 2025 dipastikan tetap berlaku, meski harga pupuk global berfluktuasi.
“Seperti yang sudah ditegaskan oleh Pak Mentan dan Wamentan, HET pupuk subsidi untuk petani akan tetap sama. Artinya ketika harga dunia naik, harga pupuk subsidi di Indonesia justru turun,” kata Rahmad.
Dengan kombinasi kapasitas produksi yang besar, jaminan bahan baku, serta kebijakan harga yang stabil, Pupuk Indonesia berada dalam posisi strategis untuk tidak hanya menjaga ketahanan pangan nasional, tetapi juga memperluas peran di pasar global.