INDUSTRY.co.id - Papua Tengah, Indonesia pernah memiliki salju? Bukan dongeng, bukan pula kisah dari negeri jauh. Salju itu nyata, berada di Papua, menyelimuti puncak gunung setinggi hampir 5.000 meter yang oleh masyarakat adat disebut Nemangkawi, dan dunia kenal sebagai Puncak Jaya atau Carstensz Pyramid.
Terletak dekat garis khatulistiwa, keberadaan salju di puncak ini adalah anomali alam yang langka. Dengan ketinggian 4.884 meter di atas permukaan laut, suhu di puncaknya cukup rendah untuk membekukan air dan membentuk gletser tropis, fenomena yang hanya ada di sedikit tempat di dunia. Puncak Jaya bukan hanya atap Indonesia, tetapi juga salah satu dari Seven Summits, tujuh puncak tertinggi di masing-masing benua.
Bagi suku Amungme, Nemangkawi adalah gunung suci. Ia bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang spiritual, sumber kehidupan, dan simbol keseimbangan kosmos. Namun kawasan ini juga berada di jantung salah satu tambang emas terbesar di dunia, yang dikelola oleh PT Freeport Indonesia. Aktivitas pertambangan skala besar telah mengubah lanskap pegunungan, memengaruhi aliran air, merusak tanah, dan memberi tekanan pada ekosistem dataran tinggi yang rapuh.
Di saat yang sama, ancaman yang lebih luas dan tak kasatmata bekerja perlahan namun pasti: krisis iklim global.
Jejak Sejarah Salju di Khatulistiwa
Keberadaan salju di Papua pertama kali dilaporkan pada 1623 oleh penjelajah Belanda, Jan Carstenszoon. Ia mengaku melihat puncak bersalju di wilayah tropis, laporan yang saat itu dianggap mustahil dan diragukan selama berabad-abad.
Baru pada 1909, ekspedisi yang dipimpin Hendrik Albert Lorentz mengonfirmasi keberadaan gletser tersebut. Penemuan ini kemudian mendorong perhatian ilmiah terhadap kawasan pegunungan Papua, yang kini dilindungi dalam wilayah Taman Nasional Lorentz.
Pendakian pertama ke salah satu puncaknya dilakukan pada 1936 oleh tim Belanda. Sementara puncak utama Carstensz Pyramid berhasil ditaklukkan pada 1962 oleh tim yang dipimpin Heinrich Harrer.
Setelah Papua menjadi bagian dari Indonesia, nama gunung ini sempat diubah menjadi Puncak Soekarno pada 1963, sebelum akhirnya ditetapkan sebagai Puncak Jaya, simbol kemenangan dan integrasi nasional.
Gletser yang Terus Menyusut
Namun hari ini, sejarah panjang itu berada di ambang babak akhir.
Data menunjukkan bahwa sekitar tahun 2010, ketebalan es di Pegunungan Jayawijaya masih mencapai sekitar 32 meter. Kini, ketebalannya tersisa hanya sekitar 4 hingga 8 meter. Sekitar 90 persen wilayah es yang dahulu menutupi sebagian besar puncak telah hilang.
Peneliti memprediksi bahwa salju tropis di Papua bisa lenyap sepenuhnya pada tahun 2026. Laporan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika pada 24 Maret juga menunjukkan bahwa laju pencairan terjadi lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.
Pemanasan global menjadi penyebab utama. Kenaikan suhu rata-rata mempercepat pencairan es. Fenomena El Niño turut memperburuk keadaan dengan meningkatkan suhu dan mengubah pola presipitasi. Kini, hujan lebih sering turun dibandingkan salju, membuat akumulasi es baru hampir tidak mungkin terjadi.
Kehilangan yang Lebih dari Sekadar Es
Puncak Jaya adalah satu-satunya wilayah di Indonesia yang memiliki salju abadi. Hilangnya gletser ini bukan hanya kehilangan simbol geografis, tetapi juga kehilangan warisan ilmiah, ekologis, dan spiritual.
Bagi ilmuwan, gletser tropis adalah arsip iklim purba yang menyimpan rekaman perubahan atmosfer selama ribuan tahun. Bagi pendaki, ia adalah kebanggaan dan tantangan ekstrem di negeri khatulistiwa. Bagi masyarakat adat, ia adalah bagian dari identitas dan keseimbangan hidup.
Jika prediksi itu benar, maka generasi setelah 2026 mungkin hanya akan mengenal salju Papua melalui foto dan catatan sejarah.
Indonesia pernah memiliki salju. Dan kini, kita sedang menyaksikan bab terakhirnya.