INDUSTRY.co.id - Jakarta — Perusahaan manufaktur global, A&E menatap tahun 2026 dengan strategi yang berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Setelah sepanjang 2025 fokus pada penguatan fondasi bisnis, konsolidasi operasional, serta peningkatan kapasitas produksi, tahun ini A&E mulai mengarahkan perhatian pada percepatan pertumbuhan (growth), khususnya di segmen footwear dan apparel.
Presiden Director A&E, Sanjay Chandraratna menjelaskan bahwa 2025 menjadi fase penting untuk membangun kesiapan dari sisi “back-end”, termasuk peningkatan kapasitas dan efisiensi manufaktur guna mendukung penguatan bisnis di sisi depan (front-end) dan brand positioning.
“Pada 2025 kami memperkuat bisnis, mengonsolidasikan operasi, serta meningkatkan jejak brand. Di 2026, fokus kami adalah menepati komitmen kepada pelanggan dan mendorong pertumbuhan,” ujar Sanjay di Bogor (18/1).
A&E menegaskan bahwa pasar utama industri peralatan, apparel, dan produk pendukung (backpack) secara global masih didominasi Amerika Serikat, meski Eropa dan Jepang menunjukkan pertumbuhan. Indonesia tetap memainkan peran penting sebagai bagian dari jaringan manufaktur global A&E yang tersebar di lebih dari 100 negara dengan 29 fasilitas produksi di seluruh dunia.
“Kami kuat di tiga divisi: apparel, backpack, dan footwear. Bisnis sepatu mulai kami kembangkan sejak akhir 2025 dan akan terus tumbuh signifikan di 2026,” jelasnya.
Meski beroperasi di Indonesia, A&E menegaskan tidak akan mengalihkan fokus ke pasar domestik. Sebagai perusahaan industri global, A&E tetap berorientasi pada ekspor dan mendukung kebutuhan merek-merek internasional.
“Kami tidak akan masuk ke pasar lokal jika tidak terkait dengan kebutuhan ekspor. Setiap negara dalam grup A&E berlomba untuk mencapai performa terbaik,” kata Sanjay.
Ekspansi Kapasitas Tetap Berjalan
A&E memastikan rencana ekspansi tetap berjalan pada 2026, menyesuaikan dengan permintaan pasar global dan kebutuhan respons yang lebih cepat dari industri fashion. Ekspansi dilakukan baik dalam skala kecil untuk menjawab siklus fashion yang pendek, maupun ekspansi berskala besar di area manufaktur.
“Permintaan pasar menjadi pemicu ekspansi. Dengan lead time yang makin pendek, kebutuhan kapasitas tambahan menjadi keniscayaan,” ujarnya.
Terkait tantangan, A&E menilai kondisi 2026 relatif lebih stabil dibandingkan 2025 yang diwarnai tekanan tarif dan ketidakpastian global. Dengan meredanya tantangan eksternal, perusahaan optimistis dapat lebih fokus pada pencapaian target pertumbuhan.
“Kami melihat tantangan sebagai peluang. Indonesia sudah terbiasa melewati tantangan, dan kami siap tumbuh,” kata Managing Director South Asia A&E, Angelo Leanage.
Unggulan Produk Berkelanjutan dan Daur Ulang
Di sisi produk, A&E menegaskan posisinya sebagai pemimpin global dalam keberlanjutan (sustainability). Hampir seluruh portofolio produk A&E kini berbasis material daur ulang, dengan pengembangan konsep sirkularitas yang terus diperluas melalui kolaborasi bersama berbagai brand global.
“Kami memiliki target pengurangan konsumsi air dan jejak karbon secara global, dan pencapaiannya sudah berjalan sesuai rencana menuju 2030,” ungkapnya.
A&E juga menyiapkan peluncuran produk baru berbasis material ramah lingkungan, termasuk produk dengan identitas warna khas yang akan diperkenalkan dalam waktu dekat.
“Keberlanjutan bukan tren, tetapi inti dari strategi bisnis kami. Dibanding kompetitor, kami sudah memulainya beberapa tahun lebih awal,” tegasnya.
Dengan strategi yang lebih fokus pada inovasi, kebutuhan pelanggan, dan pertumbuhan berkelanjutan, A&E optimistis dapat memperkuat posisinya di industri global sepanjang 2026 dan seterusnya.