INDUSTRY.co.id - Bandung - Industri otomotif nasional masih dibayangi ketidakpastian di tahun 2026. Meski ada potensi pertumbuhan, tantangan besar justru datang dari faktor global, likuiditas, hingga daya beli masyarakat.
Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam meniulai dan memproyeksi industri otomotif nasional masih sangat sulit dipastikan di tahun 2026.
Menurut Bob, penjualan otomotif sangat ditentukan oleh tiga faktor utama, yakni kebijakan pemerintah, kondisi likuiditas, serta daya beli masyarakat. Namun saat ini, faktor positif dan negatif bergerak bersamaan tanpa arah yang benar-benar jelas.
“Kalau bicara 2026, sangat sulit diprediksi. Minus dan plus faktornya campur aduk dan bergerak bersamaan,” kata Bob Azam di Bandung (8/1).
Bob juga menyoroti kebijakan Quantitative Easing (QE) yang mulai dilakukan negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan China. Kebijakan pencetakan uang ini biasanya mendorong aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Kalau sudah printing money, kapital biasanya mengalir deras ke emerging market. Stock market bisa hijau royo-royo,” jelasnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa euforia tersebut cenderung bersifat sementara. Dalam jangka satu hingga dua tahun, risiko pembalikan arah ekonomi tetap mengintai dan bisa berdampak lebih dalam.
Harga Komoditas Jadi Penentu Utama
Bob menegaskan bahwa harga komoditas masih menjadi penggerak utama ekonomi Indonesia. Jika harga komoditas melemah, penerimaan pajak akan turun dan tekanan terhadap ekonomi nasional akan semakin berat. “Indonesia itu sangat ditentukan oleh harga komoditas,” katanya.
Selain itu, ketegangan geopolitik global pun bisa menjadi pedang bermata dua. Jika konflik mendorong kenaikan harga komoditas, dampaknya bisa positif bagi Indonesia. Namun sebaliknya, jika konflik menekan ekonomi global dan menurunkan permintaan, Indonesia justru berisiko terdampak lebih besar.
Tantangan lain datang dari sektor keuangan. Pertumbuhan kredit perbankan terus melambat. Jika sebelumnya pertumbuhan kredit bisa mencapai dua digit hingga 20 persen, kini angkanya turun ke kisaran 7 persen. Padahal, industri otomotif sangat bergantung pada pembiayaan. Sekitar 70–80 persen pembelian kendaraan dilakukan melalui kredit.
“Kalau laju kredit melambat, ini jadi perhatian serius buat industri otomotif,” tegas Bob.
Untuk segmen menengah, masalah utama adalah kesehatan finansial. Banyak konsumen ingin membeli mobil, tetapi kondisi keuangannya tidak cukup kuat sehingga perbankan enggan menyalurkan kredit.
Sementara itu, segmen menengah atas sebenarnya memiliki dana, namun keputusan belanja mereka sangat ditentukan oleh confidence atau kepercayaan terhadap kondisi ekonomi.
“Kalau tingkat tabungan mereka naik, itu tandanya confidence rendah dan belanja akan ditahan. Indikator sederhana bahkan bisa terlihat dari aktivitas gaya hidup. Biasanya kelihatan, lapangan golf mulai sepi,” tambah Bob.
Bob menegaskan bahwa tidak ada pihak yang benar-benar bisa memastikan kondisi industri otomotif pada 2026. Namun satu hal yang paling menentukan adalah arah harga komoditas.
“Kalau harga komoditas turun, ekonomi kita akan makin sulit. Kalau naik, peluangnya lebih baik,” pungkasnya.
Dengan berbagai faktor global dan domestik yang bergerak dinamis, pelaku industri otomotif dituntut tetap waspada sekaligus adaptif menghadapi tahun-tahun penuh ketidakpastian ke depan.