INDUSTRY.co.id, Jakarta-Industri minuman siap saji global terus berkembang seiring perubahan gaya hidup konsumen yang semakin mengedepankan kesehatan, kepraktisan, serta latar belakang cerita di balik sebuah produk.

Advertisement

Dalam dinamika tersebut, sejumlah merek lokal mulai melihat peluang untuk memperluas jangkauan ke pasar internasional, termasuk dari Bali.

Salah satu inisiatif yang tengah disiapkan datang dari COCO BALI, minuman ready to drink yang dikembangkan dengan membawa identitas Bali sebagai bagian dari pendekatan produknya. Produk ini dirancang untuk menjawab tren global, khususnya di segmen konsumen yang mencari minuman praktis dengan karakter rasa yang lebih ringan dan berbasis bahan alami.

Advertisement

COCO BALI merupakan hasil kolaborasi antara PT Lovina Beach Brewery Tbk dan COCO BALI PTE LTD yang berbasis di Singapura. Kerja sama ini tidak hanya menghadirkan satu produk, tetapi juga mencakup pengembangan tiga merek yang ditujukan untuk segmen pasar berbeda, dengan fokus utama pada ekspansi internasional.

Selain COCO BALI RTD, kolaborasi tersebut juga mencakup CLARISSA Liqueur dan LIBARRON Whisky. Ketiga produk ini dikembangkan dengan pendekatan yang serupa, yaitu pemanfaatan bahan baku lokal, proses produksi yang disesuaikan dengan standar global, serta positioning untuk konsumen internasional yang mencari produk dengan latar cerita yang jelas.

Advertisement

Direktur Utama PT Lovina Beach Brewery Tbk, Bona Budhisurya, menyampaikan bahwa langkah ini sejalan dengan prospek industri makanan dan minuman nasional yang masih menunjukkan tren pertumbuhan.

Ia menjelaskan bahwa perubahan pola konsumsi masyarakat urban turut mendorong pengembangan produk ini. Urbanisasi, mobilitas yang semakin tinggi, serta meningkatnya kesadaran terhadap gaya hidup sehat memengaruhi preferensi konsumen terhadap minuman yang lebih praktis dan transparan dari sisi bahan.

Advertisement

“Konsumen sekarang semakin selektif. Faktor seperti kandungan gula, bahan baku, dan fungsi produk menjadi pertimbangan utama,” ujarnya dalam konferensi pers peluncuran produk di Bali, Sabtu (27/12/2025).

COCO BALI RTD dikembangkan menggunakan bahan alami dengan varian sparkling agave dan golden salak berbasis coconut kopyor. Sejumlah bahan baku diperoleh dari perkebunan agave yang dikelola PT Lovina Beach Brewery Tbk di kawasan Nusa Penida, Bali. Pendekatan ini juga dimaksudkan untuk menjaga keterkaitan produk dengan daerah asalnya.

Creative Director COCO BALI RTD, Natalia Sumasto Tjia, mengatakan bahwa pengembangan produk dilakukan dengan mempertimbangkan pengalaman konsumen secara menyeluruh.

“Kami ingin menghadirkan rasa yang familiar dengan Bali, tetapi dikemas dalam format yang sesuai dengan gaya hidup modern,” katanya.

Dari sisi distribusi, COCO BALI RTD tidak hanya menyasar ritel modern. Produk ini juga diarahkan ke sektor hospitality seperti hotel, beach club, serta travel retail, yang dinilai efektif untuk menjangkau konsumen internasional yang berkunjung ke Bali.

CLARISSA Liqueur dikembangkan untuk segmen minuman beralkohol premium dengan pendekatan rasa yang lebih ringan. Produk ini menyasar konsumen yang mencari alternatif dengan karakter yang lebih halus. Sementara itu, LIBARRON Whisky dikembangkan sebagai produk spirit yang diproduksi di Bali dengan pendekatan kolaboratif di pasar global.

LIBARRON sempat memperoleh perhatian setelah mencatatkan penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia atas kolaborasinya dengan Museum Van Gogh melalui edisi terbatas bertema Starry Night. Produk edisi terbatas tersebut diproduksi sebanyak 1.889 botol untuk pasar global.

Inisiatif ini menunjukkan upaya untuk memperluas peran Bali, tidak hanya sebagai destinasi pariwisata, tetapi juga sebagai basis produksi untuk produk minuman yang ditujukan ke pasar internasional. Dengan pendekatan produk yang tersegmentasi dan jaringan distribusi yang mulai dibangun, ketiga merek ini mencerminkan strategi produsen lokal dalam merespons peluang pasar global.