INDUSTRY.co.id - Jakarta — Sejumlah pabrikan otomotif menilai industri kendaraan bermotor nasional masih membutuhkan dorongan kebijakan pemerintah, khususnya melalui insentif fiskal, di tengah kondisi pasar yang belum menunjukkan pemulihan signifikan sepanjang tahun berjalan.

Marketing Director PT Toyota-Astra Motor (TAM) Jap Ernando Demily menyatakan bahwa pengalaman sebelumnya membuktikan kebijakan insentif mampu menjadi katalis penting pemulihan pasar otomotif nasional. 

Ia mencontohkan relaksasi Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) pada 2021 yang berhasil mendorong kenaikan penjualan mobil hingga 66,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Menurut Ernando, kondisi pasar saat ini memiliki kemiripan dengan periode tersebut, di mana permintaan belum sepenuhnya pulih dan produksi dalam negeri perlu dijaga agar tetap berkelanjutan.

“Secara historis, insentif fiskal menjadi salah satu kebijakan krusial untuk menstimulasi pertumbuhan market. Berkaca pada kondisi saat ini, market masih belum mengalami pertumbuhan positif, sehingga intervensi stakeholder masih sangat dibutuhkan untuk mendorong produksi dalam negeri dan membangun industri otomotif secara komprehensif dari hulu ke hilir,” ujar Ernando.

Ia juga menekankan pentingnya evaluasi terhadap arah kebijakan insentif yang saat ini berjalan, khususnya pada model kendaraan elektrifikasi. Menurutnya, insentif tidak hanya ditujukan untuk mendorong penjualan jangka pendek, tetapi juga harus memperkuat fondasi industri otomotif nasional secara menyeluruh.

Pandangan serupa disampaikan Marketing Director PT Honda Prospect Motor (HPM) Yusak Billy. Ia menilai insentif dapat membantu konsumen dalam mengambil keputusan pembelian, terutama ketika pasar sedang melemah. Namun demikian, capaian penjualan dalam skala besar tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat.

“Honda melihat insentif sebagai salah satu faktor yang dapat mendorong permintaan. Namun pencapaian volume penjualan hingga satu juta unit tetap perlu dikaji lebih lanjut karena dipengaruhi banyak variabel. Insentif pemerintah dapat membantu menjaga momentum industri saat pasar melemah,” kata Billy.

Dia menambahkan, pelaku industri optimistis pemerintah memiliki pertimbangan matang dalam menentukan arah dan bentuk insentif agar sejalan dengan tujuan jangka panjang, termasuk mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Sementara itu, pabrikan asal China yang telah melakukan perakitan kendaraan di Indonesia, Jetour menilai insentif yang langsung menyasar konsumen akan memberikan dampak cepat terhadap penjualan. 

Marketing Director PT Jetour Sales Indonesia Moch Ranggy Radiansyah mengatakan, insentif langsung dinilai efektif di tengah kondisi daya beli masyarakat yang masih cenderung berhati-hati.

“Kalau insentif yang dampaknya langsung ke konsumen, tentu akan ada efek langsung ke penjualan. Namun secara umum, Jetour mendukung kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan penguatan industri,” ujar Ranggy.

Ia juga menyinggung wacana mobil nasional yang kembali mengemuka. Menurut Ranggy, pihaknya masih memantau perkembangan kebijakan pemerintah serta potensi dampaknya terhadap pasar otomotif nasional.

“Soal mobil nasional masih dalam pembahasan dan kami terus memonitor dampaknya. Saat ini masih dalam diskusi internal,” tutupnya.