INDUSTRY.co.id - Jakarta – Keramaian pameran otomotif yang kerap disesaki pengunjung tidak dapat dijadikan tolok ukur bahwa industri kendaraan nasional sedang tumbuh ekspansif. Akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menegaskan bahwa pameran bersifat sesaat dan lebih mencerminkan gaung promosi ketimbang kekuatan fundamental industri otomotif Indonesia.

“Pameran lebih menggambarkan potensi minat pasar, promosi, dan banjir diskon. Itu bukan indikator utama kinerja ekonomi riil,” ujar Yannes di Jakarta (30/11)

Menurutnya, kesehatan industri otomotif harus dilihat melalui parameter yang lebih komprehensif, mulai dari penjualan ritel dan wholeslaes, kinerja ekspor, tingkat produksi, NPL lembaga pembiayaan, hingga daya beli dan kontribusi terhadap PDB.

Yannes menilai industri otomotif saat ini tengah dalam fase peurunan. Dalam satu dekade terakhir, penjualan mobil Indonesia tidak beranjak dari kisaran satu juta unit. Bahkan, pada tahun lalu angkanya hanya sekitar 865 ribu unit.

“Indikator yang lebih mencerminkan kinerja adalah sales domestik dan ekspor, realisasi TKDN komponen teknologi tinggi, investasi manufaktur, serta kekuatan pembiayaan,” katanya.

Yannes mengingatkan bahwa tahun 2026 berpotensi lebih berat jika pemerintah tidak menyiapkan stimulus fiskal seperti PPN DTP atau PPnBM DTP untuk menjaga daya beli masyarakat.

“Jika daya beli masih serendah 2025 dan tidak ada insentif, tekanan industri otomotif bisa lebih negatif,” kata Yannes.

Menurutnya, insentif bukan hanya menguntungkan produsen (APM). Pada fase awal, konsumen justru menerima manfaat langsung melalui penurunan harga, yang kemudian memicu kenaikan permintaan dan menggerakkan manufaktur serta rantai pasok.

Sementara itu, Pengamat otomotif Bebin Djuana meminta pemerintah meninjau ulang kebijakan pajak agar industri tidak kembali terpuruk seperti beberapa tahun lalu. “Sebaiknya ditinjau ulang. Kalau tidak, kita bisa menghadapi jilid kedua keterpurukan industri otomotif tahun depan,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa pameran otomotif tidak selalu mencerminkan pasar nyata. Keramaian pengunjung sering hanya terjadi pada beberapa merek tertentu, sementara transaksi tetap menjadi indikator paling jujur. “Cermati ruang transaksinya. Saat ini daya beli kelas menengah bawah masih lemah,” ujarnya.

Dukungan terhadap insentif juga datang dari komunitas pengguna kendaraan. President ID42NER (Toyota Fortuner Indonesia), Djoko Wiyono, menyebut kebijakan fiskal sangat dibutuhkan masyarakat agar harga kendaraan kembali terjangkau. “Harga kendaraan semakin sulit dijangkau. Insentif ini sangat penting untuk memulihkan pasar,” katanya.

Menurut Djoko, akses kendaraan yang lebih murah bukan hanya gaya hidup, melainkan kebutuhan mobilitas bagi keluarga dan pekerjaan. Industri otomotif juga memiliki ekosistem ekonomi luas yang melibatkan ribuan tenaga kerja.

“Kebijakan ini akan memberi efek berantai, mulai dari industri komponen, bengkel, hingga perluasan lapangan kerja. Kami berharap implementasinya tepat sasaran,” ujarnya.

Dukungan terhadap rencana pemberian insentif juga datang dari berbagai komunitas otomotif. Founder Xpander Mitsubishi Owners Club (X-MOC) Sonny Eka Putra mengatakan, insentif seharusnya melihat kebutuhan tiap segmen secara spesifik, bukan diberlakukan secara menyeluruh. Dukungan fiskal dari pemerintah harusnya menyasar kendaraan untuk kelas menengah ke bawah.

"Kalau saya ngelihatnya case by case. Ini sebetulnya juga berlaku untuk mobil listrik. Maksudnya insentif itu diperlukan untuk mobil kalangan menengah ke bawah biar tepat sasaran. Kalau yang di segmen atas itu nggak wajib malah," tuturnya.

Sonny mencontohkan, mobil hybrid yang pada umumnya memiliki harga lebih tinggi, rasanya wajar jika tidak diberi insentif. "Mobil hybrid saja sebetulnya harganya biasanya lebih mahal. Baru yang kemarin keluar Veloz harganya di bawah Rp 300 juta. Tapi yang pasti mobil menengah ke atas itu memang jangan sampai ada insentif, karena dianggap mereka (konsumen) mampu membeli," imbuhnya.

Hal senada juga disampaikan Ketua Dewan Pengawas Calya Sigra Club (Calsic) Ryan Cayo. Ia menilai insentif otomotif tidak semata-mata "diskon" bagi produsen, melainkan stimulus untuk menjaga pergerakan ekosistem otomotif dari hulu ke hilir.

"Komunitas melihat bahwa wacana insentif, apapun bentuknya, idealnya tidak hanya dilihat sebagai 'diskon' bagi industri, tetapi sebagai stimulus untuk menjaga daya beli masyarakat dan memastikan ekosistem otomotif tetap bergerak. Ketika pemerintah menyampaikan sinyal berbeda, hal itu membuat pelaku usaha hingga konsumen lebih berhati-hati dan ini bisa makin memperlambat pemulihan pasar," kata Cayo.

Kebijakan insentif yang timpang dan tidak pasti justru berimbas ke psikologi pasar. Konsumen memilih menunda keputusan membeli mobil, termasuk di pasar mobil bekas, karena menunggu apakah akan ada insentif baru atau perubahan regulasi.

"Bahkan termasuk saya di bidang mobil bekas, itu banyak orang yang jadi nunda pembelian. Kalau di mobil tekas kita ada penurunan mungkin sekitar 10-20 persen," ungkap Owner Indigo Auto Yudy Budiman.

Industri Otomotif Punya Efek Bola Salju

Investasi manufaktur otomotif tercatat mencapai Rp 143,91 triliun untuk kendaraan roda empat dan Rp 30,4 triliun untuk sepeda motor, total sekitar Rp 174 triliun. Namun para pengamat menilai dukungan fiskal masih minim. Jika pemerintah mampu menjaga momentum industri, target penjualan 2 juta unit per tahun dipandang bukan sekadar mimpi.