INDUSTRY.co.id - Jakarta – Empat perempuan peneliti Indonesia kembali mengharumkan nama bangsa di kancah ilmiah internasional melalui penghargaan bergengsi L’Oréal–UNESCO For Women in Science (FWIS) 2025.
Mereka adalah Dr. Maria Apriliani Gani dan Helen Julian, Ph.D. dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr.rer.nat. Lutviasari Nuraini dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Anak Agung Dewi Megawati, Ph.D. dari Universitas Warmadewa.
Keempat ilmuwan perempuan ini terpilih dari 150 pendaftar—jumlah tertinggi dalam lima tahun terakhir. Masing-masing menerima pendanaan riset senilai Rp400 juta, kesempatan berjejaring dengan komunitas ilmuwan dunia, serta dukungan untuk mengembangkan riset yang berdampak bagi masyarakat.
Program FWIS, hasil kolaborasi antara L’Oréal Indonesia dan UNESCO, telah berlangsung selama lebih dari dua dekade untuk memperkuat kiprah perempuan dalam bidang sains. Tahun ini, tema besar yang diusung menyoroti sains, kolaborasi, dan kebermanfaatan, dengan fokus pada riset berakar pada potensi lokal dan keberlanjutan lingkungan.
1. Dr. Maria Apriliani Gani – Institut Teknologi Bandung
Maria mengembangkan model seluler untuk terapi osteoporosis berbasis tanaman obat lokal tanpa menggunakan hewan uji (animal testing). Pendekatan ramah lingkungan ini diharapkan memperkuat saintifikasi jamu dan menjadi solusi alami bagi kesehatan tulang perempuan di usia lanjut.
2. Dr.rer.nat. Lutviasari Nuraini – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Lutviasari meneliti material implan mampu luruh berbasis paduan magnesium (Mg–Zn–Nd) yang berfungsi membantu regenerasi tulang. Penelitiannya mendukung kemandirian produksi implan nasional serta memanfaatkan sumber daya alam Indonesia secara berkelanjutan.
3. Anak Agung Dewi Megawati, Ph.D. – Universitas Warmadewa
Dewi mengembangkan terapi mRNA antivirus spektrum luas untuk mengatasi penyakit tropis yang ditularkan nyamuk, termasuk demam berdarah dengue. Kolaborasinya dengan University of California, Davis memperkuat kapasitas bioteknologi medis Indonesia.
4. Helen Julian, Ph.D. – Institut Teknologi Bandung
Helen menciptakan sistem terpadu Membrane Photobioreactor–Nanofiltration (MPBR–NF) untuk mengolah limbah cair pabrik kelapa sawit (POME) menjadi bioenergi dan bahan pangan. Inovasinya sejalan dengan konsep ekonomi sirkular dan bio-based economy yang mendukung industri hijau nasional.
Ketua Dewan Juri FWIS 2025, Prof. dr. Herawati Sudoyo, mengungkapkan bahwa peningkatan jumlah peserta menunjukkan semakin kuatnya semangat kolaboratif di kalangan perempuan peneliti.
“Mayoritas proposal yang kami terima berakar pada potensi lokal dan keanekaragaman hayati Indonesia. Penelitian yang berhasil adalah penelitian yang kolaboratif,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Christie, menegaskan pentingnya memperkuat partisipasi perempuan dalam bidang sains dan teknologi.
“Perempuan memiliki kemampuan yang sama dengan laki-laki dalam bidang sains dan matematika. Ini bukan sekadar persoalan kesetaraan, tetapi juga soal ekonomi—negara akan merugi jika tidak memanfaatkan potensi terbaik bangsanya,” tegasnya.
Presiden Direktur L’Oréal Indonesia, Benjamin Rachow, menegaskan bahwa penelitian dan inovasi adalah fondasi dari semangat perusahaan.
“Kami percaya dunia membutuhkan sains, dan sains membutuhkan perempuan. Melalui FWIS, kami ingin memberi ruang bagi ilmuwan perempuan Indonesia untuk bersinar dan berkontribusi nyata,” katanya.
Sejak hadir di Indonesia lebih dari 22 tahun lalu, program FWIS telah mendukung 79 perempuan peneliti dari berbagai disiplin ilmu. Para alumninya kini aktif menjadi mentor bagi lebih dari 1.400 peneliti muda, memperkuat masa depan sains Indonesia melalui jejaring lintas generasi.
Melanie Masriel, Chief of Corporate Affairs, Engagement, and Sustainability PT L’Oréal Indonesia, menambahkan bahwa FWIS bukan sekadar penghargaan, melainkan wadah kolaborasi berkelanjutan.
“Dari sini lahir penelitian yang aplikatif, berdampak, dan membawa perubahan positif bagi masyarakat,” ujarnya.
Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN, H.E. Fabien Penone, turut memberikan penghargaan kepada para ilmuwan penerima FWIS 2025. Ia menegaskan bahwa kesetaraan gender dan keberagaman adalah fondasi bagi kemajuan sains global.
“Program ini membantu banyak perempuan menembus batas dan menjadi pemimpin di bidangnya,” ujarnya.