INDUSTRY.co.id - Jakarta – Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) menilai pasokan dan harga gas bumi masih menjadi pekerjaan rumah (PR) utama pemerintah untuk menjaga daya saing industri manufaktur dalam negeri. 

Hingga saat ini, volume pemakaian gas bagi industri di Jawa Barat dan Jawa Timur masih terbatas pada kisaran 55–60 persen dari kebutuhan riil.

“Asosiasi melihat suplai gas ini masih menjadi persoalan krusial. Di Jawa Barat baru sekitar 60 persen, dan di Jawa Timur 55 persen. Kondisi ini jelas berpengaruh terhadap daya saing industri nasional,” ujar Ketua ASAKI, Edy Suyanto dalam keterangannya di Jakarta (11/11).

Menurutnya, pembatasan volume tersebut membuat biaya energi industri meningkat signifikan.

“Kalau volume kita hanya 60 persen yang mendapat harga gas HGBT sebesar 7 dolar per MMBTU, sisanya 40 persen harus dibeli dengan harga pasar sekitar 15,34 dolar. Rata-ratanya jadi sekitar 10 dolar per MMBTU, artinya sudah naik sekitar 40 persen dari harga sebelumnya,” paparnya.

ASAKI menyoroti tren yang berlawanan dengan negara tetangga di kawasan Asia Tenggara. Dalam pertemuan asosiasi keramik se-ASEAN di Malaysia baru-baru ini, terungkap bahwa harga gas di Malaysia dan Thailand justru mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

“Malaysia melaporkan harga gas mereka turun dari 10,05 dolar menjadi 9,6 dolar per MMBTU tahun ini. Thailand juga sama, dalam tiga tahun terakhir turun menjadi 9,9 dolar. Sementara di Indonesia, tren harga justru meningkat, padahal kita ini produsen gas,” tegasnya.

Kondisi tersebut membuat biaya produksi di Indonesia menjadi jauh lebih tinggi dibandingkan negara tetangga. 

“Padahal dengan kebijakan anti-dumping dan safeguard yang sudah berjalan, seharusnya momen ini bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi dalam negeri, membuka lapangan kerja, dan memperluas ekspansi industri,” katanya.

Namun, peluang itu disebut tidak akan optimal jika pasokan gas tidak lancar dan harganya tidak kompetitif. ASAKI mengusulkan agar pemerintah memberikan porsi pemakaian gas dengan harga HGBT hingga 85 persen, dan sisanya 15 persen menggunakan harga pasar.

“Dengan skema itu, rata-rata harga gas bisa di sekitar 8 dolar per MMBTU. Di level itu, industri masih bisa berdaya saing,” jelasnya.

ASAKI berharap pemerintah menaruh perhatian serius terhadap isu energi industri ini, terutama menjelang implementasi program pembangunan 3 juta unit rumah pada 2026. 

“Kalau sektor hulu seperti keramik bisa efisien, maka pembangunan perumahan rakyat juga akan berjalan lebih cepat dan lebih murah,” pungkasnya.