INDUSTRY.co.id-Di era hiperkoneksi, menggulir layar telah menjadi kebiasaan refleks—bahkan sebelum kita benar-benar terjaga di pagi hari. Namun, semakin sering kita scroll, semakin jarang kita merasa utuh. Yang muncul justru kelelahan mental, perasaan hampa, dan ketidakmampuan untuk fokus pada hal-hal yang membutuhkan kedalaman. Fenomena ini kini populer disebut “brain rot”: bukan diagnosis medis, melainkan metafora sosial untuk menggambarkan penurunan fungsi kognitif akibat konsumsi digital yang pasif, repetitif, dan tidak disengaja.

Istilah ini mungkin viral lewat meme di TikTok, tetapi akar masalahnya sangat nyata—terutama bagi generasi muda Indonesia yang tumbuh di tengah banjir konten instan, algoritma manipulatif, dan tekanan untuk selalu “on”. Artikel ini mengupas brain rot dari perspektif teoretis, studi kasus lokal, praktik terbaik untuk mitigasi, serta implikasinya bagi generasi rentan di Indonesia.

Ketika Otak Kehilangan “Otot Perhatian”

Secara neurosains, brain rot mencerminkan atrofi fungsi eksekutif otak—kemampuan untuk fokus, mengingat, berpikir kritis, dan mengatur emosi. Hal ini terjadi ketika otak terbiasa dengan stimulasi dopamin instan dari konten berdurasi pendek (15–60 detik) yang tidak memerlukan usaha kognitif.

Dr. Anna Lembke, profesor psikiatri di Stanford University, dalam bukunya Dopamine Nation (2021), menjelaskan bahwa otak manusia berevolusi untuk mencari penghargaan melalui usaha—berburu, bercocok tanam, membangun hubungan. Namun, media sosial modern menyediakan dopamin tanpa usaha: like, scroll tak berujung, video lucu yang datang tanpa permintaan. Akibatnya, otak menjadi “malas” mencari makna.

Penelitian yang dilakukan oleh Microsoft (2015) mencatat penurunan rentang perhatian rata-rata manusia dari 12 detik (2000) menjadi 8 detik (2015)—lebih pendek dari ikan mas. Meski angka ini diperdebatkan, tren penurunannya nyata, terutama pada remaja yang terbiasa multitasking digital.

Pada konteks Indonesia, situasinya diperparah oleh literasi digital yang masih rendah. Menurut Kemenkominfo (2023), hanya 38% remaja yang mampu membedakan hoaks dari informasi valid. Sementara itu, rata-rata remaja Indonesia menghabiskan 3,5 jam/hari di media sosial (DataReportal, 2024)—waktu yang cukup untuk membentuk kebiasaan kognitif pasif.

Studi Kasus: Remaja di Yogyakarta dan Spiral Konsumsi Digital

Di Bogor, seorang siswi SMA berusia 17 tahun—kita sebut saja Novita—menghabiskan rata-rata 5 jam/hari di TikTok dan Instagram. Ia mengaku kesulitan berkonsentrasi saat belajar, sering lupa materi pelajaran, dan merasa cemas jika tidak membuka ponsel lebih dari 30 menit.

Dalam wawancara informal, Novita bercerita: “Aku tahu ini nggak baik, tapi kalau nggak scroll, rasanya kayak ada yang kurang. Bahkan pas baca buku, aku mikirin konten yang tadi kulihat.”

Kasus Novita bukanlah anomali. Di lingkungan sekolahnya, 7 dari 10 temannya mengalami gejala serupa: sulit menulis esai panjang, mudah frustrasi saat menghadapi tugas kompleks, dan merasa “kosong” meski terus terhubung.

Yang mengkhawatirkan, pola ini mulai memengaruhi prestasi akademik dan kesehatan mental. Data Dinas Pendidikan DIY (2024) menunjukkan penurunan rata-rata nilai ujian nasional di mata pelajaran yang membutuhkan analisis mendalam (seperti Bahasa Indonesia dan Sejarah), sementara angka konsultasi psikologis sekolah meningkat 42% sejak 2022—dengan keluhan dominan: kecemasan, sulit fokus, dan perasaan tidak cukup (not enough).

Best Practice: Mengembalikan Kendali atas Perhatian

Melawan brain rot bukan berarti menolak teknologi, melainkan mengklaim kembali kendali atas perhatian. Berikut strategi berbasis bukti yang bisa diterapkan:

1. Mindful scrolling. Hal ini dapat dilakukan sebelum membuka aplikasi, tanyakan: “Apa tujuanku?” “Berapa lama aku akan menggunakannya?” Gunakan fitur screen time tidak hanya sebagai pembatas, tapi sebagai pengingat kesadaran. Jika timbul rasa cemas atau iri selama scroll, hentikan—meski waktu belum habis.

2. Digital sunset. Dapat dipraktekkan dengan jalan mematikan semua layar 1 jam sebelum tidur. Ganti dengan aktivitas analog: membaca buku fisik, menulis jurnal, atau berbicara dengan keluarga. Ini membantu otak memasuki fase default mode network—saat kreativitas dan integrasi emosional terjadi.

3. Kuratori feed secara etis. Praktek baik ini bisa dimulai dengan unfollow akun yang memicu perasaan tidak cukup atau menyebarkan konten dangkal. Ikuti akun yang mengedukasi (misalnya: @literasidigital.id). Pastikan bahwa kita hanya berurusan dengan akun atau konten yang menginspirasi tanpa kompetisi (misalnya: kreator lokal yang menampilkan proses, bukan hasil sempurna). Tidak terbatas jumlah akun atau konten yang mendorong refleksi, bukan reaksi emosional instan. Pilihan ada di jari kita.

4. Latih “perhatian mendalam”. Coba sisihkan 20 menit/hari untuk aktivitas yang membutuhkan fokus penuh dengan membaca buku non-fiksi. Menulis esai pendek juga merupakan pilihan bijaksana, atau juga berlatih instrumen music. Bisa juga latihan seperti “angkat beban” untuk otak—membangun kembali otot perhatian yang telah melemah.

5. Literasi digital berbasis sekolah. Sekolah-sekolah di DIY mulai mengadopsi modul “Etika Konsumsi Digital” yang mengajarkan siswa untuk: menganalisis motif algoritma, mengenali bias emosional dalam konten serta membedakan hiburan dari manipulasi. Program ini terbukti meningkatkan kemampuan kritis siswa hingga 35% dalam 6 bulan (Fazriyati & Jamil, 2025).

Implikasi bagi Generasi Rentan di Indonesia

Generasi Z (lahir 1997–2012) dan Generasi Alpha (lahir 2013–sekarang) adalah kelompok paling rentan terhadap brain rot karena mereka tumbuh dalam ekosistem digital sejak usia dini. Tanpa intervensi, konsekuensinya jangka panjang:

1.    Penurunan kapasitas berpikir kritis misalnya sulit memecahkan masalah kompleks di dunia kerja

2.    Ketergantungan pada validasi eksternal yang rentan terhadap gangguan identitas dan harga diri

3.    Melemahnya koneksi sosial nyata dimana berpotensi meningkatkan risiko kesepian eksistensial

Namun, ada harapan. Di Yogyakarta, komunitas seperti Omah Kreasi Centre mulai menginisiasi program “Detoks Digital untuk Pemuda”, yang menggabungkan slow living, literasi media, dan pemberdayaan kreatif. Hasilnya: peserta melaporkan peningkatan fokus, kepercayaan diri, dan motivasi intrinsik.

Penutup: Perhatian adalah Bentuk Kasih Sayang

Brain rot bukan takdir—melainkan konsekuensi dari pola konsumsi digital yang tidak disengaja. Dan karena perhatian adalah bentuk paling murni dari kasih sayang yang bisa kita berikan pada diri sendiri dan dunia, mengembalikannya adalah tindakan revolusioner.

Seperti kata filsuf Simone Weil: “Attention is the rarest and purest form of generosity.”

Di tengah arus konten instan, memilih untuk memperhatikan sesuatu dengan penuh—sebuah buku, percakapan, atau bahkan napas sendiri—adalah bentuk pemberontakan terhadap budaya yang ingin membuat kita pasif, konsumtif, dan kosong.

Generasi muda Indonesia layak mendapatkan lebih dari sekadar brain rot. Mereka layak mendapatkan ruang untuk berpikir, merasa, dan tumbuh—dengan penuh kesadaran.**

Referensi

•     Lembke, A. (2021). Dopamine Nation: Finding Balance in the Age of Indulgence. Dutton.

•     Microsoft Canada. (2015). Attention Spans. Consumer Insights Report.

•     Kementerian Kominfo RI. (2023). Laporan Literasi Digital Nasional 2023.

•     DataReportal. (2024). Digital 2024: Indonesia.

•     Fazriyati, N., & Jamil, A. (2025). Komunikasi Non-Profit untuk Literasi Digital di Indonesia. Jurnal Komunikasi Indonesia.

•     Badan Pusat Statistik DIY. (2024). Statistik Pemuda DIY 2024.

•     Twenge, J. M. (2017). iGen: Why Today’s Super-Connected Kids Are Growing Up Less Rebellious, More Tolerant, Less Happy. Atria Books.

Penulis: Dr. Don Bosco Doho, Dosen Etika dan Filsafat Komunikasi, LSPR Institute of Communication and Business Jakarta