INDUSTRY.co.id - Jakarta — PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) terus memperkuat keterlibatan industri kecil dan menengah (IKM) serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal dalam rantai pasok otomotif nasional. 

Advertisement

Langkah ini sejalan dengan arah transformasi industri menuju era kendaraan elektrifikasi dan pengembangan energi berkelanjutan.

“Sekarang sudah mulai kita bina beberapa IKM yang terlibat, supaya mereka bisa mengadopsi teknologi baru dan menjadi bagian dari ekosistem otomotif masa depan,” ujar Wakil Presiden Direktur PT TMMIN Bob Azam disela-sela gelaran Trade Expo Indonesia (TEI) 2025 di ICE BSD, Tangerang (15/10).

Advertisement

Menurutnya, penguatan rantai pasok tak hanya dilakukan di dalam negeri, tetapi juga melalui kolaborasi lintas negara. Toyota tengah menjajaki kerja sama antara UMKM Indonesia dan UMKM Jepang yang tergabung dalam rantai pasok global.

“Nantinya, UMKM di Indonesia bisa menjadi partner bagi UMKM Jepang. Dengan begitu, kapasitas mereka meningkat, efisiensi terbangun, dan daya saing ekspor semakin kuat,” ujarnya.

Advertisement

Toyota menilai peran UMKM tidak hanya penting dalam rantai pasok otomotif, tetapi juga sebagai jembatan antara industri kecil dan pasar ekspor.

“Fungsi otomotif itu bukan hanya untuk kebutuhan industri besar, tapi juga sebagai jembatan bagi industri kecil agar bisa menembus pasar global,” kata Bob Azam.

Advertisement

Perusahaan juga berkomitmen agar transformasi menuju kendaraan elektrifikasi tidak membuat pelaku UMKM tersingkir. “Kita tetap pastikan mereka ikut serta. Jadi begitu elektrifikasi masuk, mereka sudah siap, bukan baru beradaptasi ketika sudah terlambat,” ujarnya.

Toyota memproyeksikan pada 2030, sekitar 30–40 persen pasar otomotif Indonesia akan diisi oleh kendaraan elektrifikasi. Namun, perusahaan juga melihat peluang besar dalam kombinasi antara teknologi hybrid dan bahan bakar bioetanol, yang dapat menekan emisi sekaligus menggerakkan sektor pertanian.

“Kita harapkan efek bergandanya lebih luas. Tak hanya bagi industri otomotif, tapi juga bagi petani yang menanam bahan baku bioetanol seperti singkong,” jelasnya.

Toyota menyebut tengah menyiapkan peta jalan (roadmap) pengembangan IKM lokal agar dapat beradaptasi sejak dini terhadap perubahan teknologi otomotif.

“Kita harus membuat proyeksi mengenai teknologi otomotif ke depan. Sejak awal mereka dipersiapkan, supaya ketika teknologi berubah, mereka tidak tertinggal,” ujarnya.

Melalui langkah ini, Toyota berharap Indonesia tidak hanya menjadi pasar kendaraan elektrifikasi, tetapi juga basis produksi dan inovasi komponen otomotif yang kuat di kawasan Asia Tenggara.