INDUSTRY.co.id - Tanjung Lesung — Suara gamelan berpadu dengan nyanyian lagu daerah menggema di tengah hamparan sawah hijau Tanjung Lesung, Banten.
Di bawah terik matahari, empat petani berlari sambil tertawa lepas, tubuh mereka penuh lumpur. Begitu seseorang tertangkap, tanpa banyak bicara, ia langsung diangkat dan—byur!—dilempar ke tengah sawah yang becek. Dalam hitungan menit, semua yang hadir sudah ikut mandi lumpur bersama, tawa riuh pun pecah di udara.
Inilah suasana hangat Sedekah Bumi, tradisi tahunan yang terus dijaga para petani di kawasan wisata Tanjung Lesung. Lebih dari sekadar perayaan, tradisi ini menjadi simbol rasa syukur atas hasil panen dan kesuburan tanah yang mereka kelola dengan penuh cinta.
“Tradisi ini sudah dilakukan puluhan tahun, seiring dengan berkembangnya kawasan Tanjung Lesung sebagai destinasi wisata,” ujar Poernomo Siswoprasetijo, Direktur Utama Tanjung Lesung.
Menurutnya, Sedekah Bumi menjadi wujud rasa terima kasih kepada Tuhan atas limpahan hasil panen yang tak hanya lahir dari kerja keras, tapi juga berkah alam.
“Para petani percaya, keberhasilan panen bukan semata dari tenaga manusia, tapi juga karena restu Tuhan dan alam,” tambahnya.
Panen Raya hingga Wisata Petik Semangka
Tanjung Lesung selama ini dikenal karena pantainya yang eksotis. Namun, di balik keindahan itu, kawasan ekonomi khusus pariwisata ini juga punya hubungan erat dengan dunia pertanian. Para petani lokal menanam padi, palawija, hingga semangka di lahan garapan yang disediakan pengelola kawasan.

“Kalau dihitung total, hasil panen padi di Tanjung Lesung sudah mencapai ratusan ton,” ungkap Poernomo.
Ia bahkan mengenang kunjungan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (periode 2019–2023) yang pernah datang langsung untuk meninjau panen raya. “Itu bukti bahwa hasil pertanian di sini diakui kualitasnya dan berkontribusi pada ketahanan pangan nasional,” katanya.
Kunto Wijoyo, Direktur Operasional Tanjung Lesung, menambahkan bahwa ada sekitar 200 petani yang tergabung dalam Paguyuban Tani Tanjung Lesung. Mereka menggarap lahan kecil antara 1.000–2.000 meter persegi, namun jumlahnya cukup signifikan dalam menopang ekonomi masyarakat sekitar.
“Posisi kami bukan hanya memberi izin menggarap lahan, tapi juga memastikan produksi petani berjalan lancar dan memberikan manfaat ekonomi yang nyata,” ujar Kunto.
Dari kolaborasi antara pengelola kawasan dan petani ini, lahirlah ide wisata baru: panen semangka bersama wisatawan. Saat musim panen tiba, wisatawan yang berkunjung ke Tanjung Lesung bisa ikut turun ke ladang, memetik semangka matang, dan menikmatinya langsung di tempat.
“Bagi wisatawan, ini pengalaman yang menyenangkan. Bagi petani, mereka tak perlu repot ke pasar karena hasil panen langsung dibeli pengunjung,” kata Kunto dengan senyum lebar.
Simbol Harmoni Alam dan Pariwisata
Tradisi Sedekah Bumi tahun ini juga dihadiri oleh para direksi Tanjung Lesung yang ikut berdoa bersama petani di sawah.

“Terima kasih atas izin dan dukungan yang diberikan,” ucap Deni, perwakilan Paguyuban Tani Tanjung Lesung.
“Semoga tanah tetap subur, panen berlimpah, dan hubungan kami dengan Tanjung Lesung terus harmonis," tambahnya.
Menutup acara, Kunto menegaskan bahwa semua kegiatan ini, mulai dari doa di pinggir sawah hingga wisata panen semangka, adalah bukti nyata bahwa pariwisata bisa berjalan seiring dengan pelestarian alam dan kesejahteraan masyarakat.
“Bagi sebagian orang mungkin ini hal sederhana. Tapi bagi kami, inilah bentuk harmoni antara manusia, alam, dan semangat pariwisata berkelanjutan," tutup Kunto.