INDUSTRY.co.id - Jakarta — Banyak anak muda merasa sudah siap membeli rumah pertama karena memiliki penghasilan tetap dan gaya hidup stabil. Namun kenyataannya, tidak sedikit pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) mereka ditolak oleh bank. Alasannya sederhana tapi krusial — skor kredit yang rendah atau bahkan belum terbentuk.
Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kualitas kredit perbankan nasional masih terjaga dengan baik. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) gross per Juni 2025 tercatat sebesar 2,22%, dan NPL net sebesar 0,84%.
Sementara itu, Loans at Risk (LaR) juga relatif stabil di level 9,73%. Angka ini menunjukkan bahwa sektor perbankan menerapkan manajemen risiko yang ketat dan hanya memberikan pembiayaan kepada individu dengan profil kredit yang sehat.
Faktor tersebut membuat skor kredit menjadi elemen penting dalam setiap proses pengajuan pembiayaan. Tanpa pemahaman yang cukup tentang skor kredit, banyak generasi muda menghadapi risiko penolakan pinjaman meski memiliki penghasilan yang layak.

“Banyak anak muda tidak sadar bahwa keterlambatan membayar cicilan kecil atau penggunaan paylater berlebihan dapat menurunkan skor kredit secara signifikan. Sementara itu, bagi yang belum pernah menggunakan fasilitas kredit, bukan berarti bisa mengabaikan skor kredit. Justru penting membangun reputasi finansial sejak dini agar akses pembiayaan terbuka lebar,” jelas Nora Asteria, Head of Consumer Business CBI.
Melihat pentingnya kesadaran finansial ini, CBI menghadirkan SkorKu, aplikasi digital yang membantu pengguna memantau dan memahami kondisi skor kredit mereka secara mandiri. SkorKu dirancang untuk menjadi teman keuangan generasi muda yang ingin merencanakan masa depan lebih baik — dari membeli rumah pertama, memiliki kendaraan pribadi, hingga membangun usaha sendiri.
Dengan slogan “Your Score. Your Story. Your Next Step.”, SkorKu menegaskan bahwa setiap individu memiliki perjalanan finansial unik yang dapat dikelola dan ditingkatkan. Aplikasi ini juga menjadi bagian dari upaya mendukung Visi Indonesia Emas 2045, yang menekankan pentingnya literasi finansial dalam menciptakan masyarakat maju dan berkelanjutan.
SkorKu tidak hanya menyasar masyarakat yang sudah memiliki akses ke layanan perbankan (banked), tetapi juga mereka yang belum (unbanked/underbanked). Melalui tampilan antarmuka yang sederhana dan edukatif, pengguna dapat memeriksa skor kredit mereka kapan saja, serta mendapatkan tips untuk memperbaikinya.
CBI berharap hadirnya SkorKu dapat membantu memperluas pemahaman generasi muda mengenai pentingnya reputasi keuangan. Pasalnya, kesehatan kredit tidak hanya berdampak pada kemampuan mengakses produk keuangan seperti KPR atau kartu kredit, tetapi juga berpengaruh terhadap kepercayaan, karier, dan stabilitas hidup secara keseluruhan.
“Dengan literasi finansial yang kuat, anak muda bisa membuat keputusan yang lebih bijak dan berani bermimpi besar tanpa takut terhambat oleh skor kredit,” tambah Nora.
Melalui inovasi seperti SkorKu, CBI berkomitmen menjadikan edukasi keuangan sebagai fondasi kemajuan bangsa. Dengan semakin banyak generasi muda yang memahami dan mengelola skor kreditnya, Indonesia tidak hanya mencetak individu yang sukses secara finansial, tetapi juga masyarakat yang tangguh dan siap menghadapi tantangan ekonomi masa depan.