INDUSTRY.co.id - Jakarta — Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) menegaskan komitmennya untuk mendukung program pembangunan 3 juta unit rumah yang menjadi program unggulan Presiden Prabowo Subianto.
Dengan kapasitas produksi nasional yang semakin besar atau mencapai 650 juta meter persegi/tahun, industri keramik kini disebut telah mencapai posisi “swasembada keramik nasional” karena mampu menggantikan produk impor di pasar domestik.
Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto menyampaikan bahwa industri keramik nasional saat ini siap menjadi tulang punggung kebutuhan bahan bangunan dalam proyek pembangunan perumahan rakyat.
Namun, dukungan nyata dari pemerintah dibutuhkan agar sektor industri dapat tetap berdaya saing di tengah tekanan biaya energi dan serbuan produk impor.
“Kami siap mendukung program 3 juta rumah Pak Presiden Prabowo. Namun, kami butuh keadilan dan dukungan dari pemerintah terutama dalam hal kelancaran suplai gas dan kepastian hukum pelaksanaan Kepmen ESDM No. 76/2025,” ujar Edy di Menara Kadin, Jakarta (7/10).
Asaki mengungkapkan bahwa pasokan gas bumi untuk industri di sejumlah wilayah masih jauh dari ideal. Di Jawa Barat, suplai gas untuk industri baru mencapai 60–65 persen, sedangkan di Jawa Timur hanya sekitar 50–55 persen.
Kekurangan pasokan tersebut membuat industri harus membeli gas tambahan dengan harga tinggi mencapai USD 15,3 per MMBTU.
“Kami sudah berhitung, agar industri tetap kompetitif, minimal suplai gas harus bisa di angka 85 persen dari kebutuhan. Sisanya 15 persen bisa ditutupi lewat regasifikasi LNG, tapi harganya jangan sampai di atas USD 10 per MMBTU,” jelasnya.
Menurut Asaki, harga LNG Indonesia saat ini jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga LNG di Eropa, termasuk Belanda, sehingga menekan margin industri dalam negeri.
Oleh karena itu, sebagai langkah strategis, Asaki mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan penerapan Domestic Market Obligation (DMO) untuk gas bumi — serupa dengan kebijakan pada sektor batu bara.
Skema ini diharapkan dapat menjamin ketersediaan pasokan energi bagi industri dalam negeri dengan harga yang lebih kompetitif.
“Kalau batu bara punya DMO, kenapa gas bumi tidak? DMO gas bisa jadi solusi agar industri dalam negeri mendapat kepastian pasokan dan harga yang wajar,” katanya.
Dengan dukungan kebijakan energi yang berpihak pada industri, Asaki optimistis industri keramik nasional tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga memperluas ekspor ke pasar global.
Waspadai Gempuran Impor dari India
Selain isu energi, Asaki juga mengingatkan potensi ancaman dari banjir produk keramik impor, khususnya dari India. Imbas dari perang tarif antara Amerika Serikat dan sejumlah negara membuat produk India mencari pasar baru, termasuk Indonesia.
“Gempuran produk impor dari India sudah naik ratusan persen. Kalau suplai gas dalam negeri tidak stabil, industri kita akan sulit bersaing,” tegas Asaki.