INDUSTRY.co.id - Jakarta – Hari ini tepat 16 tahun sejak UNESCO menetapkan Batik Indonesia sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity pada 2 Oktober 2009.
Sejak saat itu, setiap tanggal 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasional (HBN), momentum penting untuk meneguhkan komitmen melestarikan batik sebagai wastra penuh makna dan warisan budaya bangsa.
Tahun ini, HBN 2025 mengusung tema “Bangga Berbatik” dengan subtema “Merawit Rasa”, menjadikan Batik Tulis Merawit Cirebon sebagai ikon utama.
Batik khas Cirebon tersebut baru saja meraih sertifikat Indikasi Geografis pada akhir 2024, sebuah pengakuan penting yang menegaskan nilai seni, ekonomi, dan identitas budaya dari motif Merawit yang detail dan halus.
Rangkaian peringatan HBN tahun ini diisi dengan pameran, festival, edukasi, hingga workshop batik yang menghadirkan keragaman batik dari Sumatera hingga Papua.
Apresiasi khusus disampaikan kepada Yayasan Batik Indonesia dan Museum Tekstil Jakarta yang konsisten menjaga nilai pelestarian batik sekaligus mengembangkannya agar relevan dengan generasi muda.
Ketua Umum Yayasan Batik Indonesia, Gita Gilang Kencana, menegaskan bahwa batik bukan hanya kain indah, melainkan simbol cerita, kebanggaan, dan ruang berkarya yang harus diwariskan lintas generasi.
“Kami selalu menghadirkan pameran, festival, hingga kegiatan kreatif bersama generasi muda agar batik tetap hidup di hati kita semua,” ujarnya.
Industri Batik: 200 Ribu Tenaga Kerja, Ekspor Naik 76%
Industri batik Indonesia saat ini menopang 5.946 industri di lebih dari 200 sentra produksi pada 11 provinsi, menyerap 200 ribu tenaga kerja dari 47 ribu unit usaha. Namun, tantangan regenerasi cukup besar karena jumlah perajin batik menurun dari 151 ribu orang pada 2020 menjadi 101.592 orang pada 2024.
Meski demikian, kinerja ekonomi batik menunjukkan tren positif. Nilai ekspor batik Triwulan I 2025 mencapai US$ 7,63 juta (naik 76,2%), sementara Triwulan II 2025 mencapai US$ 5,09 juta (naik 27,2%) dibanding periode sama 2024.
Pasar domestik juga kian potensial, seiring generasi muda yang semakin menjadikan batik sebagai bagian dari fesyen sehari-hari.
Industri batik kini bergerak maju dengan penerapan teknologi: kompor listrik batik, katalog digital pewarna alami, mesin CNC untuk motif digital, hingga pengolahan limbah ramah lingkungan. Langkah ini memperkuat posisi batik dalam menghadapi tantangan global.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) juga menggarisbawahi program penting, mulai dari pengembangan SDM, fasilitasi Indikasi Geografis, penerapan teknologi industri 4.0, hingga promosi batik di pasar internasional.
Sebagai bagian dari upaya internasionalisasi batik, Yayasan Batik Indonesia akan menghadiri Sidang ke-20 Komite Warisan Budaya Takbenda UNESCO di India pada Desember mendatang. Kehadiran ini diharapkan semakin mengukuhkan batik sebagai warisan budaya yang membanggakan di kancah global.
Menteri Perindustrian (Menperin) menegaskan bahwa penguatan industri batik sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo, khususnya dalam membangun kedaulatan ekonomi berbasis sumber daya nasional dan memperkuat budaya bangsa.
“Batik adalah contoh nyata bagaimana warisan budaya dapat menjadi kekuatan ekonomi. Dengan memperkuat ekosistem batik, kita bukan sekadar menjaga peninggalan leluhur, tetapi juga membangun fondasi ekonomi kreatif berbasis budaya yang mampu bersaing di tingkat global,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Menperin Agus menekankan bahwa batik harus menjadi bagian dari fesyen sehari-hari.
"Batik tidak boleh kalah dari jas dan dasi," tutupnya.
Dengan semangat itu, perayaan Hari Batik Nasional 2025 resmi dibuka, mengajak seluruh masyarakat untuk semakin Bangga Berbatik dan terus menggunakan produk buatan Indonesia.