INDUSTRY.co.id - Batam, Kepulauan Riau — Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin memengaruhi berbagai sektor, termasuk dunia perpustakaan. 

Isu ini menjadi sorotan utama dalam Kongres XVI Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) dan Seminar Ilmiah Nasional 2025 yang digelar di Batam pada Kamis (18/9).

Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan Perpusnas, Adin Bondar, menilai kehadiran AI ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, AI dapat membantu efisiensi layanan perpustakaan, namun di sisi lain berpotensi menurunkan minat baca masyarakat. 

“Dengan kondisi kesenjangan antara jumlah pustakawan dan pemustaka yang cukup lebar, pustakawan harus lebih kreatif agar tetap relevan,” tegas Adin.

Ia menambahkan, Perpusnas tahun ini telah menyalurkan bahan bacaan bermutu ke 10 ribu titik di seluruh Indonesia guna memperkuat budaya literasi.

Pustakawan senior dari National Library Board (NLB) Singapore, Nadia Ramli, menekankan pentingnya literasi informasi agar masyarakat tidak mudah terjebak misinformasi di era AI. “Kami ingin memastikan AI dipakai dengan bijak serta menciptakan generasi literat sepanjang hayat,” ujarnya.

Dukungan regulasi juga dianggap penting. Indra Gunawan, Sekretaris Ditjen Otonomi Daerah Kemendagri, menegaskan bahwa pemerintah daerah memiliki kewajiban memperkuat layanan perpustakaan sesuai amanat UU No. 23 Tahun 2014. Ia menyebut penerapan AI sangat strategis, mulai dari katalogisasi otomatis, chatbot, hingga sistem rekomendasi bacaan personal.

“Integrasi perpustakaan dengan smart city dan e-government adalah masa depan layanan publik. Peran Bunda Literasi juga krusial sebagai penggerak literasi daerah,” jelas Indra.

Dari sisi akademik, Fuad Gani dari Universitas Indonesia menyoroti apa yang ia sebut “Masalah Gorila,” yaitu risiko AI berkembang melebihi kapasitas manusia. “Pustakawan harus memastikan bahwa pengetahuan tetap mengalir dan komunitas pembaca tetap hidup meski era AI terus berkembang,” katanya.

Sementara itu, budayawan Melayu, Rendra Setyadiharja, menekankan aspek etika dalam pemanfaatan AI untuk konten budaya. “Teknologi ini bisa memperkaya dan melestarikan tradisi lokal, tapi hanya bila digunakan dengan bijak dan tidak mengabaikan nilai budaya,” ujarnya.

Kongres XVI IPI menutup diskusi dengan optimisme bahwa pustakawan tidak akan tergantikan oleh AI. Sejarah membuktikan, profesi ini selalu mampu beradaptasi sejak era mesin cetak hingga digital. Kini, pustakawan dipandang bukan hanya sebagai pengelola buku, melainkan juga sebagai penafsir pengetahuan, penjaga etika, dan penggerak literasi bangsa di era teknologi cerdas.