INDUSTRY.co.id - Jakarta-Bank Indonesia (BI) memastikan belanja online akan menjadi indikator pertumbuhan ekonomi pada survei konsumsi. Sampai saat ini, belanja online hampir terlupakan sebagai indikator pertumbuhan tersebut. Lalu apa benar, rencana BI dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) pertumbuhan ekonomi dipatok 5,4 persen pada 2018.
Enny Sri Hartati, Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) mengatakan, memang akan ada pengaruh dari rencana memasukan belanja online ke sumber pertumbuhan.
"Belanja online tambah volume ekonomi, existing ada transaksi , berapa jumlah valid enggak ada. Integrasi digital sebagai survei," kata dia di Jakarta, Jumat (18/8/2017).
Namun, Enny menilai penjualan online sumbernya dari data produksi ritel yang terbaca turun. Pada catatan Bank Indoensia (BI), penjualan ritel negatif 3.0%, tekanan harga eceran tiga bulan mendatang. Itu bisa dilihat dari Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEHU) tiga bulan turun dari 138,3 pada bulan lalu menjadi 133,3 di Juni 2017.
Oleh karena itu, Enny mempersilahkan pemerintah memasukan belanja online sebagai indikator pertumbuhan ekonomi.
Diketahui belakangan Bank Indonesia (BI) sedang proses membuat big data. Nantinya data online akan ke sana. Semua lembaga online bisnis didorong untuk memasukan data penjualan ke big data.