INDUSTRY.co.id, Jakarta- Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan Tanda Kehormatan Republik Indonesia kepada para tokoh nasional di Istana Negara, Jakarta, Senin (25/08/2025).  Di antara 100 tokoh penerima Tanda Kehormatan itu terdapat nama mantan Gubernur NTT, Almarhum Brigadir Jenderal TNI (Purn) dr Aloysius Benedictus Mboi yang akrab disapa Ben Mboi.

Advertisement

Sebelum menjadi Gubernur NTT periode (1978-1988), Suami mantan Menkes Nafsiah Mboi, adalah seorang prajurit korps baret merah. Ia bertugas sebagai dokter dan pernah terlibat dalam Operasi Trikora, sebuah operasi militer di zaman Presiden Sukarno untuk membebaskan Irian Barat dari cengkraman Kolonial Belanda.

Penganugerahan terhadap Almarhum Ben Mboi sebagai Tanda Kehormatan Bintang Republik Indonesia Utama berdasarkan pada Keputusan Presiden Republik Indonesia (RI) Nomor 73/TK/Tahun 2025 tanggal 25 Agustus 2025 tentang Penganugerahan Tanda Kehormatan Bintang Republik Indonesia Utama.

Advertisement

“Saya ingin menyampaikan atas nama negara dan bangsa, sekali lagi terima kasih atas jasa-jasa pengabdian Saudara-saudara sekalian dan mereka-mereka yang orang tuanya tidak hadir, ahli waris juga, atas nama negara dan bangsa terima kasih. Kami, Republik Indonesia, atas pengabdian Saudara-saudara sekalian. Semoga jasa-jasa Saudara-saudara terus menjadi warisan bagi generasi penerus,” ucap Presiden Prabowo, mengutip BPMI Setpres, Senin (25/08/2025).

Ben Mboi lahir di Ruteng, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 22 Mei 1935. Setelah menamatkan SMP, Ben melanjutkan sekolah ke Sekolah Menengah Atas (SMA) Saint Albertus di Malang. Ben Mboi masuk dalam golongan Murid anak orang miskin ini tidak mampu membayar uang sekolah.

Advertisement

Pastor Direktur SMA orang Belanda bingung, karena menurut aturan tiap siswa harus bayar uang sekolah. Namun Ben tergolong siswa yang pintar, mendorong sang direktur mencari jalan. Ben pun ditugaskan menyapu, mengepel lantai dan membersihkan WC. Dari pekerjaannya itu, ia mendapat gaji dan langsung dicatat sebagai pembayaran uang sekolah.

Setamat SMA, tetap dengan modal nekat, Ben mendaftar masuk Fakultas Kedokteran UI. Ia indekos dan lagi lagi kendala keuangan dan  tidak mampu juga membayar kos. Tapi Ben menggunakan otaknya dengan rajin membantu kerja rumah tangga ibu kos. Dampaknya ibu kos membebaskan biaya bayar kos. Ben lalu mengajar di SMA Antonius di Matraman untuk mendukung biaya kuliah di UI.

Advertisement

Setalah tamat dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) pada tahun 1962, Ben Mboi masuk dinas tentara dan menjadi dokter tentara. Di bawah Komandan Benny Moerdani, Ben Mboi bertugas dalam operasi Trikora. Sebuah operasi militer di zaman Presiden Sukarno untuk merebut Irian Barat dari cengkraman Kolonial Belanda.

Selama bertugas menjadi dokter militer, Ben Mboi menunjukkan performa bagus. Atas kinerjanya yang mumpuni ia diangkat menjadi Kapten. Kemudian pada tahun 1978 ia menjadi Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) menggantikan El Tari.

Kepekaannya terhadap kebutuhan dasar masyarakat diwujudkan melalui program pemberantasan malaria, peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak, serta penguatan infrastruktur dan industri dasar di daerahnya. Gaya kepemimpinannya menonjolkan kerja keras, inovasi, serta kedekatan dengan rakyat. Tak heran ia dikenang sebagai pemimpin yang mampu menyelaraskan pembangunan fisik dengan pelayanan sosial.

Selama menjadi orang nomor satu di NTTY tercatat sejumlah program unggulan yang dinilai berhasil, sebut saja Operasi Nusa Makmur (ONM) dan Operasi Nusa Hijau (ONH).

Program ONM sendiri dicanangkan Ben Mboi untuk memerangi gerakan kemiskinan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan pangan. Operasi tersebut juga meliputi penggunaan bibit unggul, pupuk, penggunaan lahan dan pemanfaatan irigasi di sawah-sawah.

Untuk mengimplementasikan program tersebut, negara memberikan kemudahan bagi penduduk dengan konsep Kredit Bimbingan Masyarakat (Bimas). Program tersebut berjalan selama 10 tahun. Walhasil jumlah produksi pangan semisal padi, jagung dan kapas mengalami peningkatan. Luas areak persawahan dan perkebunan juga mengalami kenaikan signifikan dari 5.000 hektare menjadi 150.000 hektare.

Setelah dinilai berhasil, Ben Mboi meluncurkan program Operasi Nusa Hijau (ONH). Ben Mboi paham betul dengan karakteristik NTT yang dipenuhi dengan sabana dan stepa. Di tengah hamparan padang rumput luas, Ben paham apa yang harus ia lakukan untuk mendongkrak pendapatan masyarakat sekitar.

Ia membuat terasering di bukit-bukit yang dipenuhi dengan padang rumput. Terasing dibuat dengan tujuan menahan laju air agar tidak terjadi longsor dan banjir. Kemudian pada bagian terasering tersebut ditanam bibit Lamtoro dan Gamal. Program tersebut di wilayah Flores. Dikatakan sukses karena beberapa bukit sabana dan stepa berubah menjadi hutan Lamtoro dan Gamal.

Lamtoro mempunyai banyak fungsi, daun dan buahnya untuk pakan ternak. Sementara batangnya dijadikan kayu api, karena saat itu wilayah NTT belum dialiri listrik. Ben juga dinilai sebagai sukses dan meninggalkan banyak jejak nyata bagi warga NTT. Ben Mboi, meninggal di Jakarta pada usia 80 tahun dan dimakamkan pada Kamis (25/6/2015) di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan.