INDUSTRY.co.id - Jakarta – Jumlah tenaga kerja hijau di Indonesia diproyeksi mencapai lebih dari 5,3 juta orang atau naik 3,14% pada tahun 2029. Angka tersebut mengalami kenaikan dari perkiraan jumlah tenaga kerja hijau pada 2025 mencapai 4 juta orang atau 2,7% dari total tenaga kerja. 

Advertisement

Kementerian Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) memproyeksi jumlah pekerjaan yang berpotensi menjadi hijau mencapai 56 juta pada tahun 2025 dan meningkat menjadi 72 juta di 2029.

Kenaikan jumlah tenaga kerja hijau yang signifikan diakui Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motors Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam. Menurutnya, kebutuhan tenaga kerja untuk pekerjaan ramah lingkungan akan meningkat signifikan dalam beberapa tahun ke depan.

Advertisement

“Demand tenaga kerja hijau akan tumbuh signifikan dalam beberapa tahun ke depan. Hal ini seiring dengan percepatan transisi menuju industri hijau yang tengah didorong pemerintah dan pelaku usaha,” kata Bob Azam kepada media di Jakarta (30/7).

Meski demikian, ia menyebut bahwa meningkatnya kebutuhan tenaga kerja hijau harus dibarengi dengan penambahan kurikulum dalam tingkat pendidikan. Menurutnya, Indonesia masih kekurangan suber daya manusia (SDM) yang memiliki keahlian di bidang industri hijau.

Advertisement

Oleh karena itu, Bob Azam menyayangkan belum banyak universitas di Indonesia yang memiliki mata kuliah khusus terkait energi hijau.

“SDM kita yang memiliki keahlian di bidang industri hijau masih sangat minim. Oleh karenanya, hal ini dapat dimulai dengan memasukkan mata kuliah tertentu dalam pendidikan formal. Ada bidang-bidag baru yang belum ada tenaganya yang dari pendidikan formal, seperti pengembangan biofuel, dan sebagainya. Memang mungkin ada yang mengambil mata kuliah tertentu tapi itu menjadi satu mata kulaih khusus,” terangnya.

Advertisement

Meski demikian, Bob mengingatkan bahwa transisi ini tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa. Ia mencontohkan pengalaman negara-negara Eropa yang terlalu ambisius dalam berinvestasi di sektor hijau hingga memicu greenflation atau inflasi hijau, yakni lonjakan harga akibat transisi energi yang tidak terkendali.

“Indonesia harus belajar dari negara-negara Eropa, jangan sampai terjadi greenflation atau naiknya harga-harga bahan ramah lingkungan akibat tingginya permintaan terhadap bahan baku,” ungkap Bob Azam.

Menurutnya, yang terpenting adalah mewujudkan transisi energi hijau pada 2030 dengan membuat emisi karbon menjadi flat. 

“Sekarang fokusnya adalah bagaimana emisi bisa flat dulu sampai 2030. Itu harus dicapai lewat kombinasi antara pemanfaatan energi terbarukan dan efisiensi energi,” katanya.

“Jadi, tidak boleh juga kita terlalu agresif tanpa memikirkan financing-nya dan segala sesuatu. Oleh karena itu, kita harus wise lah,” tutup Bob Azam.