INDUSTRY.co.id - Jakarta — Memperingati Bulan Kesadaran Mata Kering 2025, JEC Eye Hospitals and Clinics mengingatkan masyarakat bahwa gejala mata kering bisa menjadi pintu masuk untuk mendeteksi gangguan imun tubuh sedini mungkin.

Menurut dr. Niluh Archi, SpM, dokter spesialis mata kering di JEC, mata kering bukanlah keluhan ringan. 

“Bagi sebagian pasien, mata kering justru bisa menjadi indikasi proses autoimun yang berlangsung diam-diam. Ini alasan kami terus menggaungkan Bulan Kesadaran Mata Kering, agar masyarakat tidak menyepelekan gejala yang tampak kecil tapi berdampak besar,” jelasnya.

Di Indonesia, prevalensi mata kering cukup tinggi, yakni antara 27,5% hingga 30,6%. JEC mencatat telah menangani lebih dari 72.000 pasien mata kering dalam dua tahun terakhir di seluruh jaringan rumah sakit dan kliniknya. Sayangnya, kesadaran masyarakat terhadap kaitan antara mata kering dan penyakit autoimun masih sangat rendah.

“Autoimun bisa menyerang jaringan sehat, termasuk kelenjar air mata. Ini yang terjadi pada Sindrom Sjögren, lupus, rheumatoid arthritis (RA), dan scleroderma—yang semuanya bisa menimbulkan peradangan pada permukaan mata,” terang DR. Dr. Laurentius Aswin Pramono, M.Epid, SpPD-KEMD, dokter penyakit dalam JEC.

Ia menambahkan bahwa kolaborasi multidisiplin antara dokter mata dan dokter penyakit dalam menjadi sangat krusial dalam mengenali pola peradangan sistemik sejak awal. 

“Kadang pasien datang hanya dengan keluhan mata kering, tapi lewat pemeriksaan menyeluruh, kita bisa mendeteksi penyakit autoimun yang lebih serius.”

Sejak 2017, JEC telah menghadirkan Dry Eye Service, sebuah layanan terpadu pertama di Indonesia yang dirancang khusus untuk menangani mata kering secara menyeluruh. Layanan ini menggabungkan teknologi diagnostik mutakhir, pendekatan medis yang individual, serta terapi lanjutan seperti Dry Eye Spa dan IPL (Intense Pulse Light).

Layanan ini menawarkan beragam pemeriksaan berteknologi mutakhir untuk mendiagnosis dry eye pasien; meliputi: Dry Eye Questionnaire, Schirmer Test (menilai volume air mata), Tear Break Up Time/TBUT (menilai stabilitas air mata), Ocular Surface Staining (menilai derajat peradangan), Meibography (menilai kondisi kelenjar Meibom di kelopak mata), dan TearLab Osmometer (menilai kadar osmolaritas air mata). 

Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, pasien akan mendapatkan terapi sesuai kebutuhan, seperti air mata buatan, anti-inflamasi topikal, tetes mata serum autologus, hingga IPL Therapy dan Dry Eye Spa untuk memperbaiki kualitas air mata dan fungsi kelenjar.

Layanan Dry Eye Service saat ini tersedia di RS Mata JEC @ Kedoya (Jakarta), RS Mata JEC CANDI @ Semarang, RS Mata JEC ORBITA @ Makassar, Klinik Utama Mata JEC BALI @ Denpasar, Klinik Utama Mata JEC JAVA @ Surabaya.

Melalui peringatan Bulan Kesadaran Mata Kering 2025, JEC ingin membuka mata masyarakat bahwa kesehatan mata berhubungan erat dengan sistem tubuh secara keseluruhan.