INDUSTRY.co.id - Jakarta - Transformasi digital dalam industri logistik tidak hanya soal perangkat, tetapi tentang menyatukan data, teknologi, dan manusia secara terintegrasi. Praktisi logistik, Siswadhi Pranoto Loe, menegaskan, teknologi digital harus dilengkapi dengan integrasi data dan pemberdayaan SDM agar logistik kita bisa benar benar cerdas dan kompetitif.
Menurutnya, data nyata mendukung gagasannya. Berdasarkan laporan World Bank Logistics Performance Index 2023, Indonesia menempati peringkat ke 61 dari 139 negara, dengan nilai rendah pada indikator infrastruktur dan teknologi informasi lpi.worldbank.org. Sementara itu, EastSpring (2020) mencatat bahwa biaya logistik Indonesia mencapai 23,5 % dari PDB, lebih tinggi dibanding Malaysia (13 %) dan Thailand (15 %) pwc.com.
Siswadhi menjelaskan, angka angka ini menunjukkan bahwa sistem logistik membutuhkan digitalisasi menyeluruh melalui aliran data real-time—dari gudang, transportasi, hingga bea cukai. Namun, tanpa tenaga manusia yang dilatih dan siap, teknologi canggih seperti AI, cloud, dan IoT akan sia sia.
“Kalau kontrol data hanya di tangan sistem tanpa pengawasan manusia yang kompeten, hasilnya bisa malah menimbulkan kesalahan analisis, delay, dan kebocoran biaya,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pelatihan teknis dan pembekalan SDM dengan pemahaman tentang data analytics harus menjadi prioritas.
Sebagai bentuk praktik baik, Siswadhi menyoroti beberapa perusahaan logistik yang berhasil menurunkan biaya operasional hingga 30 % setelah sistem warehouse otomatis mereka integrasikan dengan platform pengiriman dan analitik permintaan . Ini mencerminkan bahwa pendekatan terpadu membawa banyak manfaat nyata.
Ia juga menyarankan agar perusahaan memulai integrasi secara bertahap—misalnya menggabungkan WMS (Warehouse Management System) dengan sistem ERP dan visualisasi dashboard. Tahap berikutnya adalah memperluas koneksi ke sistem bea dan imigrasi untuk percepatan clearance barang ekspor impor.
Siswadhi mengingatkan bahwa, meski teknologi sudah tersedia, Indonesia masih perlu meningkatkan kesiapan SDM. Data World Bank menyebut bahwa kesenjangan digital dan budaya menjadi hambatan utama dalam adopsi teknologi secara menyeluruh .
“Kita perlu mindset baru: digitalisasi bukan hanya proyek IT, tapi nilai budaya dalam operasional. Semua elemen—SDM, data, regulasi—harus seiring agar logistik kita benar benar modern dan efisien,” pungkas Siswadhi Pranoto Loe.