INDUSTRY.co.id - Jakarta — Menjawab tantangan ketidaksesuaian antara lulusan pelatihan dan kebutuhan industri, GETI Incubator hadir dengan pendekatan yang menyeluruh dalam menyiapkan talenta digital siap kerja. Melalui sistem pembelajaran khas bernama TauBisaJago, GETI tidak hanya menawarkan sertifikasi BNSP, tetapi juga membangun ekosistem belajar yang bertahap, berbasis praktik, dan terbukti menghasilkan lulusan siap terjun ke dunia usaha dan industri.
“TauBisaJago bukan slogan, tapi sistem belajar kami dari kelas, praktik, hingga inkubasi,” ujar Rachmat Wirasena Suryo, General Manager Academic GETI Incubator. Ia menjelaskan bahwa banyak pelatihan hanya berhenti di modul dan ujian, sementara dunia kerja menuntut hasil nyata dan jam terbang. Sistem TauBisaJago hadir sebagai solusi pembelajaran yang menyeluruh: mulai dari memahami (tau), melakukan (bisa), hingga menguasai (jago).
GETI saat ini mengoperasikan tujuh skema sertifikasi berbasis BNSP, yaitu Digital Marketing, Content Creator, Livestream Selling, Ekspor Digital, Logistik, Pendamping UMKM Digital, dan Operasi ERP untuk Manajemen Bisnis dan Retail. Setiap skema dirancang untuk menyiapkan peserta menjadi profesional siap kerja, dengan uji kompetensi formal dan fase inkubasi satu bulan penuh setelah pelatihan.
Selama inkubasi, peserta tidak lagi belajar di kelas, tetapi mengerjakan proyek riil—seperti merancang kampanye iklan untuk UMKM, melakukan siaran langsung penjualan di TikTok, menyusun strategi ekspor produk lokal, atau menjalankan sistem ERP berbasis Odoo dan MonsoonSIM. Metode ini membuat peserta tak hanya lulus uji kompetensi, tapi juga membawa pulang portofolio kerja.
Berdasarkan Indonesia Talent Report 2025 oleh Kemnaker dan World Bank, salah satu kendala terbesar dalam penyerapan tenaga kerja digital adalah kurangnya pengalaman dan proyek nyata selama pelatihan. Sekitar 62% perusahaan menyatakan calon pekerja belum siap kerja meskipun bersertifikat, karena belum terbiasa dengan ritme kerja industri.
GETI menjawab hal ini dengan pendekatan bertahap yang terstruktur. Di tahap tau, peserta diberi pondasi teoretis dan pemahaman dasar industri. Di tahap bisa, peserta terlibat dalam praktik teknis secara langsung. Lalu di tahap jago, peserta diterjunkan ke inkubasi untuk menguji kemampuan mereka menghadapi tantangan riil, baik dalam simulasi maupun proyek aktual.
Program ini telah bermitra dengan berbagai institusi pendidikan dan pemerintah daerah, seperti UGM, UI Vokasi, Universitas Raharja, UPN, Swiss German University, dan sejumlah SMK serta lembaga pelatihan daerah. Sertifikasi GETI juga digunakan dalam program SKPI (Surat Keterangan Pendamping Ijazah) untuk memperkuat nilai lulusan kampus di mata industri.
Hingga pertengahan 2025, lebih dari 6.000 peserta telah mengikuti pelatihan dengan model TauBisaJago. Evaluasi internal menunjukkan bahwa lebih dari 70% lulusan langsung diterima kerja, memulai usaha, atau terlibat proyek profesional dalam waktu 3 bulan setelah pelatihan.
“TauBisaJago adalah sistem, bukan slogan. Kami ingin lulusan GETI tidak hanya pegang sertifikat, tapi juga pegang pengalaman,” tegas Rachmat.
Dengan kombinasi pelatihan berbasis kompetensi, praktik langsung, dan inkubasi profesional, GETI memantapkan peran sebagai lembaga sertifikasi dan inkubasi talenta digital yang mampu menjawab kebutuhan industri secara nyata dan berkelanjutan.