INDUSTRY.co.id - Bogor - Selama ini, anggapan bahwa minum susu bisa berbahaya bagi orang dewasa, terutama lansia, sering beredar luas. Ada yang mengaitkannya dengan risiko penyakit jantung, diabetes, bahkan kanker prostat. Tapi, benarkah demikian?
Faktanya, susu menyimpan beragam zat gizi penting yang justru sangat dibutuhkan tubuh, terutama seiring bertambahnya usia. Hal ini ditegaskan langsung oleh Prof. Dr. Ir. H. Hardinsyah, MS., Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat, FEMA IPB.
“Tubuh manusia memerlukan 20 jenis asam amino. Sembilan di antaranya bersifat esensial dan tidak bisa diproduksi sendiri oleh tubuh, sehingga harus didapat dari makanan dan minuman seperti susu,” jelas Prof. Hardinsyah dalam acara peringatan Hari Susu Sedunia 2025 bersama Frisian Flag Indonesia di Kampus IPB, Bogor (2/6/2025).
Menurut Prof. Hardinsyah, protein hewani seperti yang terkandung dalam susu mengandung asam amino esensial lengkap, serta vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh, khususnya pada usia lanjut.

Seiring usia, kemampuan tubuh menyerap protein menurun, sehingga lansia membutuhkan asupan protein lebih banyak untuk menjaga massa otot, berat badan ideal, dan mencegah penyakit kronis.
Selain itu, susu cair juga lebih mudah dikonsumsi dibandingkan makanan padat, menjadi solusi praktis bagi lansia.
Untuk usia 65 tahun ke atas, konsumsi 1–2 gelas susu per hari sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi harian. Konsumsi berlebihan justru bisa memicu risiko tertentu seperti kanker prostat.
Jenis susu perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan. Lansia sehat bisa minum susu biasa, sementara penderita hiperkolesterol atau diabetes sebaiknya memilih susu rendah lemak atau tinggi kalsium dan vitamin D.
“Banyak Muslimah berhijab tidak sadar, kerudung gelap bisa menghambat penyerapan sinar matahari untuk pembentukan vitamin D. Maka, konsumsi susu yang difortifikasi sangat penting,” tambah Prof. Hardinsyah.
Tak hanya soal manfaat, kualitas susu juga menentukan efektivitasnya bagi tubuh. Frisian Flag Indonesia (FFI) menekankan pentingnya kualitas susu segar lokal melalui program Dairy Development (DD) yang sudah berlangsung lebih dari 30 tahun.
“Kami mendampingi peternak sapi perah lokal untuk meningkatkan kualitas produksi melalui pelatihan dan program intensif,” ujar Andrew F. Saputro, Corporate Affairs Director FFI.
Program Dairy Development juga mendapat dukungan dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Targetnya? Swasembada susu pada tahun 2029 untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
“Sudah saatnya susu jadi menu wajib, bukan barang mewah,” tegas Widiastuti, Deputi Bidang Koordinasi Usaha Pangan dan Pertanian.
Khusus untuk generasi muda, FFI menginisiasi Young Progressive Farmer Academy (YPFA) sebagai wadah pelatihan peternakan berkelanjutan. FFI membekali peternak muda dengan pengetahuan dan manajemen tata kelola peternakan sapi modern.
Langkah ini sejalan dengan agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) serta proyek strategis nasional menuju swasembada susu 2029, termasuk penambahan satu juta sapi perah dan modernisasi peternakan.