INDUSTRY.co.id - Jakarta, Unilever Indonesia, perusahaan Fast Moving Consumer Goods (FMCG) terkemuka yang berdiri sejak 1933, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Dengan beragam merek seperti Pepsodent, Lux, Lifebuoy, Dove, dan Royco, Unilever terus menghadirkan produk inovatif untuk memenuhi kebutuhan konsumen dari berbagai segmen pasar.
Unilever Indonesia dikenal dengan portofolio mereknya yang kuat. Memiliki lebih dari 40 brand, produk-produk perusahaan ini mencakup kategori kebutuhan sehari-hari, perawatan tubuh, hingga makanan dan minuman.
Dukungan dari 9 pabrik yang tersebar di Kawasan Industri Jababeka (KIJA) Cikarang, Bekasi dan Surabaya dengan sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) memastikan kualitas tinggi dan kepercayaan konsumen.
Sejak mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada 1982 dengan kode saham UNVR, Unilever Inonesia telah menjadi salah satu pilihan utama investor. Kinerja keuangan tahun lalu mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp38,6 triliun dengan laba bersih Rp4,8 triliun.
Meski mengalami tantangan pada akhir tahun akibat situasi geopolitik, perusahaan berhasil mencatat pertumbuhan domestik sebesar 3,3% di kuartal ketiga 2023.Adapun pada akhir sesi perdagangan 10 Desember 2024, saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) melonjak 5,54% ke Rp2.000.
Sebanyak 27,35 juta saham ditransaksikan dalam 7.314 kali transaksi dengan nilai mencapai Rp54,19 miliar. Penguatan ini melanjutkan tren positif dari 9 Desember 2024, di mana saham UNVR naik 1,34%.Salah satu pemicu utama penguatan saham UNVR adalah rencana penjualan bisnis es krimnya kepada PT The Magnum Ice Cream Indonesia dengan nilai transaksi Rp7 triliun.
Penilaian independen oleh KJPP SRR menunjukkan nilai pasar wajar sebesar Rp6,57 triliun, mencakup aset tetap senilai Rp2,55 triliun dan persediaan Rp172,79 miliar.Direksi Unilever mengungkapkan bahwa penjualan bisnis es krim ini memberikan berbagai manfaat strategis, termasuk peningkatan dividen karena hasil bersih dari transaksi ini direncanakan untuk langsung didistribusikan kepada pemegang saham sebagai dividen tunai.
Kedua, memperkuat posisi keuangan. Penjualan ini disinyalir akan memperbaiki posisi kas perusaaan dan mengurangi ketergantungan pada pinjaman eksternal. Selanjutnya, fokus pada bisnis inti. Dengan melepas risiko dari operasi bisnis es krim, Unilever dapat lebih fokus pada lini bisnis inti, yang diharapkan memperkuat kinerja keuangan jangka panjang.
Dengan kinerja keuangan yang solid, termasuk penjualan bersih Rp38,6 triliun dan laba bersih Rp4,8 triliun pada 2023, serta strategi fokus pada bisnis inti, Unilever Indonesia berada pada posisi yang kuat untuk terus tumbuh.Inovasi yang konsisten di segmen premium dan value akan semakin memperkuat daya saing perusahaan. Selain itu, distribusi dividen yang meningkat pasca transaksi penjualan bisnis es krim menjadi daya tarik tambahan bagi investor.
Dengan strategi yang tepat dan fokus pada efisiensi operasional, prospek pertumbuhan saham Unilever Indonesia ke depan tetap cerah, menjadikannya pilihan menarik bagi investor yang mencari stabilitas dan pertumbuhan jangka panjang.