INDUSTRY.co.id - Jakarta – Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) telah melaporkan 14 pengembang nakal atau yang tidak memenuhi standar dalam membangun rumah subsidi. Upaya tersebut merupakan komitmen pemerintah untuk meningkatkan kualitas rumah subsidi demi kenyamanan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). 

Advertisement

Menaggapi hal tersebut, Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi), Junaidi Abdilah menyebut bahwa label terhadap developer nakal yang dilakukan Kementerian PKP terlalu dini. 

“Label terhadap developer nakal, pengembang nakal itu terlalu dini. Kami belum pernah diajak bincang-bincang terkait ini. Sebaiknya, sebelum mengeluarkan statement yang menrugikan pengembang, kami (pengembang) di ajak ngobrol terlebih dahulu,” kata Junaidi di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Advertisement

Meski demikian, dirinya tidak menampik bahwa ada segelintir pengembang nakal. “Di pemerintahan juga banyak orang nakal, tapi mereka menyebutnya oknum. Nah, kenapa kami disebut pengembang nakal bukan oknum pengembang. Ini yang saya anggap terlalu dini menghukum para profesi pengembang dengan cara-cara tanpa koordinasi,” terangnya.

Junaidi meminta agar Menteri PKP adil, jangan hanya memborbardir pengembang kecil saja, pengembang besar yang sudah terbukti tidak menjalankan Amanah Undang-undang terkait hunian berimbang dibiarkan saja.

Advertisement

“Kita harap Pak Menteri adil. Jangan dipelesetkan ke pengusaha UMKM sehingga berita yang besar-besar ini tenggelam. Bicara Undang-undang, mereka sudah melanggar duluan. Jangan UMKM diobok-obok, jangan dibikin suasana tidak konsudif,” jelas Junaidi.

Akibat label tersebut, terangnya, banyak pengembang yang merasa takut membangun rumah subsidi dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). 

Advertisement

“Sepertinya, mereka tidak mau lagi membangun rumah FLPP. Semuanya takut bermasalah dengan hukum. Saat ini, mereka yang sudah terlanjur membangun sepertinya hanya menyelesiakan proyeknya saja,” tuturnya.

Junaidi Abdilah mengungkapkan bahwa pihaknya sangat mendukung program 3 juta rumah yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto. 

“Saya pendukung Bapak Prabowo. Semangat untuk merumahkan rakyat Indonesia kita setuju. Tiga juta rumah itu sangat baik buat kita semua dalam rangka menciptakan masyarakat untuk mendapatkan rumah, mengentaskan kemiskinan itu sangat saya dukung,” ucapnya.

Disisi lain, dia mengatakan, teman-teman asosiasi semangat mendukung program tiga juta rumah yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Namun, Junaidi khawatir ada pihak-pihak yang membuat suasana tidak kondusif terkait peruamahan rakyat.

“Teman-teman asosiasi sangat mendukung program tiga juta rumah ini. Akan tetapi, saya khawatir ada pihak yang membuat suasana tidak kondusif terkait perumahan rakyat. Tapi dengan kondisi ini dipastikan pengembang rumah FLPP takut untuk membangun lagi. Kedepannya tidak akan membangun lagi, hanya menyelesaikan proyek yang sedang berjalan,” tutup Junaidi.