INDUSTRY.co.id - Jakarta, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) I Gusti Putu Suryawirawan mengatakan, Kemenperin bersama pemangku kepentingan terkait sedang melakukan finalisasi penyusunan roadmap industri otomotif yang sejalan dengan Kebijakan Energi Nasional dan target penurunan emisi Gas Rumah Kaca (GRK).
"Diharapkan peta jalan ini akan menjadi pegangan pihak terkait dalam menjalankan program-program ke depan yang akan mendukung ketercapaian target energi sesuai dengan amanat KEN dan RUEN, serta sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca sesuai dengan komitmen pemerintah di hadapan forum COP21," ungkap Putu di Tangerang (11/8/2017).
Putu menambahkan, saat ini Indonesia berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% dengan upaya sendiri, dan 41% dengan bantuan internasional sampai tahun 2030.
Dalam peta jalan tersebut, menurut Putu, pertumbuhan industri otomotif ke depan diarahkan pada pengembangan kendaraan-kendaraan ramah lingkungan, dan dikembangkan secara bertahap dengan mempertimbangkan keberlanjutan investasi, pertumbuhan industri otomotif, pencapaian komitmen penurunan emisi gas rumah kaca, dan kontribusi sektor otomotif terhadap perekonomian nasional.
Hal senada disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Sebagai bagian dari masyarakat global, Indonesia berkomitmen pada upaya-upaya untuk menjaga kualitas lingkungan. Kepedulian pemerintah Indonesia terhadap kualitas lingkungan diterjemahkan salah satunya dalam regulasi tentang industri otomotif di masa mendatang. Hal itu tampak pada road map pemerintah untuk mendorong penggunaan mobil hemat energi dan ramah lingkungan, terutama mobil listrik dan hibrid dalam 7 - 10 tahun mendatang.
"Ini tantangan kita (Indonesia), sekaligus langkah yang harus kami jalankan, melalui kebijakan-kebijakan pemerintah," ujarnya.
Salah satu implementasi penerapan aspek ramah lingkungan adalah pengurangan karbon atau emisi rendah pada mobil di Indonesia. Pemerintah Indonesia pun menargetkan sebanyak 400 ribu unit kendaraan beremisi rendah atau low carbon emission vehicle (LCEV) beredar di pasar Indonesia pada 2025. Angka tersebut setara dengan 20 persen jumlah produksi unit kendaraan per tahun.
Sebelumnya, Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto menjanjikan akan memberikan insentif khusus bagi perusahaan yang berhasil mengembangkan kendaraan emisi rendah. Saat ini Kemenperin tengah menyelesaikan skema insentif untuk program kendaraan emisi rendah. Program tersebut merupakan lanjutan dari program yang sudah bergulir sebelumnya, yakni Kendaraan Bermotor Hemat Bahan Bakar dan Harga Terjangkau (KBH2) atau low cost and green car (LCGC). Namun begitu, kebijakan insentif itu baru dapat terlaksana apabila BBM Euro 4 sudah tersedia pada tahun 2019 atau lebih cepat.