INDUSTRY.co.id - Jakarta – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan pentingnya meningkatkan budaya membaca dan kecakapan literasi sebagai bagian dari upaya membangun peradaban bangsa. 

Advertisement

Pernyataan ini disampaikan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Perpustakaan 2025 yang mengusung tema “Sinergi Membangun Budaya Baca dan Kecakapan Literasi untuk Negeri.”

Menurut Menteri Dikdasmen, rendahnya tingkat literasi dan numerasi di Indonesia, sebagaimana terlihat dari skor PISA, menjadi alasan utama pentingnya program ini. 

Advertisement

“Banyak data yang menjadi acuan mengapa tema ini menjadi begitu penting, terutama dikaitkan dengan kemampuan literasi dan numerasi bangsa Indonesia dilihat dari skor PISA dan bagaimana budaya membaca di Tanah Air,” jelasnya.

Untuk meningkatkan budaya membaca, Abdul Mu’ti menekankan pentingnya ketersediaan bahan bacaan yang berkualitas. 

Advertisement

“Tradisi membaca secara implisit menegaskan pentingnya tradisi menulis. Sehingga antara membaca dan menulis adalah dua aktivitas yang tidak dapat dipisahkan,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa buku dan bahan bacaan yang bermutu dapat menumbuhkan minat baca masyarakat. Oleh karena itu, gerakan literasi harus melibatkan banyak pihak agar budaya membaca semakin berkembang. 

Advertisement

“Bacaan bermutu juga menjadi penting agar minat baca tumbuh dan budaya membaca terus berkembang di masyarakat. Gerakan ini perlu didukung dengan sinergi yang melibatkan seluruh masyarakat,” lanjutnya.

Dalam upaya meningkatkan literasi, Kementerian Dikdasmen menerapkan pendekatan Partisipasi Semesta dengan membangun kemitraan strategis bersama berbagai pihak. 

“Seberapa pun dana yang kita miliki, tidak akan pernah cukup kalau bekerja sendiri dan tidak bersinergi dengan masyarakat,” ujar Abdul Mu’ti.

Abdul Mu’ti mengapresiasi Perpustakaan Nasional (Perpusnas) atas komitmennya dalam membangun budaya baca. Ia menegaskan bahwa pustakawan memiliki peran penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. 

“Pustakawan mungkin profesi yang tidak menarik bagi banyak orang dan tidak banyak menjanjikan secara ekonomi. Tetapi kita harus bangga karena itu sumbangan kita untuk memajukan bangsa ini,” ucapnya.

Dalam perjalanannya ke luar negeri, ia melihat bagaimana pustakawan memanjakan mahasiswa dengan layanan terbaik. 

“Bahkan ketika bukunya tidak ada di situ, adanya di kampus lain, sampai dipesankan bukunya dengan biaya dari perpustakaan,” tuturnya.

Ia juga menyoroti pentingnya pelestarian naskah kuno sebagai warisan budaya yang harus dijaga. 

“Terkait naskah kuno, masih ada naskah hasil karya anak bangsa di luar negeri yang belum dimiliki negara. Padahal hal ini merupakan warisan budaya yang menginspirasi generasi bangsa,” ujarnya.

Rakornas Bidang Perpustakaan merupakan wadah koordinasi bagi pemangku kepentingan dalam dunia literasi. Tujuan utama kegiatan ini adalah merumuskan strategi yang terintegrasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, komunitas, dan sektor swasta dalam meningkatkan literasi nasional.