INDUSTRY.co.id -Jakarta-Rupanya perbankan nasional masih enggan untuk membiayai starup company. Perusahan rintisan dianggap belum bangkable, sehingga belum layak menpatakan kucuran kredit. Bahkan untuk sekelas perusahaan berbasis online saja, belum ada bank yang melirik.
“Untuk kredit ke starup company belumlah, itu belum layak karena mereka masih perusahaan rintisan,” kata Direktur Utama Bank Victoria Tbk, Daniel Budirahayu di Jakarta, Senin (7/8/2017).
Sebelumnya, ia memproyeksikan pertumbuhan kedit hingga akhir tahun dapat tumbuh kisaran 11 sampai 13%. Nantinya sebagai penopang pertumbuhan tersebut ada dari beberapa sector. Sebagai bank kecil, bank ini tetap optimis akan bertumbuh sesuai ekspektasi.
Menurut dia, pertumbuhan tersebut dapat dicapai karena melihat sisi dana penyaluran kredit masih punya ruang. Loan to Deposit Ratio (LDR) atau rasio simpanan terhadap kredit kisaran 65%.
“Kita harapkan pertumbuhan bisa mencapai 11% sampai13%,mungkin minimal 12% kita akan capai sampai akhir tahun ini,” kata dia.
Dia mengakui penayaluran kredit semester II kedepanya ada segmen yang harus diantisipasi. Mengingat sector tersebut, kiranya belum lepas dari perlambatan ekonomi. Sebagaimana diketahui pertumbuhan ekonomi 5,01%. Untuk target laba bersih hingga akhir tahun, ia prediksi pihaknya dapat mencapai 30% sampai 40%.
Adapun focus penyaluran kredit disalurkan kepada UKM dan industry ritel.Ruang LDR kita 65% dan bisa digenjot sampai 80%.Dari segi permodalan untuk genjot kredit, Bank Victoria mencatatkan rasio CAR sebesar 19,3% pada akhir 2016. Sedangkan setelah DEG masuk, CAR bank menjadi sebesar 23,3%.
“Memang beberapa sekror masih berat ya, saya optimis ko Indonesia akan maju dengan spending pemerintah yang cukup maju dan koomoditas price yang ada perbaikaa harusnya ekonomi Idonesia sih akan mencapai target seperti yang disampaikan OJK atau Bank Indonesia 5,2%. Kita sih optimis,” jelas dia.