INDUSTRY.co.id - Jakarta - Kuliah Umum Bisnis Islam di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia yang membahas perkembangan industri asuransi syariah di Inggris dan Indonesia, digelar baru-baru ini. 

Advertisement

Acara yang turut dihadiri oleh Gunawan Yasni, Bendahara Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), Jon Guy, Secretary-General, The Islamic Insurance Association of London (IIAL), dan Erwin Noekman, Direktur Eksekutif, Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) ini, menjadi momentum bagi kedua negara untuk membuka kesempatan lebih jauh lagi di masa mendatang dalam mendorong keuangan islam secara global.

Dalam acara ini, Prudential Syariah perkuat komitmennya mendorong pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia melalui peningkatan literasi dan inklusi asuransi jiwa syariah, khususnya di kalangan generasi muda.

Advertisement

Bondan Margono, Head of Product Development, Prudential Syariah berharap diskusi melalui kuliah umum ini dapat membangun hubungan kuat antara Indonesia dan Inggris dalam mengembangkan industri asuransi syariah. Terlebih, Inggris merupakan salah satu negara pertama di Eropa yang menerapkan sistem ekonomi Islam dan juga sebagai pusat keuangan Islam di barat.

"Dan yang terpenting, kami harap mahasiswa yang hadir juga dapat ikut berpartisipasi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi syariah” ujar Bondan Margono.

Advertisement

Walaupun Indonesia memiliki potensi besar untuk sektor keuangan syariah, sektor asuransi syariah masih belum berkembang secara optimal. Hal ini salah satunya ditandai dengan tingkat literasi dan penetrasi asuransi syariah yang masih rendah, tertinggal jauh dibandingkan asuransi konvensional. 

Di kesempatan yang sama, Bondan Margono, menyampaikan komitmen Prudential Syariah untuk mendorong pertumbuhan industri asuransi syariah di Indonesia diwujudkan dalam tiga strategi utama, yaitu inovasi, kolaborasi, dan digitalisasi. 

Advertisement

Tak hanya menawarkan produk dan layanan, Prudential Syariah juga memiliki komitmen untuk mempercepat literasi keuangan syariah Indonesia dengan meluncurkan Sharia Knowledge Center (SKC) pada September 2022 untuk menjadi medium kolaborasi seputar ekonomi dan keuangan Syariah yang berlandaskan pada empat pilar, yaitu, pilar informasi, literasi, inovasi, dan kolaborasi. 

Dalam pemaparan dalam kuliah umum tersebut, dijelaskan juga perbedaan antara Indonesia dan Inggris jika dilihat dari lanskap syariah. 

Indonesia dan Inggris memiliki perbedaan dalam implementasinya. Di Indonesia, industri asuransi diatur dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta didukung oleh Dewan Syariah Nasional – Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). Sedangkan di Inggris, sistem regulasi diatur oleh Financial Conduct Authority (FCA). 

Konsumen di Indonesia pun lebih didominasi oleh Muslim yang didorong oleh prinsip agama dan keinginan untuk solusi keuangan yang sesuai dengan syariah. Berbeda halnya di Inggris, konsumen berasal dari Muslim maupun non-Muslim yang cenderung mencari produk keuangan bertanggung jawab secara sosial. 

Sementara, dari segi potensi, Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia dengan 86% dari total populasi beragama Islam , memiliki potensi besar untuk keuangan syariah dibandingkan Inggris.  

“Melihat hal tersebut, Prudential Syariah berkomitmen untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi syariah dan memenuhi kebutuhan perlindungan kesehatan serta finansial masyarakat Indonesia," tutup Bondan.