NIVA, Produk Kesehatan Karya Anak Bangsa Pertama untuk Skrining Kardiovaskular dan Stroke

Oleh : Abraham Sihombing | Jumat, 08 Desember 2023 - 08:26 WIB

Dokter senior spesialis jantung, dr. Jetty H Sedyawan, Sp. JP (K), FIHA, FAPCC, FAsCC, ketika menjelaskan tentang alat Non-Invasive Vascular Analyzer (NIVA).
Dokter senior spesialis jantung, dr. Jetty H Sedyawan, Sp. JP (K), FIHA, FAPCC, FAsCC, ketika menjelaskan tentang alat Non-Invasive Vascular Analyzer (NIVA).

INDUSTRY.co.id - Bogor - Perkembangan industri kedokteran di Indonesia terus bertumbuh. Namun, kondisi ini belum diimbangi dengan ketersediaan alat kesehatan produksi lokal yang memadai. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI pada 2023, industri farmasi dan alat kesehatan di tanah air sampai saat ini masih mengalami ketergantungan pada negara lain, mulai dari bahan baku hingga teknologi.

 

Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan Dr. DRA. Lucia Rizka Andalucia M.Pharm , MARS, mengatakan, selama masa pandemi kita memiliki pengalaman yang buruk dan kita melihat bahwa kita mengalami kesulitan mulai dari obat, alat kesehatan hingga oksigen. Melihat hal itu, kita menata kembali langkah yang tepat untuk kepentingan masyarakat. Kemenkes berkomitmen melaksanakan transformasi kesehatan dengan enam pilar yaitu transformasi layanan primer, layanan rujukan, Sumber Daya Manusia (SDM), ketahanan kesehatan, pembiayaan dan sistem digital.

 

“Pelayanan kesehatan primer menjadi lebih utama dari sekedar mengobati. Kebutuhan kesehatan di tanah air akan tumbuh. Paling tidak kebutuhan alat kesehatan juga bisa tumbuh sekitar 12% pada 2023,”  ujar Lucia Rizka  dalam sambutannya pada Seminar Kesehatan Penyakit Kardiovaskular dan Stroke, Kamis (07/12/2023) di RS PMI - Bogor.

 

Kondisi pertumbuhan ini justru masih menghadapi tantangan dari suplai alat kesehatan. Lucia bilang bahwa masih banyak alat kesehatan yang merupakan produk impor. Paling tidak ada sebanyak 70% alat kesehatan di Indonesia masih didatangkan dari negara lain. Disisi lain, investasi negara dari APBN untuk riset kesehatan masih rendah hanya 0,2 persen dari APBN.

 

Melihat kebutuhan alkes yang cukup tinggi dan masih di dominasi oleh impor, STEI-ITB dan PT Selaras Citra Nusantara Perkasa Tbk (SCNP) berkolaborasi melakukan kegiatan riset dan pengembangan AKD yaitu NIVA (Non-Invasive Vascular Analyzer).

 

Dokter senior spesialis jantung, dr. Jetty H Sedyawan, Sp. JP (K), FIHA, FAPCC, FAsCC mengatakan, Kita tahu bahwa peraturan pemerintah impor alat kesehatan sudah tidak boleh, dan kita saat ini sudah 42,6 persen. Saat ini, produk NIVA sudah masuk ke dalam E-katalog kementerian kesehatan sehingga sudah bisa dibeli oleh rumah sakit milik pemerintah.

 

Sekarang NIVA sudah mengantongi izin edar karena mengantongi perizinan secara resmi dari pemerintah dan dalam tahap sosialisasi dan pendistribusian. Dia mengatakan, di Palembang saat ini sudah ada 10 Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) yang menggunakan NIVA, LEMHANNAS dan juga Kemenkes.

 

Saat ini sudah lebih dari 100 unit NIVA yang terjual dan ditargetkan untuk 2024 bisa terjual hingga 1000 unit, adapun harga satu unit NIVA dibandrol seharga Rp253 juta. Bahkan Dia menyebut produk hasil kolaborasi SCNP dan STIE-ITB ini juga telah dilirik oleh Kimia Farma.

 

Kurangnya Alkes AKD inilah yang menjadi salah satu alasan utama PT Selaras Citra Nusantara Perkasa Tbk (SCNP) masuk ke ranah produksi alat kesehatan terkait dengan penyakit jantung dan pembuluh darah. Selain itu, hal tersebut untuk mewujudkan dukungan nyata SCNP terhadap Pemerintah akan program kesehatan yang menjadi salah satu prioritas di APBN 2023.

 

NIVA (Non-Invasive Vascular Analyzer) telah mengantongi izin edar alkes dalam negeri dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Diterbitkan  Maret 2023 lalu, izin edar tersebut diberikan melalui PT Selaras Citra Nusantara Perkasa, Tbk (SCNP). Dengan ini maka NIVA menjadi alat kesehatan dalam negeri (AKD) pertama yang telah resmi digunakan.

 

Untuk distributorship, SCNP bermitra dengan PT Selaras Medika Digital Indonesia (SMDI). Strategi distribusi AKD oleh para distributor akan fokus pada upaya pengembangan jaringan penyedia layanan kesehatan jantung dan pembuluh darah selaku pengguna jasa screening NIVA.

 

Secara eksplisit strategi bisnisnya adalah membangun relationship yang baik dan kuat dengan pihak produsen, yang memungkinkan distributor melakukan enrichment terhadap produk alkes yang ditawarkan kepada target market. Perseroan juga mengembangkan jaringan penyedia layanan kesehatan untuk memastikan bahwa perangkat tiba (delivered) ke pengguna akhir dalam kondisi yang baik.

 

SCNP akan menciptakan strategi pemasaran dan penjualan yang efektif, dalam hal ini mencakup pemanfaatan iklan, social media dan inisiatif promosi lainnya untuk menjangkau para pelanggan potensial. Menyediakan layanan manajemen logistik dan sistem inventaris produk Alkes, yang mencakup storage (gudang), pengemasan dan pengiriman ke para pelanggan dengan tepat waktu dan efisien.

 

kemitraan strategis antara produsen-distributor ini akan sangat membantu Pemerintah dalam program hilirisasi produk-produk hasil riset alat kesehatan dalam negeri. Dengan hadirnya NIVA ke pasar domestik, akses masyarakat terhadap jasa screening jantung dan pembuluh darah semakin memungkinkan, oleh karena biaya screening NIVA relatif lebih terjangkau dibandingkan perangkat alkes sejenis yang saat ini didominasi oleh produk impor.

 

Mengacu pada data di situs BPJS Kesehatan, Penyakit jantung dan pembuluh darah masih menjadi top killer disease. Data menyebutkan bahwa cardiovascular diseases masih menjadi perhatian utama Pemerintah dalam aspek pembiayaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).  Ini disebabkan penyakit jantung termasuk kategori katastropik dan menjadi penyakit yang menelan biaya sangat besar dalam program JKN yang sangat membebani Anggaran Negara. Perlu sinergi ragam pihak di industri yang didukung oleh Pemerintah agar dapat mewujudkan program kesehatan jantung dan pembuluh darah secara efektif dalam upaya penghematan anggaran.

 

Dengan kehadiran AKD NIVA dalam industri kesehatan di Indonesia diharapkan alat ini dapat memberikan manfaat dalam upaya  pencegahan penyakit jantung dan pembuluh darah di Indonesia. ***

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Presiden Jokowi (ist)

Jumat, 01 Maret 2024 - 17:30 WIB

Dahsyat! IKN Magnet Baru Investasi, Jokowi: Yang Antre Banyak...

Ibu Kota Negara (IKN) tengah menjadi incaran para investor. Bak gadis cantik, investor rela antre untuk menanamkan modalnya di IKN. “Yang antre ini banyak, hanya mengatur di mana lahan yang…

Ilustrasi FMCG E-commerce

Jumat, 01 Maret 2024 - 16:46 WIB

Jelang Ramadhan, Jumlah Produk Terjual F&B di E-commerce Meningkat Hingga 75 Persen

Beberapa hari jelang menyambut Ramadhan, Compas.co.id selaku E-commerce Market Insight for FMCG Brands secara seksama memonitoring keadaan e-commerce di Indonesia, khususnya untuk sektor Fast…

Panglima TNI Dampingi Presiden RI Kunjungan Kerja Ke IKN

Jumat, 01 Maret 2024 - 16:24 WIB

Panglima TNI Dampingi Presiden RI Kunjungan Kerja Ke IKN

Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto mendampingi Presiden RI Ir. H. Joko Widodo melaksanakan peresmian Pabrik Amonium Nitrat di Bontang, peletakan batu pertama/groundbreaking kantor Bank…

Irfan Setiaputra Dirut Garuda Indonesia

Jumat, 01 Maret 2024 - 15:04 WIB

Optimalkan Momentum Kebangkitan Pariwisara, Maskapai Penerbangan Pemerintah Tingkatkan Frekuensi Penerbangan

Selain meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara melalui penambahan frekuensi penerbangan rute internasional mulai akhir Maret 2024, Garuda Indonesia juga secara bertahap menambah frekuensi…

HR Talks: Memperkenalkan Revolusi Bisnis Melalui HR-Tech Bersama Jobseeker Company

Jumat, 01 Maret 2024 - 14:29 WIB

HR Talks: Memperkenalkan Revolusi Bisnis Melalui HR-Tech Bersama Jobseeker Company

Jakarta, DKI Jakarta - 24 Februari 2024 - Jobseeker Company dengan bangga mengadakan "HR Talk: Leveraging HR-Tech to Scale-Up Your Business," acara komunitas yang akan berlangsung pada 29 Februari…