INDUSTRY.co.id - Jakarta - Industri Mebel dsn Kerajinan nasional tengah memperluas pasar 'emerging market' selain kawasan Eropa dan Amerika Serikat antara lain, Timur Tengah, India, China, Afrika, Jepang, hingga ASEAN.
Timur Tengah digadang-gadang akan mampu menjadi negara tujuan ekspor produk furnitur dan kerajinan. Adanya komitmen dari Pangeran Arab Saudi, Mohammed Bin Salman yang ingin menjadikan Timur Tengah atau Middle East sebagai New Eropa tentunya memerlukan pembangunan infrastruktur termasuk properti yang masif.
Kawasan emerging market selanjutnya adalah India, negara dengan pertumbuhan yang sangat pesat.
"India akan terus tumbuh selama dekade berikutnya seiring dengan perluasan infrastruktur yang menghubungkan kota-kota besar, serta ada program pemerintah yang mendorong pembangunan kawasan perumahan baru serta pertumbuhan jumlah kawasan perkantoran," kata Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), Abdul Sobur di Jakarta (23/10).
Tahun 2022, pasar furnitur India menyentuh USD 23,12 miliar dan diperkirakan akan mencapai USD 37,72 miliar pada akhir tahun 2026 dengan pertumbuhan CAGR 13,37% dari tahun 2020-2026. India adalah negara konsumen furnitur terbesar ke-4 dan pasar furnitur terbesar ke-14 di dunia.
Pasar lainnya adalah Afrika yang selama ini masih belum termaksimalkan dan mulai menjadi bagian dari penetrasi pasar.
"Pasar Afrika, seperti Mesir, Maroko dan negara lainnya juga masih merupakan pasar yang potensial untuk dijajal," terangnya.
Kawasan Asia lain, seperti China juga memiliki potensi untuk ditembus. Meskipun diketahui bahwa China merupakan produsen furnitur terkemuka dunia, namun, secara ciri, produk mereka lebih beriorentasi massif atau mass product.
Sementara itu, pasar ASEAN termasuk Filipina, merupakan pasar emerging market selanjutnya yang perlu dicermati secara serius.
Apalagi dengan adanya AFTA atau ASEAN Free Trade Agreement yang mendukung iklim perdagangan di wilayah ASEAN semakin menguntungkan, karena adanya penurunan tarif barang dagang serta pajak bagi negara-negara di Asia Tenggara.
Dijelaskan Sobur, strategi untuk membidik pasar emerging market merupakan strategi yang tepat, demi mengatasi penurunan pasar akibat tidak menentunya pasar tradisional sebelumnya, yaitu Eropa dan Amerika Serikat. Kondisi pasar kedua wilayah tersebut saat ini terkoreksi dengan cukup signifikan.
"Membidik pasar-pasar baru ini juga sangat penting mengingat masih belum pulihnya dampak pandemi Covid-19 dan invasi Rusia ke Ukraina yang membuat hampir semua sektor industri mengalami pelemahan pertumbuhan," jelasnya.
Seperti diketahui, HIMKI dan pemerintah memiliki target ekspor mebel dan kerajinan nasional sebesar USD 5 miliar pada tahun 2024.
"Sebenarnya, ini bukan sesuatu yang sulit untuk dicapai mengingat potensi yang dimiliki Indonesia cukup besar mulai dari ketersediaan bahan baku, peluang pasar yang terus tumbuh, dan didukung oleh sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni," kata Sekretaris Jenderal HIMKI, Maskur Zaenuri.
Selain itu, saat ini peluang pasar global masih terbuka dan terus bertumbuh didorong oleh maraknya pembangunan yang diproyeksikan akan menciptakan permintaan yang cukup besar akan produk mebel dan kerajinan nasional.
Namun demikian, dibalik potensi yang besar tersebut sampai saat ini para pelaku industri masih juga dihadapkan oleh berbagai permasalahan mulai dari sulitnya mendapatkan bahan baku sesuai kebutuhan, terbatasnya promosi pemasaran, belum berkembangnya kualitas produk dan desain, kurangnya ketersediaan tenaga kerja yang siap pakai, penggunaan teknologi tinggi, hingga akses permodalan yang masih terkendala.
"Dalam merealisasikan target ekspor USD 5 miliar di tahun 2024 dan menyukseskan Indonesia menjadi negara produsen dan eksportir terbesar di kawasan regional perlu dukungan dari para stakeholder khususnya dukungan dari pemerintah," tutup Maskur.