Catatan dari Purwokerto

Oleh : Redaksi | Selasa, 17 Mei 2016 - 00:40 WIB

Catatan dari Purwokerto
Catatan dari Purwokerto

Oleh Sudirman Said (Menteri ESDM)

Koran ‘Radar Banyumas’, Sabtu pagi 14 Mei 2016 menulis headline: “Najwa Shihab Sukses ‘Sihir’ 23.000 penonton”. Koran ini menceritakan betapa penonton acara Mata Najwa On Stage, yang membludak di alun-alun Kota Purwokerto bergeming bahkan ketika hujan deras mengguyur arena. Mereka seperti tak hendak beringsut sedikitpun, tak ingin kehilangan momen selama ‘pertunjukan’ berlangsung.

Boleh jadi Mata Najwa On Stage memang sebuah pertunjukan. Dan boleh jadi sebagian penonton yang rela berbasah-basah, hingga kering lagi, memang hendak menonton artis pujaannya seperti Gita Gutawa atau Endank Soekamti, band yang di kalangan anak muda Jawa Tengah dan Yogya sedang ngehit. Dan tentu saja popularitas Najwa Shihab yang amat terampil, cerdas, dan cantik sebagai tuan rumah Mata Najwa, menjadi magnet tersendiri.

Tetapi, perhelatan besar itu bisa jadi sebuah ikhtiar pendidikan. Empat Bupati muda dan ‘unik’ ditampilkan. Bupati Banyumas Achmad Husein, Alumni Teknik Sipil ITB meninggalkan dunia korporasi yang telah lama digelutinya. Bupati Tegal Ki Dalang Enthus Susmono, harus kehilangan pendapatan ratusan juta rupiah per-pekan sebagai dalang yang amat terkenal. Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo, peraih Bung Hatta Award 2015, pensiun dini sebagai Perwira Angkatan Darat. Serta Bupati Trenggalek Emil Dardak, Doktor Ekonomi yang amat muda, cerdas dan santun, memilih meninggalkan dunia konsep dan nyemplung ke tengah rakyat.

Saya, bersama dua legislator muda: Budiman Sudjatmiko dan Mutia Hafidz menjadi bagian dari acara Mata Najwa On Stage, tampil sesudah keempat Bupati itu selesai diwawancara Najwa Shihab.

Mendengar keempat Bupati bertutur, sekurang-kurangnya ada empat kata kunci yang menjadi benang merah mengapa orang-orang ini dipilih rakyatnya: reputasi, kejujuran, kompetensi, dan ketulusan. Lamanya mereka bertugas bervariasi, ada yang sudah masuk periode kedua, ada yang baru tahun ke tiga, ada pula yang baru dilantik tiga bulan lalu.

Tapi keempatnya menyuarakan hal yang sama. Mereka datang bukan menawarkan diri, tetapi diminta rakyat karena reputasinya. Mereka tawarkan kejujuran, kelurusan, dan kompetensi, bukan “money politics”, menyuap rakyat agar dipilih. Dan mereka jalankan amanah dengan ketulusan, mengajak rakyat menghadapi dan menyelesaikan masalah bersama, bukan janji surga yang melenakan.

Dalam obrolan sambil menunggu giliran tampil di panggung, saya mendengar kegelisahan mereka soal korupsi. Saya menangkap keinginan kuat mereka untuk memajukan daerahnya, mensejahterakan dan membuat pintar warganya. Dari Mas Yoyok, Kang Enthus, Mas Emil, dan Mas Achmad Husein, tertangkap dengan jelas niat luhur menjadi pelayan rakyat, jauh dari euphoria kegilaan pada kekuasaan dan simbol-simbol kebesaran sebagai pejabat publik. Dari mereka, saya belajar bahwa kesederhanaan dan kesantunan yang berpadu dengan visi dan kerja keras, niscaya akan membuahkan kemanfaatan bagi banyak orang.

Sepanjang jalan dengan kereta api kembali ke Jakarta dari Purwokerto, hari sabtu pagi, saya diingatkan oleh dua hal. Pertama, cita-cita para pendiri bangsa kita adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum, dan turut serta dalam membangun ketertiban dunia — seperti tercantum dalam teks Mukadimah UUD 1945. Dalam skala wilayah yang mereka urus, para Bupati ini sesungguhnya sedang mengamalkan apa yang dicita-citakan pendiri bangsa kita, para founding fathers.

Kedua, saya teringat teori kepemimpinan Jim Colins penulis buku ‘Good to Great’ yang terkenal itu. Riset Jim Collins mencatat dari ratusan institusi hebat yang dapat menjaga kelangsungan kehebatannya, biasanya dipimpin oleh seorang yang disebutnya sebagai Pemimpin Level 5. Pemimpin Level 5 adalah pemimpin yang memadukan kerendah-hatian personal (personal humility) dan kekuatan profesionalisme (strong professional drive).

Kombinasi ini disebutnya sebagai paradox: di satu sisi dia tidak menonjolkan diri, selalu rendah hati, santun, dan bersahaja. Di sisi lain, pemimpin seperti ini menunjukkan kegigihan dan kekuatan tekadnya untuk sukses menghadirkan kemanfaatan bagi lingkungan yang dipimpinnya. Empat Bupati yang tampil di Mata Najwa di alun-alun Purwokerto adalah sosok pemimpin yang memikiki karakter sebagai Pemimpin Level 5.

Menerawang jauh ke seantero negeri, otonomi daerah, demokratisasi, dan budaya meritokrasi telah dan akan memberi kesempatan lahirnya pemimpin baru seperti empat Bupati di atas. Kita punya Bima Arya di Bogor, Ridwal Kamil di Bandung, WAlikota Risma di Surabaya, Bupati Nurdin di Bantaeng, dan lainnya.

Di Bojonegoro ada Kang Yoto, tokoh Muhammadiyah yang dicintai warga NU karena kejujuran dan prestasinya. Di Banyuwangi kita punya Abdulllah Azwar Anas yang berhasil membuat mata dunia menengok kota paling timur ujung Jawa.

Pada tingkat Provinsi, Indonesia tentu punya sejumlah Gubernur progresif, jujur dan pekerja keras yang memberi harapan bagi rakyatnya.

Di fungsi legislatif, saya yakin Budiman Sudjatmiko dan Mutia Hafidz punya banyak kolega dengan semangat yang sama; melayani, memfasilitasi, dan memajukan bangsanya.

Di seluruh Indonesia kita punya sekitar 3.000 institusi penting; mulai dari Kementerian Lembaga, Lembaga Non Kementerian, Pemda, Partai Politik, BUMM, BUMD, Perusahaan swasta masuk bursa, hingga ormas dan media berpengaruh.

Saya berfikir jika Indonesia memiliki 3.000 saja pemimpin yang memiliki karakter dan semangat seperti para bupati itu, maka kita akan menjadi bangsa yang maju dan mampu berdiri sejajar bahkan mengungguli bangsa lainnya. Kita butuh 3.000 pemimpin yang paham dan bersedia bekerja untuk mewujudkan cita cita para pendiri bangsa. Mereka yang mampu menjadi teladan dari dua karakter luhur: kerendah-hatian pribadi dan kekuatan profesional.

Di Purwokerto saya belajar dari Mas Enthus, Mas Yoyok, Mas Emil dan Mas Achmad Husein.

Dari seantero Nusantara kita akan belajar lebih banyak hal. Meskipun tampaknya ada sejumlah kasus dimana uang menjadi pemenang, yakinlah bahwa itu suasana temporer saja. Pada akhirnya kebenaran, kebaikan, dan perbaikan akan menjadi pemenang sejati. Seperti sejarah mengajarkan pada kita.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Rayakan HUT Perusahaan dan Hari Kartini, Millennials Askrindo Bersama YALISA Gelar OBSC

Minggu, 21 April 2019 - 20:39 WIB

Rayakan HUT Perusahaan dan Hari Kartini, Millennials Askrindo Bersihkan Ciliwung

Jakarta – Millenials Askrindo laksanakan Operasi Bersih Sungai Ciliwung (OBSC) bersama Komunitas Pencinta Ciliwung YALISA dari bentangan Kalibata sampai dengan MT Haryono dalam rangka merayakan…

Ilustrasi Gunung Agung Bali (Foto Ist)

Minggu, 21 April 2019 - 12:00 WIB

Gunung Agung Bali Kembali Erupsi

Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali, kembali mengalami erupsi pada Minggu (21/4/2019) pukul 03.21 Wita dengan tinggi kolom abu teramati sekitar 2.000 meter di atas puncak atau 5.142 meter…

Mentan Amran Sulaiman di peternakan ayam

Minggu, 21 April 2019 - 09:20 WIB

Sepuluh Alasan Jangan Remehkan Pertanian

Jakarta - Sektor pertanian di era digitalisasi semakin menarik dan digeluti banyak generasi muda. Era ini makin membuktikan bahwa pertanian tak lagi bisa diremehkan. Apalagi, digitalisasi dan…

Dirjen Hortikultura Suwandi. Sesama petani sayuran organik

Minggu, 21 April 2019 - 08:39 WIB

Kementan Genjot Pengembangan Sentra Sayuran Organik di Karanganyar

Kementerian Pertanian (Kementan) terus menggenjot berbagai daerah agar menjadi sentra produksi sayuran organik, salah satunya sentra sayuran organik di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Hal…

TOTAL Synthetic Leather kembali menggelar kembali ajang kreativitas di bidang pemasangan jok mobil sekaligus mengumumkan kehadirannya di ajang pameran Indonesia International Motor Show (IIMS) 2019

Sabtu, 20 April 2019 - 21:31 WIB

TOTAL Kembali Gelar Lomba Pasang Jok Paten di IIMS 2019

TOTAL Synthetic Leather kembali menggelar kembali ajang kreativitas di bidang pemasangan jok mobil sekaligus mengumumkan kehadirannya di ajang pameran Indonesia International Motor Show (IIMS)…