INDUSTRY.co.id - Jakarta - Pemerintah Indonesia dinilai perlu mencontoh dari Thailand terkait populasi kendaraan listrik. Berdasarkan data Counterpoint Global Passenger di kuartal III-2022, Thailand memimpin dengan 59 persen, sementara Indonesia hanya 25,2 persen dalam populasi kendaraan listrik.
Hal tersebut dikatakan Wakil Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FBUI), Khoirunurrofik pada acara seminar nasional 100 Tahun Industri Otomotif Indonesia yang mengusung tema “Percepatan Pengembangan Industri dan Ekosistem Baterai di Indonesia Menuju Populasi Elektrifikasi”, yang dihelat PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Selasa (7/3).
Dikatakan Khoirunurrofik, pertumbuhan populasi kendaraan listrik di Thailand memang sangat luar biasa, terutama di dominasi kendaraan hybird.
"Memang harus diakui secara data populasi kendaraan listrik di Thailand cukup signifikan yang didominasi kendaraan hybird," katanya.
Menurutnya, dalam mempercepat populasi kendaraan listrik, Thailand tidak langsung beralih ke Battery Electric Vehicle (BEV) atau full listrik. Mereka terlebih dahulu mengembanhkan Hybird Electric Vehicle (HEV) yang masih mengkombinasi penggunaan mesin dan baterai.
"Mereka ingin memberikan pengalaman terlebih dahulu untuk masyarakat agar bisa merasakan sendiri teknologi hybird yang dapat menghemat BBM, sampai lebih ramah lingkungan," terang Khoirunurrofik.
Menurut dia, BEV memang mobil yang paling kecil kontribusi emisinya bahkan 100 persen bisa mengurangi. Namun, jangan lupa ada teknologi lain yang juga berkontribusi dalam reduksi emisi.
“Ini hanya mengingatkan kita terhadap pengurangan emisi sebenarnya tidak ada single teknologi yang bisa diadopsi, tapi multi teknologi. Dan, Thailand sudah memberikan contoh,” bebernya.
Dikatakan Khoirunurrrofik, dengan dibukanya semua teknologi juga akan memberikan pilihan kepada konsumen. Apalagi, konsumen Indonesia juga masih sensitif soal harga.
Dirinya kembali membeberkan data secara komulatif populasi kendaraan hybird di Thailand sudah mencapai 160 ribu dan BEV mencapai 40 ribu. Sedangkan Indonesia populasi kendaraan hybird baru menyentuh angka 6 ribu, dan BEV mencapai 10 ribu.
"Memang kalau dilihat dari sisi roadmap-nya, Indonesia tertinggal jauh dari Thailand. Mereka sudah mulai dari tahun 2007, sedangkan Indonesia baru memulai di awal tahun 2014," ungkapnya.

Khoirunurrofik mengungkapkan bahwa massifnya populasi kendaraan listrik di Thailand juga didukung dengan pengembangan infrastruktur pengisian baterai yang meningkat sangat signifikan.
Menurutnya, banyak perusahaan yang telah menggelontorkan dananya untuk pengembangan pengisian baterai di negara gajah putih tersebut, sehingga mampu meningkatkan populasi stasiun pengisian daya mobil listrik itu sendiri. Sedangkan di Indonesia baru tersedia sekitar 400-an stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU).
"Ini sangat penting, dimana SPKLU ini sebagai bagian dari pembangunan ekosistem yang akan mendorong interest dari konsumen," paparnya.
Berdasarkan hasil riset terhadap 1.000 responden yang dilakukan LPEM UI baru-baru ini, terkuak fakta bahwa 70 persen masyarakat Indonesia memiliki keinginan mempunyai kendaraan listrik.
Meski demikian, masyarakat menunggu hingga 1-4 tahun kedepan untuk membeli kendaraan listrik. Alasannya, masih minimnya ketersediaan SKPLU hingga guaranty terkait kendaraan listrik itu sendiri.
Berdasarkan hasil survei tersebut juga diperoleh bahwa sebagian masyarakat tidak ingin membeli mobil listrik dengan alasan tingginya harga mobil listrik dan lagi-lagi terkait minimnya ketersediaan SPKLU di Indonesia.
Dari survei tersebut juga didapat bahwa mereka yang ingin memiliki kendaraan listrik, sebagian sudah memiliki kendaraan listrik. Perlu dicatat yang dimaksud punya kendaraan listrik ini termasuk yang punya mobil hybird
“Pengalaman mereka itu memberikan rasa nyaman, kemudian mereka punya ketertarikan memiliki mobil listrik yang lain,” katanya.
Terkait tingginya harga mobil listrik, Khoirunurrofik menuturkan bahwa komponen terbesar dari mobil listrik adalah baterai. Artinya kalau ingin mengurangi harga kendaraan listrik tentu harus mengurangi harga baterai.
Oleh karena itu, diperlukan R&D yang kuat, serta investasi dari para pelaku usaha di ekosistem kendaraan listrik.
"Maka diperlukan kemudahan-kemudahan investasi untuk menarik investor dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia," katanya.
Dirinya juga memberikan apresiasi kepada pemerintah yang memberikan subsidi untuk kendaraan listrik, baik roda dua maupun roda empat. Namun, katanya, fakta di negara lain terlihat bahwa pilihan antara subsidi dengan pembebasan pajak itu jauh lebih efektif insentif pembebasan pajak.
Menurut dia biasanya subsidi itu memberikan dampak di awal saja, tapi pertanyaannya apakah itu akan substain terus menerus. Apalagi ada sedikit kendalan dari segi input. Misalnya kelangkaan dari baterainya.
Ia juga meminta instansi pemerintah untuk memberi contoh kepada masyarakat terkiat penggunaan kendaraan listrik.
"Kalau pemerintah memulai tentu yang menikmati dan merasakan mobil listrik ini akan lebih banyak, kemudian pemerintah juga bisa mengukur risiko terlebih dahulu, dan kemudian masyarakat yang akan menilai lebih lanjut," tutupnya.