INDUSTRY.co.id -  Bangalore- “Musim sepak bola ini, saya ingin Anda mengerti, setiap 5 detik kita kehilangan tanah seluas satu lapangan sepak bola; tanah menjadi gurun. Dalam 25 tahun terakhir, kita telah kehilangan 10% dari planet (tanah) ini karena penggurunan. Jadi sebagai bagian dari ini, mari kita lanjutkan gerakan (Save Soil) dan sembari bersuka ria,” kata Sadhguru, Pendiri, Isha Foundation, memulai kampanye #ScoreForSoil dalam rangka Hari Tanah Sedunia di Bangalore pada hari Senin.

Advertisement

Diluncurkan dengan latar belakang Piala Dunia Sepak Bola, kampanye #ScoreForSoil mendorong orang-orang untuk memasang video di media sosial yang menunjukan aksi sepak bola terbaik mereka dan #ScoreForSoil untuk mendukung gerakan Selamatkan Tanah yang sedang berlangsung.

Berinteraksi dengan media, setelah peluncuran, Sadhguru mengamati, "Aspek paling signifikan saat ini adalah narasi di planet ini telah bergeser," mengacu pada fakta bahwa kata tanah bahkan tidak sama sekali muncul di COP26 di Glasgow, sementara tanah menonjol di diskusi perubahan iklim dalam COP27 yang diadakan baru-baru ini di Mesir. “Saat kami memulai, ada begitu banyak skeptisisme, tetapi saat ini saya tidak ragu bahwa kebijakan regeneratif tanah di seluruh dunia pasti akan terjadi. Saat ini perhatian saya hanya kecepatan. Untuk menjaga kecepatan, Anda semua harus melantangkan suara dengan berbagai cara agar kecepatan tetap terjaga”, tambah Sadhguru menekankan intervensi kebijakan yang mendesak untuk menghentikan dan membalikkan degradasi tanah.

Advertisement

Pagi itu, Sadhguru terlihat menyusuri jalan-jalan Bengaluru dengan kacamata hitam khasnya dan perlengkapan Save Soil, yang membawa kembali kenangan akan perjalanan sepeda motor yang melintasi 27 negara dengan berkendara sejauh 30.000 km, dan bisa meluangkan waktu untuk menangani 691 acara… semuanya hanya dalam 100 hari.

Di saat dunia dirusak oleh pandemi kesehatan mental, Sadhguru mengaitkan kualitas tanah yang buruk sebagai salah satu faktor yang memberatkan. “Saat ini banyak penyakit kronis dan penyakit jiwa terkait langsung dengan kurangnya mikronutrien yang ada dalam makanan yang kita konsumsi. Dulu ada masa dimana ketika sekedar bisa makan saja itu penting. Sekarang waktunya telah tiba, kita harus menyatakan bahwa kualitas makanan itu penting - sekedar makanan saja itu tidak penting.” Demikian siaran pers yang diterima Redaksi Rabu (14/12/2022)

Advertisement

Kandungan organik dalam tanah merupakan bahan dasar dalam membuat bentuk kehidupan di bumi dan A.S. Kiran Kumar, Mantan Direktur ISRO melihat pengurangannya sebagai ancaman. Menyerukan tindakan korektif, dia berkata, "Di situlah gerakan Selamatkan Tanah, yang memusatkan perhatian bahwa agar bentuk kehidupan dapat bertahan, bahan-bahan yang diperlukan yang ada di dalam tanah harus dibawa kembali dan kita perlu bekerja untuk itu."

Pada pertanyaan yang berkaitan dengan gerakan Cauvery Calling, Sadhguru mengungkapkan, “Secara keseluruhan kita telah mengubah sekitar 132.000 petani menjadi pertanian regeneratif yang mencakup pertanian berbasis pohon,” yang telah menghasilkan peningkatan pendapatan 300%-800% dari petani. Para petani di wilayah tersebut mulai menyadari keuntungan finansial dan ekologis, karena hampir 27-30% pengambilan bibit pohon tahun ini terjadi tanpa insentif, Sadhguru menekankan. Cauvery Calling adalah kampanye untuk mendukung petani menanam 2.420.000.000 pohon di tanah pribadi mereka dan merevitalisasi Cauvery dan bertindak sebagai model yang dapat dibuktikan untuk menyelamatkan tanah.

Advertisement

Dukungan yang berkembang untuk gerakan Selamatkan Tanah terbukti lagi hari ini, ketika orang-orang di seluruh dunia berkumpul pada Hari Tanah Sedunia untuk memperkuat pesan gerakan tersebut. Lebih dari 1.000 gerakan kesadaran diadakan di seluruh dunia untuk mendorong pemerintah masing-masing agar segera bertindak memerangi kepunahan tanah. Di India, acara Save Soil dilakukan di lebih dari 100 lokasi. Di wilayah APAC, restoran menayangkan video Save Soil sebelum dan sesudah pertandingan Piala Dunia FIFA. Pertemuan Save Soil terlihat di depan parlemen di 18 kota.

Menurut The Economics and Land Degradation (ELD) Initiative 2015, 52% dari tanah pertanian planet kita telah terdegradasi dan tidak dapat menghasilkan. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) memperkirakan hasil panen bisa turun hingga 50% di wilayah tertentu pada tahun 2050 karena perubahan iklim dan kepunahan tanah. Memahami urgensinya, Sadhguru, pada bulan Maret, melakukan perjalanan sepeda motor sendirian selama 100 hari, 30.000 km melintasi 27 negara di Eropa, Asia Tengah, Timur Tengah, dan 11 negara bagian India.

Gerakan tersebut, dalam rentang waktu singkat, telah meraih sukses besar, menjangkau lebih dari 3,91 miliar orang. 81 Negara telah berkomitmen untuk membingkai kebijakan ramah tanah. Organisasi internasional yang memimpin aksi ekologis, seperti International Union of Conservation of Nations (IUCN) dan badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) - Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Memerangi Desertifikasi (UNCCD), Program Pangan Dunia (WFP) - dan banyak lainnya telah datang untuk bermitra dengan gerakan Save Soil.