INDUSTRY.co.id, Jakarta - Kota-kota besar di Asia Pasifik masih menjadi incaran para investor perhotelan. Di antaranya adalah Hong Kong, Singapura, Sydney, dan Melbourne. Keempat kota ini dinilai menawarkan prospek positif perkembangan pariwisata dan perdagangan dengan keseimbangan dari sisi permintaan dan suplai.

Advertisement

Selain keempat kota tersebut, investor juga mulai mencari peluang di negara berkembang, salah satunya adalah Vietnam.

Berdasarkan data Jones Lang LaSalle (JLL), volume investasi perhotelan pada paruh pertama tahun ini dilaporkan lebih dari US$2,9 miliar. Adapun, JLL mencatat adanya kesepakatan hingga 28 hotel di enam negara dengan perkiraan rata-rata tiap transaksi mencapai US$486.000.

Advertisement

“Hong Kong dan Australia masih mendominasi pasar regional dengan kontribusi sebesar US$1,5 miliar. Ini dipicu oleh pertumbuhan sektor pariwisata yang signifikan dan kinerja perdagangan yang solid, terutama di Australia,” kata Frank Sorgiovanni, Head of Research, Asia Pacific at JLL Hotels & Hospitality Group, mengutip keterangan resminya, Kamis (06/7/2017).

Australia masih menjadi incaran favorit para investor hotel Asia dengan peluang transaksi pembelian yang terjadi belakangan ini. Pasar investasi hotel di Australia saat ini dipimpin oleh Sydney dan Melbourne.

Advertisement

Adapun, mayoritas transaksi berada di Melbourne, tidak termasuk penjualan InterContinental Sydney Double Bay yang menelan biaya hingga US$104 miliar di Sydney. Properti tersebut dibeli oleh konsorsium investor asal China.

“Transaksi jual beli hotel diprediksi masih berlanjut di Australia seiring dengan rendahnya suku bunga acuan, outlook ekonomi yang positif, dan depresiasi dolar Australia,” tekannya.

Advertisement

Meskipun begitu, dia mengungkapkan peluang transaksi jual beli hotel di Asia tak kalah positif, terutama di Vietnam dan Kamboja yang didukung oleh kedatangan turis asal China.