INDUSTRY.co.id - Bisnis properti di Daerah Istimewa Yogyakarta masih lesu hingga penghujung 2016 sehingga target penjualan 2.200 rumah tahun ini sulit tercapai, kata Ketua Real Estate Indonesia (REI) DIY Nur Andi Wijayanto.

Ia mengatakan di Yogyakarta, Kamis (15/15), masih rendahnya tren bisnis properti di Yogyakarta antara lain disebabkan sebagian besar pelanggan yang memiliki latar belakang pekerjaan di bidang pertambangan dan sektor industri berbasis komoditas sedang mengalami kelesuan.

"Kondisi kelesuan ini dipengaruhi secara linear dengan kondisi pelemahan harga-harga komoditas yang saat ini terjadi," kata Andi.

Ia menyebutkan per September 2016 penjualan rumah oleh para pengembang anggota REI di bawah 1.000 unit, masih jauh dari target tahun ini mencapai 2.200 unit.

Menurut dia, penurunan atau kontraksi sektor properti sebesar 30-40 persen disupply oleh rumah dengan harga Rp500 juta ke atas. Adapun untuk segmen rumah menengah ke bawah dengan harga Rp300 juta ke bawah, termasuk untuk rumah subsidi/FLPP tidak mengalami kontraksi signifikan.

Padahal, menurut Andi, jika dilihat dari data penyediaan properti di DIY berdasarakan segmentasi pasar, untuk harga rumah Rp500 juta ke bawah (segmen middle low) hanya mencapai 15 persen. Sedangkan rumah dengan harga Rp500 juta- Rp1 miliar (middle up) mencapai 65 persen, dan rumah dengan harga Rp1 miliar mencapai 20 persen.

"Terbentuknya struktur `supply` di DIY seperti itu disebabkan salah satunya karena faktor harga tanah di DIY yang cukup tinggi," kata dia.

Meski demikian, sebelum akhir 2016 ia optimistis penjualan perumahan di DIY masih akan meningkat seiring dengan rencana penyelenggaraan pameran REI pada Desember yang diharapkan berkontribusi 10 persen dari target 2.200 pada 2016.(Hrb)