INDUSTRY.co.id - Prabumulih - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) menyerahkan fasilitas mesin dekortikor (pemecah serat alam) kepada dua kelompok industri kecil menegah (IKM) penghasil serat alam nanas di Kota Prabumulih, Sumatera Selatan.

Advertisement

Adapun kedua kelompok IKM penhasil serat alan nanas tersebut yaitu, kelompok serat nanas Riyadi dan kelompok serat nanas Sejahtera.

Kelompok serat nanas Riyadi yang terdiri atas empat anggota akan menerima satu unit dekotikator, dan kelompok serat nanas Sejahtera yang terdiri atas enam anggota akan menerima dua unit mesin. 

Advertisement

“Kemenperin sebagai fasilitator nantinya akan sangat membutuhkan bantuan Pemerintah Daerah untuk membina dan mengawasi perkembangan WUB IKM yang telah difasilitasi melalui pelatihan bimbingan teknis maupun fasilitasi mesin peralatan ini," kata Direktur Jenderal IKMA Kemenperin Reni Yanita di Prabumulih, Sumatera Selatan, kemarin.

Dalam kesempatan yang sama, Ditjen IKMA Kemenperin juga bersinergi dengan Pemerintah Kota Prambumulih untuk melaksanakan Program Santriprineur. 

Advertisement

Program tersebut diwujudkan sebagai bimbingan teknis (bimtek) WUB IKM pakaian jadi di pada tanggal 7 hingga 10 November 2022. 

Bimtek ini diikuti oleh 25 orang peserta yang berasal dari Pondok Pesantren Modern Al-Furqo, Pondok Pesantren Modern Darussalam, Pondok Pesantren Nahdatul Ulama dan Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadin. 

Advertisement

Empat kelompok pesantren tersebut dan satu kelompok mini garmen juga mendapatkan fasilitas mesin peralatan berupa total 42 mesin jahit dan 12 mesin obras. 

Penyerahan bantuan mesin peralatan dan bimtek dilaksanakan di Pondok Pesantren Al Furqon Kelurahan Tanjung Rambang, Kecamatan Rambang Kapak Tengah, Kota Prabumulih. 

Tak hanya itu, peserta bimbingan teknis akan mendapatkan materi berupa kewirausahaan, Kredit Usaha Rakyat (KUR), dan Nomor Induk Berusaha (NIB) serta materi dan praktik pengembangan produk IKM pakaian jadi. 

"Pemerintah harus dapat merangkul seluruh stakeholder seperti asosiasi, pelaku usaha, desainer, akademisi, influencer, marketplace hingga konsumen untuk dapat mewujudkan industri pakaian jadi dalam negeri yang berdaya saing," ucap Reni.