INDUSTRY.co.id - Pariwisata setelah pasca pandemi mengalami peningkatan, keadaan ini dapat dilihat dari peningkatan turis baik turis internasional maupun turis lokal. Keadaan ini diperkuat dengan data yang dikeluarkan oleh hasil kemitraan antara Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri Kemlu RI dengan Sekolah Kajian Stratejik dan Global Universitas Indonesia, yang melakukan promosi-promosi mengenai Indonesia ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, Brasil. Promosi-promosi ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan turis mancanegara yang nantinya akan berguna untuk meningkatkan perekonomian Indonesia khususnya di bidang pariwisata.

Cara lainnya untuk meningkatkan datangnya turis asing dan turis domestik adalah dengan meningkatkan pengembangan desa wisata dengan melakukan berbagai insentif kepada desa. Insetif yang dilakukan oleh pemerintah pusat. Salah satu insentif yang dilakukan oleh pemerintah pusat adalah dengan pemberian dana insentif kepada desa berbasis kinerja. Keadaan ini dapat dilihat jika ada kenaikan Indeks Pembanguan Manusia (IPM). Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dapat dilakukan dengan pengembangan desa wisata berkelanjutan yang berbasis komunitas.

Salah satu penggiat desa wisata yang sedang berkembang adalah Desa Wisata Kutu Wetan, Ponorogo. Sekilas tentang Ponorogo pasti kita akan diingatkan dengan Reog-nya. Ternyata selain Reog, di Desa Wisata Kutu Wetan ini juga melakukan pengembangan wisata yang berbasis komunitas. Komunitas yang terdapat di Desa Wisata Kutu Wetan adalah komunitas Reog, Komunitas Wanita Tani (KWT), serta komunitas lainnya yang dapat menunjang pariwisata.

Penulis mendapatkan kesempatan untuk membantu pengembangan Desa Wisata Kutu Wetan melalui tim yang dikepalai oleh Filda Rahmiati, BBA., MBA., yang beranggotakan Grace Amin, S. Psi., M.Psi., Psikolog, dan Hanif Adinugroho Widyanto, S.E., M.M.. Pengembangan Desa Wisata Kutu Wetan ini mendapatkan dana hibah dari pemerintah melalui Kemdikbudristek (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi). Penulis dan tim melakukan kunjungan awal pada tahun 2021 bersama dengan Penggiat Desa Wisata, Bapak Wayan Wardika untuk mendapatkan gambaran dan memotivasi para pemangku kepentingan desa untuk mau maju bersama untuk menjadikan desa wisata. Penulis selaku tenaga ahli pariwisata, melihat bahwa Desa Wisata Kutu Wetan memiliki potensi yang sangat besar untuk menjadi desa wisata yang terkenal di dunia internasional.

Pontensi ini dapat dilihat dengan adanya tempat bersejarah (petilasan) yang biasa dijadikan tempat untuk melakukan ritual yang sering dikunjungi sejumlah orang yang mencalonkan diri sebagai pejabat pemerintah, dikarenakan sejarah yang terkandung di dalamnya. Area tersebut menjadi tempat sakral yang merupakan tempat bersejarah pada jaman dahulu kala, diyakini sebagai Petilasan Demang Suryo Alam atau Ki Ageng Putu Suryo Alam. Area tersebut sekarang terkenal dengan sebutan Suru Gubeng. Pontensi lainnya adalah kondisi lokasi yang dekat dengan kota besar seperti Surabaya, dan kondisi jalan yang cukup bagus, serta pemandangan alam yang asri dan sejuk, sehingga dapat menjadikan pendukung untuk menjadikan Desa Wisata Kutu Wetan menjadi desa wisata yang go international.

Gambar 1. Suru Gubeng, Desa Kutu Wetan

Penulis, selaku tenaga ahli pariwisata, melihat sebuah potensi yang luar biasa, akan tetapi beberapa fasilitas yang krusial seperti penginapan di Desa Wisata Kutu Wetan belum tersedia yang cukup layak. Maka dari itu, penulis mencoba untuk melakukan pendekatan dengan melakukan pengembangan homestay. Terminologi homestay sendiri, para masyarakat, baik itu kepala desa, maupun masyarakat belum memahami. Maka dari itu, penulis menyarankan kepada tim untuk melakukan studi banding ke desa wisata yang sudah maju. Maka terlaksanalah beberapa pemangku aparat desa melakukan kunjungan ke berbagai desa wisata di Bali yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan homestay dan hal-hal lain yang dapat meningkatkan pengembangan desa.

Hasil yang didapat adalah para tetua desa serta aparat desa berkomitmen untuk melakukan kolaborasi tarian, serta diadakannya pembuatan homestay yang bertaraf internasional, sehingga dapat mendatangkan turis internasional.

Selain itu, penulis juga melakukan berbagai masukan kepada tim, seperti grand desain berupa panggung pertunjukan serta pemeliharaan area Suru Gubeng, dan pada saat penulis dan tim ke Desa Kutu Wetan, mereka sedang melakukan pengembangan area Suru Gubeng untuk menjadi lebih nyaman ketika ada kunjungan.

Gambar 2. Pengecekan denah Grand Design di Suru Gubeng

 

Oleh : Felix Goenadhi, S. Psi., M. Par. - Dosen Administrasi Bisnis President University