INDUSTRY.co.id - Jakarta, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Rosan P. Roeslani menilai tutupnya gerai 7-Eleven diakibatkan oleh penerapan model bisnis yang kurang tepat, tidak sesuai dengan kondisi di Indonesia.

"Margin yang tipis dan volume penjualan yang rendah membuat 7-Eleven tutup. Orang membeli satu minuman, tapi nongkrongnya dua sampai tiga jam," ungkap Rosan P. Roeslani di Jakarta (4/7/2017).

Ia menambahkan, pihak 7-Eleven menyewa tempat yang ruangannya luas karena memang diperuntukkan untuk tempat nongkrong meski mrginnya tipis. "Ini jelas berbeda dengan Alfamart dan Indomaret," terangnya.

Alfamart tidak memiliki ruang yang luas, namun menurut Rosan, volume penjualannya tinggi dan lebih baik dari 7-Eleven. "sedangkan di Indomaret orang masuk beli, keluar, dan begitu terus sehingga volumenya banyak," kata Rosan.

Seperti diketahui, penutupan gerai 7-Eleven menjadi perbincangan banyak orang. Padahal, gerai yang hadir 24 jam ini selalu penuh dengan anak muda.

Menurut Rosan, penutupan gerai 7-Eleven akan berdampak cukup signifikan terhadap sektor industri makanan dan minuman. "7-Eleven memiliki banyak cabang, outlet penjualan akan berkurang," ucapnya.

Selain itu, Rosan menjelaskan, banyak faktor yang menyebabkan 7-Eleven seperti sekarang ini. "Faktor salah strategi target pasar hanya salah satunya. Saya harap jangan merambat ke ritel lain," pungkas Rosan.