INDUSTRY.co.id - Jakarta - Apakah Anda sudah mengerahkan segala upaya untuk mentransformasi bisnis Anda secara digital? Apakah Anda telah berinovasi sekuat tenaga untuk mencapai kelincahan maksimal? 

Demi mencapai hasil tersebut, apakah Anda sudah berinvestasi pada segala jenis platform teknologi sumber terbuka (open source) paling mutakhir dan menanggalkan semua elemen yang masih bersifat warisan? Jika Anda adalah lembaga perbankan yang tengah berjuang untuk unggul di sektor jasa keuangan, kemungkinan besar Anda sudah mulai bosan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini. 

Bahkan mungkin Anda sudah jenuh berkutat dengan transformasi dan inovasi; cakrawala digital di hadapan Anda tampak hanya sepenggapaian tangan, tetapi Anda tidak kunjung mampu mencapainya. Bisa jadi, strategi transformasi awan (cloud) Anda disusun berdasarkan siklus anggaran yang lebih didasari politik internal, bukan kenyataan di lapangan.

Ada kemungkinan letak masalahnya bukan di Anda, dan bank-bank lain juga mengalami kendala serupa dalam merekonsiliasi hasrat untuk modernisasi dengan kemungkinan harus merombak total sistem perbankan yang telah dibakukan dan memulai lagi dari Year Zero digital. 

Mungkin sudah saatnya menerapkan pola pikir baru dalam pendekatan terhadap tantangan transformasi, yaitu menggabungkan beberapa pendekatan baru dengan sejumlah investasi teknologi Anda yang selama ini dianggap sukses dan telah menelurkan hasil yang memuaskan selama dua dasawarsa terakhir. 

"Langkah ini jelas lebih bijaksana ketimbang mengoperasikan dua alur teknologi, sumber daya manusia, dan yang paling penting, budaya, sekaligus dilema klasik antara Run the Bank (mempertahankan sistem lama dan memastikannya berjalan lancar) dan Change the Bank (membuka diri terhadap digitalisasi) dalam hal alur kerja dan hasil kerja,' ujar Richard Price, Head of FSI, UK&I, TIBCO.

Jika Anda merasa ada jurang yang mustahil terseberangi antara apa yang perlu dilakukan selanjutnya untuk memperoleh kelincahan dan apa yang sudah Anda capai dengan platform yang ada selama ini, anggap saja salah satu penyebabnya adalah kesenjangan generasi atau budaya. 

Kesenjangan ini ada pada tiap sektor vertikal saat platform tepercaya yang selama ini diterapkan dihadapkan dengan alternatif yang lebih populer di kalangan generasi muda yang gemar membahas GitHub, Kubernetes, dan DevOps, serta menghias Macbook mereka dengan stiker untuk memamerkan kubu platform sumber terbuka (open source) yang mereka pilih. 

Terus terang, mungkin salah satu penyebab kesenjangan ini adalah cara komunitas vendor teknologi berkomunikasi menggunakan bahasa yang kurang akrab di kalangan industri perbankan. Mungkin ini semata faktor budaya atau bahasa. Mungkin juga disebabkan oleh pergeseran tren preferensi penyampaian di kalangan teknisi data (data engineer). 

Apa pun penyebabnya, mungkin informasi yang Anda terima lebih banyak dari sudut pandang TI. Sebaliknya, informasi berdasarkan jenis use case yang lebih akrab bagi lembaga yang sedang berjuang di pasar yang semakin kompleks ini justru kurang memadai.

Pengacuan terhadap teknologi awan juga tidak membantu menyelesaikan masalah. Langkah tipikal berupa pemindahan fungsi-fungsi penting ke platform awan mungkin sudah menyebabkan bank bergelut dengan sejumlah cara baru yang sebenarnya sudah dijalankan di sektor lain. 

Mungkinkah migrasi ke awan dipercepat dengan memperkecil jumlah duplikasi pekerjaan yang sudah dilakukan? Yang jelas, saat ini kita kerap menyaksikan bermunculannya sejumlah standar yang bertujuan untuk meningkatkan interoperabilitas platform awan, sebagaimana terlihat pada Dewan Pengelolaan Data Perusahaan (Enterprise Data Management/EDM Council) beserta kelompok kerja Kapabilitas Pengelolaan Data Awan (Cloud Data Management Capabilities/CDMC) yang dimilikinya. Dalam hal ini, vendor yang lebih mapan menunjukkan kinerja bagus pada aspek seperti skalabilitas dan keamanan. 

Mungkin dalam ketergesaan menuju dunia tempat semua hal divirtualisasikan, dapat disusun, dan diluncurkan di awan, kita mengesampingkan pelajaran yang sebelumnya sudah diperoleh dari aspek-aspek seperti skalabilitas, keandalan, dan kinerja; belum lagi keamanan yang sudah terbukti. 

Dalam upaya berinovasi, mungkinkah kadang-kadang kita melupakan manfaat dari hubungan yang sudah kita punyai? Dan apa gunanya membangun stack yang sama sekali baru ketika Anda bisa menyandingkan elemen baru dengan ekosistem yang saat ini Anda gunakan, baik dalam hal teknologi maupun vendor?

Banyak tantangan yang sudah tertangani oleh teknologi yang sudah ada; paling tidak, kita harus berupaya memanfaatkan pengalaman tersebut. Mungkin semua itu dapat membantu kehadiran hal-hal baru. Silakan buktikan konsep di dunia sumber terbuka (open source) yang terinsulasi, lalu andalkan teknologi yang sudah terbukti atau diperbarui saat meluncurkan inovasi tersebut secara terskala. 

Biar bagaimana pun, menerapkan inovasi secara terskala tidak mudah, sebagaimana halnya sejumlah bank belajar dari pengalaman. Jadi, ketimbang melakukan pemisahan, mengapa tidak berusaha memperoleh manfaat lebih dari investasi yang sudah Anda lakukan? Mari pelajari contoh KBTG Bank di Thailand yang menerapkan teknologi virtualisasi data untuk menyatukan sisi bisnis kegiatan operasionalnya dengan sisi TI dan sukses menghasilkan pengalaman pelanggan yang lebih baik. 

Perjalanan pelanggan mungkin saja pada akhirnya akan memijakkan satu kaki di aplikasi baru dan kaki lainnya di aplikasi warisan, sambil berhati-hati agar tingkat layanan tetap terjaga atau bahkan ditingkatkan.

Jangan merasa tergiring untuk menyiapkan rencana transformasi yang sama untuk semua bidang. Ambil langkah yang sesuai dengan masing-masing bidang. Silakan berinovasi dengan sumber terbuka (open source) dan DevOps, tetapi sebelum menyepakati suatu strategi dan menjalankannya, pahami elemen-elemen pembangun mana yang sudah Anda miliki dan dapat menjadi bagian dari solusi. 

Sebagai perumpamaan, bayangkan tantangan saat merenovasi bangunan lama. Anda bisa memilih menambahkan segala jenis fitur kelistrikan baru untuk dijalankan pada sekring berumur 20 tahun yang dipasang ketika Anda baru saja pindah ke rumah tersebut. Anda juga bisa menambahkan dapur baru tanpa harus mencabut semua pipa ledeng yang sudah ada. 

Oke, mungkin ada beberapa elemen yang sudah tidak lagi sesuai tujuan dan perlu diganti, tetapi Anda tidak harus memulai dari nol sebelum menguji coba semuanya. Anda mungkin akan mendapati bahwa elemen baru dan lama dapat bersanding secara harmonis. Hanya dengan sedikit penyesuaian, Anda dapat memperoleh sesuatu yang berbeda dan unik. 

Faktanya, banyak perusahaan tidak menyadari pencapaian mereka di bidang tempat mereka sedang berupaya berinovasi. Bisa jadi ada aspek lama tapi tersembunyi yang bisa bekerja dengan baik.

Pendekatan apa pun dalam transformasi seharusnya dimulai bukan dengan teknologi, melainkan peninjauan kembali prioritas. Apakah fokus utama Anda terletak pada sumber daya manusia dan budaya, atau sekadar menghasilkan efisiensi kegiatan operasional? Mayoritas bank kemungkinan besar akan sampai pada kesimpulan bahwa prioritas utama mereka adalah pelanggan, yang dalam hal ini adalah nasabah. Jika tingkat kepuasan pelanggan Anda tinggi, yang lain pun akan menyusul. Dinamika ini masih berlaku. 

Yang paling penting untuk Anda ingat adalah tidak ingin mempreteli dan menciptakan kembali fungsionalitas perbankan utama dari awal bukan berarti akhir dari ambisi Anda untuk berinovasi dan bertransformasi.