INDUSTRY.co.id - Harapan tersebut bergema di awal 2016 dan terkubur hingga mendekati akhir tahun. sinyalemen yang sudah mulai tampak di akhir tahun 2016 ini, menjadi kenyataan bahwa industri properti kembali bergairah. Rumah123 sebagai situs properti no 1 di Indonesia kembali menggelar Property Outlook 2017. Rumah123 merupakan bagian dari REA Group yang berkantor pusat di Melbourne, Australia. Property Outlook 2017 ini diselenggarakan di Hotel JW Marriott, Jakarta Selatan pada Rabu (14/12) malam dengan tema “Rebound di Sektor Properti yang Tak Lagi Cuma Mimpi”.
Acara ini menampilkan sejumlah pembicara. Dari pihak perbankan hadir Dendi Ramdani (Vice President Chief Economist Bank Mandiri) dan Handayani (Director Mortgage and Consumer Banking BTN),
Sedangkan dari pihak perusahaan pengembang properti hadir Yance Onggo (General Manager Marketing Citra Raya) serta Andrew Rahardja Kang (Corporate Marketing Deputy & General Manager PT Intiland Development Tbk).
Country General Manager Rumah123 Ignatius Untung mengatakan bahwa tren positif sudah terlihat melalui Rumah123 mendekati akhir tahun 2016. Tercatat adanya pertumbuhan dari sisi penjualan dari data portal properti tersebut.
“Kita melihat ada tanda-tanya kebangkitan. Kita sepakat kalau pada Desember 2016, jadi awal take off, ya belum nge-gas. Ada beberapa indikator, adanya kenaikan penjualan secondary home, dan juga primary,” ujar Untung dalam keynote speech-nya.
“Tren peningkatan penjualan itu terus berlanjut mulai dari Semester II 2016 dan yang paling tinggi terjadi peningkatan pada bulan Oktober 2016. Selain itu, pertumbuhan juga nampak pada mulai dikerjakannya kembali proyek-proyek properti yang sempat tertunda dan bahkan juga ada beberapa proyek yang baru dibangun.” Tambah Untung.
Akan tetapi, sisi baiknya ada bantuan dari pemerintah lewat beberapa kebijakan yang berdampak positif bagi sektor properti. Sebut saja Program Sejuta Rumah yang menyasar masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Juga adanya kebijakan Tax Amnesty.
Ada beberapa hal, alasan properti ke depannya masih melambat kenaikannya. Suku bunga kredit sebesar 10 persen beberapa bulan lalu yang ditetapkan BI dengan tenor 25 tahun, masih masa transisi.
"Tahun ini memang kenaikannya (sektor properti) pelan sekali. Ketimbang 2008 sampai 2011, penjualan properti saat itu sangat mudah sekali. Tetapi, adanya acuan BI (Bank Indonesia) 7 Days Rate sebesar 4,75 persen, sudah banyak membantu. Suku bunga ke depannya saya yakin bakal ngetren. Butuh waktu enam sampai sembilan bulan masa transisinya," ujar Vice President Chief Economist Bank Mandiri, Dendi Ramdani, pada acara Property Outlook 2016.(iaf)