3 Cara Untuk Memajukan Industri Kendaraan Listrik dalam 1 Tahun

Oleh : Terrence Lim | Selasa, 26 Juli 2022 - 10:30 WIB

Terrence Lim, General Manager untuk ASEAN dan Pasifik, Hexagon Manufacturing Intelligence
Terrence Lim, General Manager untuk ASEAN dan Pasifik, Hexagon Manufacturing Intelligence

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Dengan penjualan global kendaraan listrik atau EV yang diprediksi naik menjadi US$34,7 juta pada tahun 2030, analis industri memperkirakan bahwa pada tahun 2040, penjualan mobil listrik akan melewati penjualan kendaraan berbahan bakar fosil atau ICE. Penjualan EV sudah naik 3 kali lipat dengan pangsa 9% dari total mobil yang terjual pada tahun 2021, naik dibandingkan dengan pangsa pasar pada tahun 2019 sebesar 2,5%.

Deloitte dalam perkiraan EV globalnya memperkirakan bahwa industri EV akan tumbuh pada tingkat pertumbuhan tahunan gabungan atau CAGR sebesar 29 per persen selama sepuluh tahun ke depan, dengan total penjualan EV tumbuh dari 2,5 juta pada tahun 2020 menjadi 11,2 juta pada tahun 2025, kemudian mencapai 31,1 juta pada tahun 2030.

Diperkirakan juga bahwa EV saat itu akan menguasai sekitar 32 persen dari total pangsa pasar untuk penjualan mobil baru. Dengan diumumkannya tujuan ambisius pemerintah Indonesia untuk mengembangkan kendaraan listrik (EV), raksasa Asia Tenggara ini siap untuk berakselerasi ke masa depan.

Pada bulan Februari, pemerintah mengumumkan bahwa sebagai bagian dari peta jalan industri otomotif nasional, pemerintah menargetkan produksi EV mencapai 20% dari semua produksi kendaraan pada tahun 2025, dimana industri otomotif domestik mematok sebanyak 600.000 unit mobil listrik dan bus listrik diproduksi hingga tahun 2030-- sebuah langkah yang secara signifikan akan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil di negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia tersebut.

“Langkah-langkah strategis ini juga diharapkan dapat mendukung komitmen Pemerintah Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29% pada tahun 2030 dan mencapai net zero carbon pada tahun 2060,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.
Tidak hanya itu, saat ini sudah ada berbagai aliran investasi ke Indonesia sebagai pemain utama dalam pembuatan baterai EV.

Untuk tahun 2022 saja, sudah ada dua perjanjian terpisah senilai US$15 miliar yang telah ditandatangani untuk mengembangkan rantai nilai baterai di Indonesia - yang pertama, senilai US$9 miliar, antara konsorsium yang dipimpin oleh LG Energy Solution, dan perusahaan pertambangan lokal PT Aneka Tamban (Antam) serta Indonesia Battery Corporation (IBC); yang kedua senilai US$6 miliar, antara Antam dan IBC dengan Ningbo Contemporary Brunp Lygend, anak perusahaan dari Contemporary Amperex Technology Co. Limited. Bahkan CEO Tesla, Elon Musk, ingin segera memindahkan operrasi atau pabrik mobil listriknya di sini.

Sehingga tidak mengherankan, Analisis oleh McKinsey menemukan bahwa penjualan EV di Indonesia kemungkinan akan meningkat secara signifikan di tahun-tahun mendatang. Perusahaan riset tersebut menemukan bahwa permintaan mobil penumpang listrik dapat mencapai 250.000 unit per tahun pada tahun 2030 – atau setara 16% dari semua penjualan mobil penumpang baru, sementara permintaan untuk kendaraan roda dua atau motor listrik dapat mencapai 1,9 juta unit per tahun dalam jangka waktu tersebut, atau 30% penjualan kendaraan roda dua baru.

Proyeksi ini memiliki implikasi yang signifikan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia, kata McKinsey. Elektrifikasi sektor transportasi Indonesia, pada kenyataannya, dalam skenario terbaik, dapat meningkatkan PDB paling tidak sebesar US$35 miliar.

Produsen mobil juga akan bergerak total ke arah kendaraan listrik. Di seluruh dunia, nama-nama besar di industri otomotif telah menggelontorkan dana untuk elektrifikasi. Produsen mobil Jerman Volkswagen misalnya, telah meningkatkan pengeluaran mereka untuk kendaraan listrik menjadi lebih dari setengah dari total pengeluaran mereka. Mereka akan membelanjakan US$100 miliar untuk mempercepat produksi mobil listrik perusahaan.

Produsen mobil lain mengatakan mereka berencana untuk hanya menjual mobil listrik dalam dekade berikutnya: Produsen mobil Jepang Honda mengatakan akan menghentikan semua mobil mesin pembakaran internal (ICE) pada tahun 2040, dan hanya akan menjual mobil listrik pada tahun 2022 di Eropa . Raksasa mobil Amerika Ford mengatakan bahwa pada tahun 2030, semua kendaraan penumpang yang dijual di Eropa adalah mobil listrik.

Ford juga mengklaim bahwa dua pertiga dari semua kendaraan komersialnya akan menjadi kendaraan listrik atau hybrid pada tahun yang sama. Produsen mobil terlaris Prancis, Renault, mengungkapkan rencana mereka untuk mengkonversi  90% kendaraannya menjadi sepenuhnya listrik pada tahun 2030.

Perlombaan menuju masa depan ini sedang memanas. Jadi, inilah 3 cara untuk memajukan industri EV hanya dalam satu tahun:

1. Jadilah pintar (manufaktur)
Perusahaan rintisan raksasa teknologi dan unicorn dari Silicon Valley, Inggris, dan Cina, tanpa diragukan lagi, mendisrupsi pasar kendaraan listrik (EV). Mereka mau menggunakan kemampuan digitalisasi dan otomatisasi canggih, dan oleh karenanya, mereka mampu mengurangi waktu ke pasar dari beberapa tahun menjadi hanya tiga bulan.

Para disruptor ini mendapat keuntungan dari fakta bahwa volume pesanan EV yang masih rendah, dimana kecepatan menyalip skala menjadi faktor kunci dalam manufaktur otomotif-- pada kenyataannya, desain mobil baru
90% produksi suku cadang otomotif dari kendaraan ICE saat ini tidak akan terpakai di kendaraan listrik. Produsen mobil listrik juga tidak terlalu bergantung pada rantai pasokan saat ini dan pabrik manufaktur massal.

Elektrifikasi dan digitalisasi transportasi mendorong gangguan seismik terhadap monopoli otomotif tradisional, rantai pasok, portofolio produk dan model manufaktur.
Namun elektrifikasi adalah pengganggu terbesar industri otomotif dalam 5 dekade terakhir.

Tetapi banyak produsen mobil tradisional berjuang dengan warisan sistem yang tidak fleksibel yang tidak terbukti di masa depan. Penelitian kami menegaskan bahwa meskipun hampir setengah dari industri otomotif meningkatkan investasi dalam manufaktur cerdas dan strategi Industri 4.0, 52% industri masih belum memiliki rencana untuk berinvestasi lebih banyak.

Itu bukan kabar baik, karena manufaktur cerdas sangat penting untuk menyelesaikan banyak tantangan yang mereka hadapi, seperti mempercepat waktu ke pasar, mengganti fasilitas manufaktur linier yang besar dengan lini perakitan yang ramping dan mudah beradaptasi, dan menciptakan manufaktur dan produksi yang lebih otomatis, efisien dan produktif. mencapai keseimbangan yang tepat antara harga dan performa, laba dan planet.

Dengan demikian, untuk bisa mencapai garis kemenangan dalam balapan EV ini, perusahaan Anda tidak hanya perlu bekerja keras, tetapi juga bekerja cerdas.

2. Mengadvokasi, mendidik & mengintegrasikan… secara holistik
Tidak mudah untuk melibatkan semua orang --dengan sengaja-- tetapi dorongan untuk EV perlu didukung oleh advokasi dan pendidikan di seluruh industri yang mencakup tidak hanya produsen mobil, tetapi juga regulator, pembuat kebijakan dan konsumen.

Produsen mobil dan regulator perlu bekerja sama untuk menciptakan ekosistem yang kondusif untuk adopsi dan penggunaan EV, sambil secara bersamaan berfokus pada industri terkait lainnya seperti energi dan pertambangan.

Sebagai ilustrasi, pembahasan soal EV belum holistik sampai kita juga berbicara tentang energi terbarukan sebagai sumber pengisian baterai EV, misalnya. Atau, dalam penambangan rare earth materials yang dibutuhkan untuk baterai ini-- tindakan harus diambil untuk memastikan bahwa praktik penambangan tidak meninggalkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Semua ini harus dipertimbangkan bersama-sama, bergandengan tangan, sebagai bagian dari advokasi, sambil membantah mitos seputar EV untuk konsumen; misalnya, bahwa tenaga dan kecepatan EV kecil, atau bahwa EV memiliki jangkauan yang sangat terbatas.

Produsen mobil, regulator, dan pemimpin industri terkait dapat dan harus membicarakan tantangan yang mereka hadapi, terlibat satu sama lain, dan berkolaborasi untuk berbagi praktik terbaik industri ini. Perjalanan menuju elektrifikasi tidak bisa dilakukan sendiri atau secara silo.

3. Mempermanis pot
Apa yang dibutuhkan konsumen dan produsen mobil untuk lebih memilih EV daripada ICE? Meskipun ini adalah proses yang berkelanjutan, jawabannya sangat jelas: Insentif sangat membantu.

Meskipun penjualan mobil secara keseluruhan turun 16% selama pandemi, pendaftaran mobil listrik tumbuh sebesar 41% pada tahun 2020, menurut Badan Energi Internasional (IEA). Artinya, ada sekitar 10 juta kendaraan listrik yang memenuhi jalanan di dunia pada akhir tahun lalu.

Tingkat kesadaran yang meningkat tentang perubahan iklim dan dampak lingkungan membuat banyak orang bersedia menukar ICE mereka dengan mobil listrik, atau bahkan mobil hybrid.

Di seluruh dunia, pemerintah menghabiskan sebanyak US$14 miliar untuk mendukung penjualan mobil listrik, naik 25% dari 2019, sebagian besar dari insentif yang lebih kuat di Eropa.

Insentif ini bisa bentuk potongan pajak untuk produsen dan konsumen, diskon harga mobil yang dikemas dengan layanan purna jual, pajak jalan yang lebih murah atau premi asuransi. Insentif ini bersifat jangka pendek, tidak memerlukan debat kebijakan yang berlarut-larut dan pelaku sektor swasta dapat didorong untuk memimpin dalam membuat EV lebih menarik bagi pengguna.

Perlombaan untuk otomotif bersih 100% harus dipercepat dan itu bisa dilakukan, dengan menggunakan perspektif global Hexagon dan pemahaman menyeluruh tentang pengembangan dan manufaktur otomotif untuk menetapkan standar yang lebih tinggi bagi industri ini.

Tujuan kami adalah membantu produsen bangkit untuk memenuhi revolusi e-mobilitas, membuat transisi ke pasar otomotif yang bersih menjadi lebih efektif, dan mencapai sasaran EV 100% lebih cepat. Kami menawarkan pendekatan terpadu pada industri untuk meningkatkan, mempercepat, dan menyederhanakan pengembangan kendaraan listrik, teknologi transisi hybrid, dan model energi otomotif yang bersih.

Jadi, seiring dengan berkembangnya mobilitas untuk memenuhi perubahan kebutuhan pelanggan saat ini, kemampuan untuk beradaptasi dan memberikan inovasi yang relevan dengan cepat, berkelanjutan, terjangkau dengan cara yang aman akan menjadi faktor keberhasilan yang penting.

 

Oleh: Terrence Lim, General Manager untuk ASEAN dan Pasifik, Hexagon Manufacturing Intelligence

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Dunia Properti Kembali Bergairah, Saatnya Beli Rumah

Kamis, 18 Agustus 2022 - 08:06 WIB

Dunia Properti Kembali Bergairah, Saatnya Beli Rumah

Jakarta-Sepanjang semester I tahun 2022 investasi di bidang properti mengalami pertumbuhan yang positif dengan nilai Rp 584,6 triliun atau tumbuh 8,8 persen. Hal ini terjadi sering mulai pulihnya…

Mentan SYL di HUT RI

Kamis, 18 Agustus 2022 - 07:59 WIB

Mentan SYL Sampaikan Terimakasih Kepada Para Petani

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) menyampaikan terimakasih atas perjuangan para petani yang selama ini terus berproduksi.

Kementan MoU dengan Nestle

Kamis, 18 Agustus 2022 - 07:09 WIB

Kementan Gandeng PT. Nestle Tingkatkan Produksi Susu di Indonesia

Dalam rangka meningkatkan produksi susu di Indonesia, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan menggandeng PT. Nestle Indonesia.

Penyanyi Cilik Farel Prayoga Sanggup Goyangkan Sejumlah Menteri Kabinet

Kamis, 18 Agustus 2022 - 06:08 WIB

Penyanyi Cilik Farel Prayoga Sanggup Goyangkan Sejumlah Menteri Kabinet

Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, pada Rabu, 17 Agustus 2022, tidak hanya berlangsung khidmat, tapi juga meriah. Selain…

 Purnawirawan Angkatan Laut Gelar Upacara HUT RI 77 di KRI Semarang

Kamis, 18 Agustus 2022 - 06:00 WIB

Purnawirawan Angkatan Laut Gelar Upacara HUT RI 77 di KRI Semarang

Persatuan Purnawirawan Angkatan Laut (PPAL) akan terus berkontribusi untuk bangsa," demikian disampaikan Ketua Umum PPAL Laksamana TNI (Purn) Siwi Sukma Adji, S.E., M.M. kepada awak media sesaat…