INDUSTRY.co.id - Jakarta - Krisis ekonomi global akibat wabah virus Corona atau pandemi Covid-19, berdampak pada hampir semua sector ekonomi.
Pemerintah Indonesia melalui berbagai kebijakan ekonomi dan politis berusaha mengatasi situasi selama pandemic covid-19 berlangsung, salah satunya Program Kartu Prakerja.
Kartu Prakerja dimaksudkan tidak hanya untuk peningkatkaan kompetensi, tapi juga membantu para peserta menjadi wirausahawan. Tujuannya tentu saja menekan angka pengangguran dan kemiskinan.
Berjalan selama dua tahun, Program Kartu Prakerja memperoleh apresiasi dan pengakuan dari dunia internasional. Pasalnya program ini menjadi salah satu program Pemulihan Ekonomi Nasional yang berhasil dalam merespons cepat dampak sosial ekonomi pandemi COVID-19.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto menjelaskan, Kartu Prakerja merupakan program skilling, upskilling dan reskilling bagi tenaga kerja Indonesia dengan pendekatan digital end-to-end yang terselenggara atas kerja sama kemitraan antara pemerintah-swasta. Digital end-to-end menjadi yang pertama di Indonesia.
“Sebagai program semi-bansos, Kartu Prakerja tidak hanya membantu para pekerja yang terkena PHK di masa pandemi dan meningkatkan keterampilan angkatan kerja. Namun secara luas juga ikut melahirkan wirausahawan muda yang tangguh dan membuka lapangan pekerjaan baru,” kata Menko Airlangga dalam paparanya tentang Program Kartu Prakerja di International Conference on Adult Education (CONFINTEA VII), yang diselenggarakan secara hybrid kerja sama Kerajaan Maroko dengan UNESCO, di Makkaresh - Maroko (15-17 Juni 2022).
Program ini, tambah Menko, juga mengadopsi metode kerja “start-up” dengan menciptakan produk yang berpusat pada konsumen untuk menjawab “pain point” pengguna, yaitu keterbatasan keterampilan, daya beli rendah, akses terbatas ke penyedia pelatihan, dan informasi asimetris.
Melalui program ini juga, sangat memungkinkan pemuda produktif selektif, berusia antara 18 hingga 64 tahun untuk mendapatkan dukungan negara dalam bentuk pelatihan dan insentif tunai, semuanya melalui akses digital end-to-end.
Dalam dua tahun pelaksanannya, program Kartu Prakerja ini telah menunjukkan beberapa hasil yang sangat menggembirakan. Pertama, inklusivitasnya.
Dalam kurun waktu 2 tahun pelaksanaan, ada lebih dari 12,8 juta orang telah menjadi penerima Kartu Prakerja, dengan beberapa temuan menarik seperti: 2% adalah penyandang disabilitas; 18% lulusan sekolah dasar atau di bawah itu; 62% berasal dari daerah pedesaan; 3% adalah mantan buruh migran; 49% adalah perempuan; 90% dari mereka tidak bekerja saat mendaftar. Sedangkan 85% dari 10% yang bekerja, bekerja di sektor informal sebagai karyawan atau pemilik usaha kecil.
Kedua, Skema pelatihan yang efektif. Airlangga menjelaskan Dalam ekosistem Kartu Prakerja, terdapat lebih dari 150 penyedia pelatihan yang menawarkan lebih dari 1.000 kursus pelatihan, diantaranya bidang Penjualan & pemasaran, entri data, pembukuan, layanan pelanggan, keterampilan komputer dasar untuk kantor menjadi salah satu kursus pelatihan pilihan terfavorit. Pelatihan dengan peringkat kualitas tinggi, dengan peringkat 4,9 dari 5.
Ketiga, yakni insentif. Insentif uang tunai hanya diberikan ketika pengguna menyelesaikan pelatihan dan umpan balik mereka, yang menjadikannya program transfer tunai bersyarat.
“Semangat suara dan pilihan memungkinkan penerima Kartu Prakerja untuk memilih metode yang lebih familiar; dengan Bank atau E-wallet. Kedua metode tersebut tunduk pada identitas pribadi mereka dan melalui metode e-KYC standar, Menjadikan Program Kartu Prakerja sebagai pembayaran G2P pertama dengan mode consumer centric, transparan dan seamless (tanpa gangguan),” terang Airlangga.
Dari data yang kami terima, lanjutnya, 93% pengguna memilih menggunakan e-money dan 28% pengguna baru mengenal rekening bank dan e-money. Dengan cara ini, Kartu Prakerja mempercepat inklusi keuangan bagi mereka yang berada di bawah piramida.
Diakhir pemaparannya Airlangga mengakui bahwa regulasi negara bersifat kompleks dan terancam menghambat inovasi, termasuk dari front digital. Koordinasi antar lembaga seringkali sulit dilakukan. Namun kombinasi pendekatan regulasi dari atas ke bawah (top-down), mulai dari Perpres, Permenko, dan Menkeu mendukung program ini, dengan melibatkan 13 lembaga besar termasuk penegak hukum.
Instansi pelaksananya adalah Project Management Office (PMO) yang tangkas, di mana hampir semua pekerjanya berasal dari sektor swasta dan perusahaan digital yang memiliki pengalaman dan budaya untuk mengembangkan produk digital.
Hal ini membuat Kartu Prakerja kuat dari sisi pemerintah, namun memiliki gen dinamis dari sisi implementasi untuk mendorongnya maju.
Keberhasilan dari kartu Prakerja ini, tambah Airlangga, tidak terlepas dari operasi berbasis data. Berdasarkan umpan balik yang teratur yang kami dapatkan, kami melakukan peningkatan yang gesit untuk terus melanjutkan program.
Disisi lain, kemitraan. Melalui kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta membuat banyak hal terwujud. Project Management Office Program Kartu Prakerja memainkan peran penting sebagai hub pusat, mengatur dan memfasilitasi semua orang dalam satu ekosistem, sekaligus memberikan nilai tambah bagi pengguna.
Terakhir namun tidak kalah pentingnya, Anggaran. Program tidak akan berjalan tanpa dukungan APBN. Sepanjang periode 2020-2022, dukungan negara terhadap Program Kartu Prakerja sangat besar, antara lain karena kepercayaan kita terhadap tata kelola dan hasilnya.
“Dengan banyak hasil positif yang datang dari beberapa penelitian yang dilakukan, kami bergerak untuk melihat sumber pendapatan alternatif yang layak secara ekonomi. Berdasarkan salah satu studi, kami yakin bahwa laju pengembalian investasi pelatihan tinggi,” pungkas Airlangga.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Kepulauan Solomon Lanelle Olandrea Tanangada melihat program ini sangat menarik untuk negara kepulauan Solomon.
Menurutnya, memiliki program seperti ini merupakan inisiatif yang bagus. "Jadi kita bisa tahu rincian persentase dari berbagai kelompok masyarakat dan mengetahuinya akan membantu kita menunjuk masyarakat secara individu, tidak hanya dari sektor formal, tapi juga mereka yang sudah bekerja di area-area lain,” ujarnya.
Senior Adviser (Non-resident), Project on Prosperity and Development Center For Strategic & International Studies (CSIS) Mr. Gabriel Sanchez-Zinny, mengaku sangat menyukai apa yang disampaikan menko perekonomian Indonesia, Airlangga Hartato.
Dikatakan Gabriel, apa yang disampaikan merupakan sebuah realitas nyata dengan menunjukkan angka-angkanya, hasilnya, dan fokus kepada pencapaiannya.
“Itulah yang kita perlukan dalam bidang edukasi. Pencapaian dan rasa urgensi yang membantu siswa-siswi, terutama yang mereka yang membutuhkan. Jadi, terima kasih banyak dan selamat!,” ujar Mantan Pendidikan Buenos Aires, Argentina.
Pada kesempatan terpisah, perwakilan dari Indonesia, Senior Advisor Kartu Prakerja Indonesia Eric S. Darmanto berbincang dengan Direktur UNESCO, Dr. David Atchoarena.
Melalui David, UNESCO menyampaikan rasa senangnya telah melibatkan Indonesia dalam acara CONFINTEA VII.
“UNESCO sangat senang dengan Indonesia dalam hal partisipasi dan keterlibatannya yang mendalam dalam proses CONFINTEA. Kami juga sangat berterimakasih atas berbagai inisiatif yang telah diambil Indonesia di berbagai bidang, yaitu dibidang pendidikan, sebagaimana kita ketahui, maupun di bidang pelatihan ketrampilan dan Strategi di G 20”, ucap David.
Atas rasa puasnya, UNESCO bermaksud untuk melanjutkan kerja sama dengan Indonesia.
“Jadi, kami tertarik untuk melanjutkan juga, dialog dan kerjasama ini dengan Indonesia, tentu saja, dalam acara CONFINTEA. Ini adalah momen penting bahwa kita dapat berkumpul dan membicarakan kerangka kerja, yang nantinya dapat dijadikan acuan bagi negara anggota untuk lebih memperkuat kebijakan dan keterlibatan mereka untuk pendidikan sebagai landasan SGD 4,” papar David.
Saat menanggapi program Kartu prakerja Indonesia, UNESCO memandang bahwa Program Kartu Prakerja memiliki banyak pelajaran yang dapat dipelajari negara lain dari pengalaman Indonesia dalam hal merespon positif pasar tenaga kerja yang terpuruk terhadap pengaruh COVID 19, dan memberikan solusi terkait banyaknya tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan, ekonomi secara umum dan bidang pendidikan yaitu masalah putus sekolah.
“Program Kartu Prakerja ini memang merupakan pengalaman yang sangat menarik dan kami juga senang mengetahui dan melihat bahwa itu telah melewati tahap evaluasi. Dimana banyak negara telah mengembangkan trans darurat pemulihan setelah COVID-19, agar perekonomian suatu negara secara umum dapat bangkit dan mempercepat pemulihan untuk benar-benar menyesuaikan dan kembali ke siklus pembangunan sebelumnya," katanya.
"Jadi, sangat menarik untuk kita pelajari tentang konteks dan kerangka Indonesia, yang telah mengembangkan program khusus berskala besar untuk benar-benar menjawab tantangan terkait dampak Covid 19 terhadap pasar tenaga kerja, pekerja, dan ekonomi secara umum yaitu Kartu Prakerja," tambah David.
UNESCO mengatakan bahwa jenis inisiatif dari Program kartu Prakerja ini sangat penting, tidak hanya mengatasi masalah yang berkaitan dengan pulihnya pasar tenaga kerja, dan juga implementasinya, yang berdampak terhadap pekerjaan, upah, dan kelompok tertentu, khususnya, pada perempuan.
Hasilnya tidak hanya pekerjaan yang layak tetapi pekerjaan yang berkelanjutan dengan juga tingkat pendapatan yang baik bagi pekerja.
“Kita tahu bahwa dampak Covid 19 sangat kuat, terutama pada kaum perempuan, di banyak negara risiko tersebut mengakibatkan ketimpangan yang semakin dalam, terutama hal gender. Dan melalui program Kartu Prakerja yang menargetkan juga pekerja perempuan, ini merupakan cara untuk memastikan bahwa krisis ini tidak akan membawa dampak negatif jangka panjang pada gender dan ketidaksetaraan. Jadi ini adalah sesuatu yang tidak hanya perlu dicatat, tetapi saya pikir, kami memiliki banyak pelajaran yang dapat dipelajari untuk negara lain dari pengalaman ini dalam hal merespon COVID 19 dan bagaimana ini melalui pendidikan, pelatihan dan keterampilan dapat benar-benar berkontribusi untuk memulihkan perekonomian," tutup David.