INDUSTRY.co.id - Jakarta-Sejak tahun lalu hingga akhir akhir April, permintaan kredit terbilang masih lesu seiring dengan belum pulihnya pertumbuhan ekonomi, meski Bank Indonesia tidak mengutak-atik level suku bunga sejak November tahun lalu, pertumbuhan kredit masih belum mampu menembus double digit. 

Transmisi kebijakan moneter yang mempertahankan suku bunga di level 4,75% baru berdampak terhadap permintaan kredit memasuki Mei 2017, diikuti dengan membaiknya rasio kredit bermasalah, sehingga secara keseluruhan industri perbankan sudah menunjukkan geliat perbaikan. Apalagi ditambah kenaikan rating Indonesia ke investment grade dari lembaga pemeringkat Standar and Poors, serta minggu lalu lembaga pemeringkat Moody's baru saja menaikkan outlook perbankan Indonesia dari stabil menjadi positif. Semua ini memberi dampak positif bagi saham-saham perbankan 

Menurut Analis PT Bahana Sekuritas Henry Wibowo, permintaan kredit akan semakin membaik pada semester dua tahun ini, diiringi dengan perbaikan rasio kredit bermasalah yang sudah akan mencapai puncaknya pada semester satu. ''Rasio kredit bermasalah beberapa bank sudah mencapai puncaknya pada kuartal pertama yang lalu, sisanya mengkin terjadi pada akhir semester satu sehingga secara keseluruhan kondisi terburuk sudah berlalu,'' katanya.

Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan permintaan kredit pada akhir Mei lalu sudah tumbuh 10,4% secara tahunan, ini adalah pertumbuhan double digit pertama sejak 15 bulan terakhir, kredit terutama disalurkan untuk modal kerja, yang artinya korporasi mulai melakukan ekspansi usaha, setelah kondisi politik di dalam negeri mereda. Bahana memperkirakan kredit sepanjang tahun ini akan tumbuh sekitar 12% secara tahunan seiring dengan perekonomian yang diperkirakan tumbuh sekitar 5,3%. 

Melihat prospek perbankan yang sudah menggeliat, perusahaan Sekuritas milik negera ini merekomendasikan beli untuk beberapa bank dengan top pick diantaranya Bank Mandiri (BMRI) dan Bank Negara Indonesia (BBNI) untuk big cap banks, dan Bank Danamon (BDMN) dan Bank CIMB Niaga (BNGA) untuk small & mid cap banks. 

Bank Mandiri dan Bank Negara Indonesia

Kedua bank milik negara ini diuntungkan dengan bergulirnya berbagai proyek infrastruktur sehingga pembiayaan kepada proyek infrastruktur masih akan terus mengalir, di sisi lain dengan angka kredit bermasalah yang turun, Bank Mandiri sudah bisa mengurangi biaya provisi yang pada akhirnya akan membantu meningkatkan laba bersih perseroan.

Bahana memperkirakan bank BUMN berkode BMRI akan membukukan laba bersih Rp20,5triliun atau naik sebesar 48% secara tahunan, dengan perolehan NIM sekitar 6,1% pada akhir 2017. Sedangkan rasio kredit bermasalah atau yang lebih dikenal dengan non-performing loans (NPL) gross diperkirakan akan turun menjadi 3,5% dari periode yang sama tahun lalu sebesar 4,0%. Bahana merekomendasikan beli dengan target harga Rp 15.000 per lembar saham. 

Sementara itu, Bank Negara Indonesia diperkirakan akan membukukan pertumbuhan kredit sebesar 15,4% pada akhir 2017, dibanding akhir tahun lalu, dengan rasio kredit bermasalah secara gross turun menjadi 2,7% dibandingkan tahun lalu sebesar 3,0%. Sehingga bank berkode BBNI ini bakal mengantongi laba bersih sebesar Rp 13,3 triliun atau naik sebesar 17,4% dibandingkan tahun lalu. Bahana merekomendasikan beli dengan target harga Rp 8.000 per lembar saham. 

Bank Danamon dan Bank CIMB Niaga 

Kedua bank ini bagi Bahana Sekuritas cukup prospek karena baru saja dinahkodai oleh CEO baru yang sangat berpengalaman dan profesional. Bank Danamon dipimpin oleh Sng Seow Wah yang sebelumnya cukup sukses membenahi anak usaha Temasek di Malaysia bernama Alliance Bank Malaysia. 

Melalui keberadaan CEO baru ini, diharapkan Danamon akan lebih fokus mengembangkan fokus bisnis yang menjadi andalannya seperti pembiayaan untuk usaha menengah-kecil dan mengembangkan anak usahanya Adira finance karena saat ini penjualan Mobil sudah kembali bergulir seiring dengan membaiknya konsumsi masyarakat kelas menengah-atas. 

Melalui strategi baru ini, bank swasta berkode BDMN ini bakal membukukan laba bersih sebesar Rp 3,84 triliun atau naik sebesar 44% dibandingkan perolehan tahun lalu. Rasio kredit bermasalah diperkirakan turun menjadi 3,2%, dibandingkan rasio tahun lalu sebesar 3,5%. Bahana merekomendasikan beli dengan target harga Rp 5.900 per lembar saham. 

Sedangkan Bank CIMB Niaga yang baru dinahkodai oleh Tigor Siahaan, yang sebelumnya cukup berhasil di Citibank Indonesia memiliki pengalaman yang mumpuni dalam mengelola bisnis perbankan. Di bawah kepemimpinan CEO baru, bank swasta milik Malaysia ini secara perlahan dan pasti mengurangi porsi dana-dana mahal sehingga porsi dana-dana murah dari tabungan semakin meningkat. Saat ini porsi dana murah sudah naik menjadi 55.7% (as per 1Q 2017), dibandingkan posisi FY2015 sebesar 46.8%. 

Pertumbuhan kredit juga masih mengalir dengan risiko yang terkendali sehingga biaya provisi berkurang, dan pada akhirnya mampu meningkatkan laba bersih. Bahana memperkirakan pada akhir 2017, perolehan laba bersih akan mencapai Rp2,74 triliun atau tumbuh 31.4% dibandingkan tahun lalu. NPL gross diperkirakan turun menjadi 3,0% dibandingkan 3,9% pada akhir 2016.

Melihat prospek bisnis bank berkode saham BNGA ini, Bahana merekomendasikan beli dengan target harga Rp 1.500 per lembar saham.