INDUSTRY.co.id - Jakarta - Ketua Hubungan Antar Lembaga Induk Koperasi Pedagang Pasar (INKOPPAS) Andrian Lame Muhar mengatakan, menjelang hari raya Idul Adha penjualan daging sapi dipasar terkendala masalah harga yang sangat tinggi. Hal itu diakibatkan anakan sapi yang diimpor dari luar negeri khususnya Australia dan New Zealand, kemudian di besarkan di Indonesia baru masuk RPH untuk dipotong.

"Namun terkait sapi buat Kurban yang biasanya sapi-sapi lokal dengan adanya Penyakit Mulut Kuku (PMK) itu yang sekarang sedang merambah di peternak sapi, otomatis sapi lokal kita untuk dijual saat Idul Adha ini pasti akan berkurang, dan kalau misalnya diambil dari sapi yang anakan luar negeri itu sangat mahal. Otomatis mungkin masa Idul Adha ini para umat muslim yang membeli sapi hidup akan lebih mahal, dengan adanya penyakit tersebut sehingga hasil peternakan nya menurun, " kata Andrian yang dikutip INDUSTRY.co.id, Senin (30/5/2022).

Dia mengatakan, beda halnya dengan pedagang pasar tidak berpengaruh karena pedagang fokus dengan sapi-sapi impor karena sapi lokal kita itu dengan komposisi sapi dipotong itu sekitar 43% bisa dijual sisanya itu residunya tidak bisa dimanfaatkan.

"Lebih cenderung pedagang kita itu  mendatangkan sapi-sapi dari impor tetapi Pemerintah kan sedang membantu supaya daging ini bisa stabil dengan memasukan impor daging kerbau dari India berupa karkas dagingnya daging beku sehingga bisa ditoing di pedagang pasar yang harganya relatif lebih murah, " tandas Andrian.

"Mudah-mudahan itu bisa menjadi situsi atau dicampur dagingnya cara main pedagang sehimgga harganya juga tidak terlalu tinggi. juga BUMN Berdikari juga mengimpor sapi Brazil dan pedagang-pedagang kami itu lebih banyak sapi-sapi impor sangat sedikit sapi lokal sehingga permasalahan  penyakit Mulut Kuku tadi impact kepada kami kayanya cukup kecil mungkin impact urusan pada acara Idul Adha saja, " Pungkasnya.