INDUSTRY.co.id - Jakarta - Menjelang lebaran H-4 harga-harga kebutuhan Hari Raya Idul Fitri 1443 H kembali merangkak naik, hal ini menjadi informasi yang telah terbiasa dikalangan masyarakat yang memenuhi kebutuhan bahan pokok lebaran yang sebentar lagi tiba. Dari kebutuhan sembako ini, yang menjadi primadona adalah hadirnya minyak goreng sangat dibutuhkan jelang Ramadhan dan lebaran tiba.
Induk Koperasi Pedagang Pasar (INKOPPAS) menyebutkan, sampai saat ini kondisi minyak goreng non subsidi masih yang sangat tinggi dipasaran.
Ketua Bidang Antar Hubungan INKOPPAS Andrian Lame Muhar, SE. Msi mengatakan, untuk minyak goreng kemasan 2 liter saat ini harganya masih berada dikisaran Rp 48.000 sampai dengan Rp 50.000. Saat ini pemerintah sudah mengeluarkan minyak goreng subsidi yang dilakukan oleh produsen-produsen yang tergabung dalam Asosiasi, sekarang Inkoppas sedang bekerja sama dengan Gimmi (Gabungan Industri Minyak Nabati indonesia) untuk menyalurkan minyak goreng subsidi ke beberapa daerah seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, Bengkulu, Balikpapan.
"Kemudian Dumai yang sekarang kami sedang berproses, karena minyak goreng subsidi itukan kita harus mendaftarkan yang D1 dan D2 nya ke Kemenperin. Mudah-mudahan saja sebelum lebaran ini bisa kita kejar supaya bisa didistribusikan ke masyarakat, " kata Ketua Bidang Antar Hubungan INKOPPAS Andrian Lame yang dikutip INDUSTRY.co.id, Kamis (28/4/2022).
"Kebetulan masalah minyak goreng subsidi inikan terkait masalah pendistribusian nya kan sangat masif, mudah-mudahan INKOPPAS yang ditunjuk untuk pendistribusiannya. Dan kemarin juga dari Polri sudah bekerja sama dengan kita memperdayakan APPSI dengan INKOPPAS untuk pendistrusikan minyak goreng subsidi. Mudah-mudahan apa yang kita kerjasamakan dengan baik anatara Polri, INKOPPAS, APPSI dan Kemenperin bisa berjalan dengan baik, karena namanya subsidi kan ada rembes ke Pemerintah yang seharusnya harga tinggi dirembes oleh Pemerintah seperti itu, " ucap Andrian.
Andrian mengatakan, yang menjadi kendala untuk pendistribusikan minyak goreng subsidi tersebut adalah adanya aturan-aturan yang diberlakukan, "Contohnya kita harus mendaftarkan D1, D2 nya ke Kemenperin nah itu kita masukan kedalam program SIMIRAH itu yang produsen-produsen yang mendaftarkan kami kemudian setelah itu kita mendapatakan barcode, dimana setelah memakai barcode di tandain minyak goreng subsidi ini kemana di pasarkannya, kemudian market apa yang didapat, " tukasnya.
Karena, menurut Andrian Lame, Pemerintah harus tahu minyak goreng ini kemana minyak goreng tersalurkan, " Makanya masalah minyak goreng sangat unik, Pertama sekarang itu sudah menjadi harga patokan khusus di angka 18.000/liter sampai di angka 26.000 kemarin juga kan kata Pak Presiden Jokowi sudah bilang di stop untuk ekspor CPO , " ujar Andrian.
"Kemudian juga di stop ekspor minyak goreng yang dikonsumsi tapi kenyataannya harga masih tinggi mungkin salah satu faktornya adalah waktu awal produsen itu membeli tandan ke petani itu sudah tinggi harganya sehingga dan sekarang harus mengabiskan produksi itu, walaupun sekarang harga sawit tandan itu sudah menurun sehingga produsen sawit sudah mulai memnurunkan harga untuk masalah produksinya seperti itu, " kata Andrian.
Dia berharap produsen tidak bermain di harga beli tandan kelapa sawit yang murah tetapi jualnya tetap tinggi "Itu yang bahaya," kata Andrian Lame.
Tetapi, menurut Andrian, hal ini bagaikan pedang bermata dua juga dengan ekspor. Pemerintah mendapat pajak disimpan oleh pemerintah untuk membackup subsidi minyak goreng. "Kalau ekspornya di stop pastikan pajak untuk subsidi itu otomatis terhenti sehingga nanti pemerintah akan kekurangan dana disitu otomatis pemerintah akan mengadakan subsidi kembali akan mengurangi APBN , Subsisdi inikan tidak mengunakan APBN dari pajak-pajak yang disimpan ekspornya para produsen yang mengekspor sawit," ujarnya.
Dari data yang ada, kata Andrian, hasil produksi dari produsen seluruh Indonesia adalah 24 juta ton, dari hasil produksi tersebut komsumsi masyarakat diperkirakan sebesar 7 juta ton. Menurutnya spare sisa dari konsumsi masyarakat itu bisa di ekspor.
"Seharusnya seperti itu yah dalam logika berfikirnya, jadi kenapa kok 7 juta ini menjadi momok buat produsen apakah ada kartel-kertel yang bermain, saya kurang paham yah. Apakah semuanya itu di ekspor karena harga itu menarik untuk diekspor sehingga semua didorong kesana atau memang karena harga produksi mereka yang sangat tinggi," ujarnya.
"Jadi kalau stop ekspor saya rasa nanti akan menjadi pedang bermata dua jadi nanti pajak yang diperbantukan subsidi untuk masyarakat, maka dengan alasan kita tidak bisa ekspor karena denagan alasan hasil pajak ekspor begitukan sehingga nanti di ambil dari APBN kembali. Jadi menurut saya mungkin maksudnya Pemerintah itukan memberikan peringatan keras kalau kalian itu masih mau ekspor tolong bagaimana ceritanya bantu harga minyak goreng ini bisa turun itu secara psikologisnya, tapi sampai saat ini masih ekspor-ekspor saja masih jalan saja," kata Andrian.
Dia mengatakan, saat ini yang menarik itu adalah minyak goreng, daging kerbau dan daging sapi. Andrian membeberkan, saat ini harga daging sapi dipasaran sudah naik dari Rp 140.000 menjadi Rp165.000 dan tembus hingga Rp185.000. Dari angka tersebut, dirinya mempertanyakanan kenapa kenaikan harga daging bisa terjadi, sedangkan pemerintah sedang mengintitusi daging sapi menjadi daging kerbau india impor yang harganya jauh lebih murah dengan asumsi kalau itu dilempar kemasyarakat itu bisa menstabilkan harga.
"Bisa dikepang, istilahnya bisa di mix dengan daging sapi sehingga harga nya bisa turun, tetapi kenyataanya kalau versinya Bulog adalah daging kerbau ini sesuai dengan peraturan Kementerian Pertanian katanya buat diolah jadi bukan buat dijual di pasar nah ini kita bingung juga nih, " ujarnya.
Sedangakan, menurutnya, di pasar-pasar berhembus isu daging-daging kerbau yang di mix dengan daging sapi sehingga harganya bisa turun dari Bulog khususnya dari BUMN , "yang juga katanya habis lebaran masuk di impor Indianya, akhirnya itu daging sapi melonjak naik karena pedagang bilang tidak ada yang bisa di kepang dengan daging apa agar lebih murah, sedangkan sekarang harga daging sapi hidup itu sudah menembus harag 55ribu per Kg , sedangkan daging sapi itu dipotong cuman bisa dijual 45% dari beratnya," katanya.
"Jadi kalau memang 45% kan harga itu bisa naik 2kali lipat, kan seperti itu hitungan nya mereka , jadi kalau sapi itu bisa 400Kg tidak utuh-utuh bisa di jual semua pastinya akan ada tulang, ada mata, ada organ lainnya, jadi tidak sampai 45 persen kalau sapi lokal. kalau sapi impor yang dari New Zealand daging masih bagus, tulangnya kecil, kulitnya tipis itu bisa mencapai 55% sampai 60% dari beratnya," ujarnya
Dia menghimbau masyarakat untuk tidak panik, "Insya Allah pemerintah pasti bekerja dengan baik supaya harga ini hisa terjangkau, bukan bahasa stabil yah, bisa terjangkau yang terpenting yang pertama barang-barang sembako menuju hari raya idul fitri ini jangan sampai langka dulu, kemudian berharap masyarakat bisa terjangakau sehingga bisa dibeli seperti itu," katanya.
"Tidak usah panik mudah-mudahan pemerintah bisa mengatasi dengan baik menjalani puasa inikan tinggal H-4, mudah-mudahan ada formula buat pemerintah supaya barang-barang sembako ini bisa terjangkau dan kemudian buat pedagang-pedagang kami jangan termakan issue, masalah issue daging kerbau yang akan masuk nyatanya kata Bulog habis lebaran, kemudian jangan termakan issue juga lagi minyak goreng murah mereka berbondong-bondong mencari minyak goreng murah karena minyak goreng bersubsidi itu boleh dijual khusus dengan menggunkan barcode dari kementerian Perindustian sehingga benar-benar diawasi sekali, " Pungkasnya.