INDUSTRY.co.id - Jakarta- Sejak usia 12 tahun Sita Soetanto sudah senang merancang busana, semua itu bermula dari ketidakpuasannya karena setiap menjahit baju tidak pernah cocok lantaran si penjahit tidak memahami apa yang ia mau

Advertisement

"Kalau menjahit baju, selalu nggak puas. Karena penjahit tidak paham apa yang saya mau, karena sering kecewa kemudian saya belajar mendisain dan menjahit sendiri." Ujar Sita Soetanto usai menggelar fashion busana muslim karyanya di acara Rhapsody Ramadan di hotel 101 Darmawangsa Jakarta Selatan Jumat (9/5/2022)

Setelah berkembang, kini Sita banyak melayani pesanan dari Ekspatriat dan 70 persen pelanggannya warga negara asing

Advertisement

"Yang pesan kebanyakan orang kedutaan dari Amerika Latin, seperti Argentina, Bradil, Chili dan Amerika," ungkap wanita ayu asal Surabaya ini.

Keberhasilannya meraih konsumen dari ekspatriat, bermula Sita diminta mendisain baju seragam karyawan Unicef dan ternyata rancangannya disukai pekerja Unicef sehingga dengan cepat dikenal dikalangan kedutaan besar mancanegara.

Advertisement

Lazimnya busana wanita luar, yang senang busana  serba terbuka, membuat Sita kemudian beralih ke busana muslim.

"Mungkin faktor usia yang tidak muda lagi, saya kemudian mencoba mendsain baju yang serba ketutup alias busana muslim," jelas Sita

Advertisement

Meski disain busana muslimnya banyak diminati masyarakat, tapi ia tidak melepas pesanan Busana western dari  yang serba terbuka.

"Itu kan penghasilan utama yang sudah dikenal luas, jadi nggak mungkin saya tinggalin." Tegas wanita yang dikaruniai dua anak ini.

Untuk mengembangkan bisnis busana muslimnya, Sita berencana akan menggelar pameran di Balkan.

"Disana kan banyak warga muslimnya, sehingga pas kalau saya menggelar acara disana. Doain Pandemi benar-benar melandai, sehingga saya bisa menggelar pameran di Balkan" tutup Sita Soetanto