INDUSTRY.co.id - Jakarta - Harga sembako diawal Ramadhan 2022 terus merangkak naik seiring kebutuhan masyarakat. Presiden Jokowi dalam kunjungan kerjanya jelang Ramadhan memberikan instruksi bahwa harga sembako agar tidak sampai naik. Hal ini sekaligus menjadi peringatan kepada jajaran bawahannya untuk tidak menaikan harga sembako di bulan suci Ramadhan.

Di minggu pertama bulan Ramadhan harga daging mengalami kenaikan hingga tembus harga Rp130.000. Diperkirakan, sebelum lebaran harganya bisa menanjak  sampai Rp 150.000.

"Mengenai daging sapi, kita berharap nanti Pemerintah ikut campur tangan, Pemerintah sekarang sudah mengimpor subtitusinya daging sapi dengan kerbau india yang di inisiasi oleh bulog mudah- mudahan saja, saya dapat info minggu kedua bulan april ini sudah datang kontainer daging kerbaunya, dan mudah- mudahan bisa menstabilkan harga daging, " kata Andrian Lame Muhar, SE, Msi, Ketua Bidang Antar Lembaga Induk Koperasi Pasar (INKOPPAS) yang dikutip INDUSTRY.co.id, Rabu (6/4/2022).

Andrian Lame berharap harga daging tidak melonjak terlalu tinggi, "karena kita tahu daging sapi kita sangat mahal, apalagi daging sapi lokal kita, di tambah lagi jika kita import anakan dari Australia juga masih tinggi harganya," tukasnya.

Selain daging, Andrian juga menyoroti masalah minyak goreng, "Alhamdullilah minyak goreng sudah tidak langka, yang penting tidak langka dulu, masalah harga, di redusnya bisa di skemakan Pemerintah bekerjasama dengan banyak stake holder terkait untuk menurunkan harganya, yang bahaya sudah harga tinggi terus langka, mau di cari di mana, sekarang minyak goreng sudah tidak langka, pelan- pelan janji Pak Menteri Perdagangan ingin menurunkan harga," kata Andrian.

Kemudian, menurut Andrian, yang sekarang mulai menjadi langka adalah daging sapi. Meski begitu, pemerintah sudah mengimport subtitusinya yaitu kerbau india, dan saat ini, menurut Andrian, harga daging ayam potong  juga sudah mulai naik.

Saat ini INKOPPAS sudah mengajukan surat permohonan untuk menjadi distributor untuk daging kerbau india sebesar 10.000 ton, meskipun menurut Andrian, kebutuhan di koppas- koppas lebih dari 70.000 ton.

"Untuk membantu koperasi pedagang pasar kami yang ada di pasar- pasar kami khususnya pedagang daging supaya mereka mendapatkan pasokan barang yaitu daging. Kita sudah mengajukan  kemudian kita juga sudah berkomunikasi beberapa partner kita yang juga mengajukan distribusi daging kerbau dari india ini, apabila mereka sudah datang lebih dahulu, berharap bisa membantu INKOPPAS buat menyalurkan ke pasar- pasar yang di bawah naungan kami," katanya

"Para pedagang daging mereka punya asosiasi, macam- macam kaya APDI, Jabdi, misal di INKOPPAS sendiri kita hanya melihat pedagang daging yang ada di koperasi koperasi pedagang pasar yang ada di pasar- pasar kami,  cukup banyak, perpasar kami ada sekitar satu pasar ada 10-20 pedagang daging sehinggga kami nanti menyebarkannya nelalui Koppas- Koppas, di setiap pasar pasti ada Koppas yang akan berkomuniasi pedagang- pedagang daging di bawahnya, " jelas Andrian.

Alasan daging sapi lokal tidak laku, menurut Andrian, adalah sapi hidup ketika dipotong hanya bisa menghasilkan daging sebanyak 45% dwngan harga Rp50.000. Sedangkan daging kerbau india dibanderol dengan harga Rp60.000. "Itu daging semua, Rp60.000 bisa di jual semua," katanya.

Sementara harga Beras, menurut Andrian, sampai saat ini stok masih cukup dan harganya dinilai masih stabil, jika ada kenaikan sedikit- sedikit, hal itu dinilai wajar mengingat ini menjelang hari raya.

Selain itu, lanjutnya, kebutuhan pokok seperti gula pasir sudah mulai naik tapi tidak signifikanlah yakni Rp13.000, walaupun HET 12 500. "Itu karena masa panennya belum, gula pasir masa panennya akhir mei sampai juni, kemarin kita sudah berkomunikasu dengan Asosiasi petani tebu, mereka bilang bulan juni ini Insya Allah akan panen sehingga nanti bahan dasar gula akan di olah menjadi GKP ( Gula Kristal Putih) bisa berjalan dengan baik," ujarnya.

Tetapi, lanjut Andrian, Pemerintah saat ini sepertinya sedang membuka import untuk gula rafinasi untuk  row matrialnya gula kristal putih. "Mudah- mudahan bisa cepat, Pemerintah bisa menanggapi hal tersebut dengan baik," katanya.

"Mengenai minyak INKOPPAS sudah di beri kepercayaan  dan Alhamdullilah minggu kemarin, melalui kawan - kawan kita yang berada di istana Wapres dipertemukan oleh Gabungan Minyak Nabati Indonesia ( Gimni), kebetulan saya langsung memimpin delegasinya beserta pengurus yang lain, " Imbuh Andrian.

Andrian menjelaskan, setelah menemui Bernard yang merupakan ketua Gabungan Industri Minyak Nabati Indinesia (GIMNI), INKOPPAS langsung dijanjikan untuk dibantu diberikan minyak curah subsidi yang kapasitqsnya mencapai 50 ton perhari. Jumlah ini, menurut Andrian, masih bisa bertambah.

"Sekarang INKOPPAS sedang mengajukan perizinan ke Kementrian Perindustrian  untuk mendapat izin barcodenya, kemudian nanti syarat-syarat yang di penuhi oleh beberapa produsen yang tergabung dalam Asosiasi tersebut itu akan di penuhi oleh Inkoppas, mudah - mudahan di pertengahan bulan april ini bisa menyalurkan minyak curah bersubsidi, ke Koppas- Koppas, ke pasar- pasar kami, yang anggotanya pedagang - pedagang pasar kami khususnya buat di Jakarta, jawa tengah, di Riau, Sumatra Barat, Bengkulu,  dan Jawa Timur, itu yang mungkin kita prioritaskan pertama dulu, " katanya.

Bicara soal harga, Andrian menyebut harga dari produsen sekitar Rp13.320 per Kg. Harga tersebut, menurutnya tidak boleh melebihi Rp15.500 per Kg atau tidak boleh lebih dari Rp14.000 per liter.

"Kita sudah berdiskusi dengan GIMNI  harga tersebut eceran tertinggi tidak boleh lewat Rp15.500. Sehingga dari Rp13.320 ke Rp15.500 per kg adalah untuk biaya-biaya seperti  tranportasi, biaya gudang dan lainnya, yang penting kita tidak boleh menjual di atas Rp15.500 per kg tapi kita mengambil dari produsen Rp13.320, per kg tinggal di konversi ke liter," katanya.